SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part 130


__ADS_3

Bismillah


        SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_130


#by: R.D.Lestari.


Gadis itu tertidur dengan wajah polosnya. James tau dalam lubuk hati Anima, ia bukanlah orang yang jahat. Hatinya baik, tapi tertutup rasa egois.


"An, maaf ... aku tak mungkin mencintaimu, hatiku sudah milik Rena," lirih James. Ia berbalik sembari melangkah pergi menjauhi Anima yang sudah ia selimuti.


Tanpa James sadari, gadis bermata sendu itu mendengarkan semua ucapan lelaki yang telah menjadi suaminya itu.


Kata demi kata yang terasa amat menyakitkan hatinya. Bagaimana bisa James mengucapkan nama perempuan lain saat bersamanya?


Perlahan, kelopak cantik mata berwarna biru laut itu terbuka dan berembun. Ia memperhatikan punggung tetap lelaki tampan yang sudah membuat dirinya bagaikan tak berarti.


"James ... bagaimana caranya agar bisa membuatmu membuka hati untukku?"


Srekk!


Anima bangkit dan terduduk di ranjang. Ia menggeser tubuhnya dan menurunkan kedua kakinya, ia kemudian berjalan ke arah kamar mandi mewahnya tanpa selembar kainpun.


Wanita berkulit putih bersih itu naik ke bathtub dan berendam dengan taburan mawar yang memang disiapkan sewaktu acara pernikahan.


Air matanya tumpah di sana. Berbaur dengan wanginya genangan air yang saat ini merendam tubuhnya.


Pikirannya melayang jauh di awang. Ia memeluk kakinya sendiri sembari terduduk. Sedih bercampur putus asa, merasa terabaikan dan tak ada artinya.


Bosan berendam, ia beranjak dan segera menyiapkan diri. Rasa lapar menyergap dirinya. Perutnya sakit karena sedari malam belum ia isi sedikitpun makanan.


Memakai dress hitam, Anima menuruni anak tangga dengan wajah murung dan lesu.


Indri yang tak sengaja lewat, menghentikan langkahnya. Ia sengaja menunggu Anima untuk bisa mengobrol dengan adik iparnya itu. Ia yakin ada sesuatu di antara mereka. Mengingat tadi pagi James pergi sendiri dengan wajah serupa, murung.


"An?" tegurnya.


"Pagi, Kak," Anima berusaha menyunggingkan senyum di wajah murungnya.  Ia tak mau orang serumah tau apa yang kini menimpanya.


Apalagi sejak awal Indri dan kakaknya yang kuat menentang perasaannya pada James. Sekarang ia baru merasakan jika perasaan lelaki itu memang kuat pada wanitanya.


"Ayo, sarapan. Kau pasti lapar," Indri dengan lembut merengkuh pundak Anima.


"James sudah lebih dulu sarapan bersama Kak Bima tadi," sebelum di tanya, Indri sudah lebih dulu memberi tau Anima. Adik iparnya itu hanya mengangguk pelan tanpa jawaban di bibir mungilnya.


Mereka duduk bersama, Ayah dan Ibu kebetulan sedang pergi, sehingga yang tersisa di rumah itu hanya Anima dan Indri.


Berulang kali Indri melirik adik iparnya yang berwajah murung dan tertunduk lesu. Perasaan gusar menyelusup relung hatinya. Pastilah sesuatu yang tidak mengenakkan menerpa Anima.


"Kamu kenapa, An? apa James menyakiti hatimu?" selidik Indri.


"Hmmh, ga Kak. Aku sepertinya sedang tidak enak badan," kilahnya.

__ADS_1


Indri menyorot mata Anima. Sedikitpun ia tak dapat membaca pikiran Anima.


"Jangan berupaya membaca pikiranku, Kak. Kami makhluk Uwentira bisa dengan mudah menutup tabir dan semua yang berkaitan dengan dunia kami sesuai apa yang kami inginkan. Jadi, percuma saja Kakak berusaha, tak ada gunanya,"


Dalam keadaan emosi, Anima bangkit dan melangkah meninggalkan Indri yang masih tertegun dengan ucapan iparnya itu. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? kenapa ia berubah seperti itu? mana Anima yang dulu?


***


Pluk!


Satu pukulan pelan mendarat di punggung James, hingga lelaki itu tersentak dan menatap ke arah belakang.


Nampak Gio yang menatapnya tajam seolah meminta penjelasan.


"Apa?" James menatap jutek.


"Kau yang apa-apaan, sudah nikah ngapain kesini sendiri. Bawa tu istri cantikmu," jawab Gio tak kalah jutek.


"Sebentar lagi dia juga minta pisah, Gi,"


"Hah? pisah? kau jangan main-main dengan pernikahan, James," Gio menatap tajam ke arah James. Ia benar-benar bingung dengan ucapan kakaknya itu.


Tempo hari James bersikeras ingin menikah dengan Anima. Berulang kali Gio meminta untuk berpikir ulang, James tetap kukuh dengan keputusannya.


Nah, sekarang? apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka?


***


Rena yang sudah mulai membaik, menatap jendela kamarnya yang terang karena tertembus sinar matahari pagi.


Sejak subuh ia sudah tak melihat James di ruangannya. Sri pun sudah pamit pulang sejak semalam.


Hanya Reno yang ada di ruangan. Tangannya tak lepas dari handphone. Seolah cuek dengan keadaan kakaknya dan tak perduli saat Rena mengajaknya berbicara.


Saking kesalnya dengan Reno, gadis itu berusaha untuk turun dari ranjang walaupun bekas luka yang ia derita masih terasa nyeri dan berdenyut.


Bugh!


"Aw!" jerit Rena. Reno yang sejak tadi asik bermain dengan ponselnya, terkejut dan langsung melihat kakaknya.


"Kakak!" pekik Reno. Ia segera beranjak dan mendekati kakaknya.


Rena tergeletak di lantai dengan perut yang berdarah. Sembari meringis kesakitan Rena menekan perutnya.


"Kakak!" Reno mengangkat kakaknya dengan hati-hati.


"Akh, Ren!"


"Tunggu! Kakak tunggu di sini!"


Reno berlarian mencari dokter dan juga suster. Ia sungguh khawatir dengan keadaan Rena.


Saat dokter dan suster masuk, Rena ...

__ADS_1


***


Berulangkali James melihat bayangan Rena yang menari dalam mimpinya. Seolah Rena memberi isyarat padanya. James terhenyak. Tanpa sadar ia berdiri dan mencari kunci mobilnya.


"Mau kemana lagi kau, James?" ucap Gio saat melihat kakaknya yang nampak sangat khawatir.


"Aku mau ke rumah sakit menemui Rena,"


"Kau ...,"


Gio menghentikan ucapannya saat melihat James yang sudah melesat meninggalkan rumah.


Ia hanya bisa geleng-geleng kepala. Kehidupan cinta James penuh dengan lika liku dan Gio hanya bisa berharap suatu saat James bisa bahagia seperti dirinya yang sebentar lagi akan bersanding dengan Sri, pujaan hatinya.


***


Derap langkah James terasa menghentak di koridor rumah sakit.


Peluh membanjiri dahinya. Perasaannya kalut dan gundah.


Samar ia melihat Reno di depan ruangan Rena. Tanpa banyak basa basi, James langsung menghampirinya.


"Kak, James?!" Reno yang baru menyadari James ada di belakangnya tersentak.


"Mana Rena? apa dia baik-baik saja?"


Reno terdiam. James yang panik tanpa menunggu jawaban Reno langsung masuk ke dalam ruangan Rena.


Pemuda itu bergeming saat melihat wanita yang ia cintai tertidur dengan wajah yang kembali pucat.


Pelan tapi pasti ia mendekat kesisi ranjang Rena dan menyentuh tangan gadis itu dengan hati-hati.


"Kak Rena tadi jatuh dan mengakibatkan lukanya kembali terbuka. Maaf kak, Reno tak bisa menjaga Kakak dengan baik," sesal Reno. Pemuda itu menunduk.


James terdiam. Hanya bulir bening yang jatuh di sudut matanya. Ia sangat menyesal karena tak bisa berada di samping Rena saat ini.


"Ren ... maafin aku," sedikit terisak James mendekatkan wajahnya di sisi pipi kanan Rena.


Rena menggeliat mendengar suara merdu nan serak milik lelaki yang ia sayangi.


Mata sayu itu menatap penuh cinta. Tangannya yang lemah memaksa untuk bisa menyentuh pipi lelaki tampannya.


"Bukan salahmu, James," lirihnya.


"Kau menangis, James?"


James terdiam. Tangannya meraih telapak tangan Rena dan menciumnya berkali-kali.


Tiba-tiba ...


***


2 part lagi tamat gaessss, stay tune ya

__ADS_1


__ADS_2