
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#Part_57
#by: R.D.Lestari
Mendung menggelayut,langit menjadi hitam, kilat menyambar ke segala arah hingga menumbangkan beberapa pohon di sekitar hutan Uwentira.
Rena mempererat pegangannya pada tubuh pemuda yang masih memgendarai motornya secepat kilat itu. Tangisnya mulai menitik di sudut mata, ia amat ketakutan.
Ia merasakan debaran jantung pemuda yang sedari tadi hanya terdiam tanpa berucap sedikitpun.
Duk!
Rena merasakan hentakan yang cukup kuat tapi ia tetap menutup matanya. Ia tak ingin sedikitpun membuka kelopak matanya, karena saat ia membuka mata, ia melihat bagaimana kilat menyambar pepohonan dan langsung merobohkannya dalam sekejap.
Kering. Ia merasa hujan sudah berhenti. Tak terdengar lagi suara kilat dan petir. Tak dirasa lagi rintik hujan dikulit lembutnya. Dingin, hanya dingin yang menusuk tubuhnya karena tubuhnya basah.
Ckittt!
Motor tiba-tiba berhenti. Rena tak jua berani membuka kelopak matanya hingga suara serak nan seksi pemuda bermata biru itu terdengar di telinganya.
"Bukalah matamu, aku tak mungkin melanjutkan perjalanan dalam keadaan tubuhmu seperti ini,"
Perlahan Rena membuka mata. Mengerjapkan kelopak matanya berulang kali. Ia merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Di--di mana, aku?"
Tubuhnya menggigil kedinginan tapi lidahnya berdecak kagum pada pemandangan kota yang amat fantastis di hadapannya. Ia kini berada di atas jembatan super tinggi dan keren dengan aliran air laut di bawahnya. Jembatan super panjang dan mulus dengan pemandangan kota besar yang di dominasi gedung pencakar langit yang terlihat dari tempat nya berdiri.
"Ini yang kamu sebut berkali-kali, kotaku, kota para demit," pemuda itu mengulas senyum mengejek. Ia masih juga menekuk wajahnya dan tak banyak bicara.
Sejurus kemudian, pemuda itu melepas jaketnya dan melingkarkan di tubuh Rena. Walaupun dalam keadaan marah, tapi pemuda itu masih tetap memikirkan nasib Rena, tak ingin Rena kedinginan.
"Ayo, naik. Aku akan mengajakmu berbelanja seperti kesukaanmu. Kau suka tas mahal dan juga baju-baju mahal, 'kan?" Ia menarik pelan tangan Rena dan membawanya menuju jok motor belakang.
__ADS_1
"Kau kira aku cewek apaan? dasar cowok aneh!" Rena mencebik. Harga dirinya seolah terinjak dengan ucapan pemuda misterius ini.
"He-he-he, aku tau apa perbuatan mu di gedung dulu, Rena. Saat tangan nakalmu itu mengambil tas mahal, apa kau lupa?"
"Huh, itu kan hanya khilaf," lagi, Rena membuang mukanya menghindari tatapan pemuda yang baru saja mempermalukannya itu.
"Ren, kau lupa aku?"
Pemuda bermata biru itu menarik kasar tubuh Rena yang menggigil kedinginan hingga merapat pada tubuhnya.
"Kau ... aku tak ingat," lagi-lagi Rena membuang pandangannya saat mata mereka bersitatap.
"Sini, ku ingatkan kembali," pemuda itu meletakkan telapak tangannya di atas ubun-ubun Rena. Rena terkesiap, detik berikutnya pandangannya gelap.
***
Flashback saat pertama pemuda yang bernama James itu bertemu Rena.
Di kejauhan Rena melihat dirinya sendiri sedang berada di gendongan seorang tentara.
Rena yang saat itu terluka kakinya tak banyak bicara. Setelah ia perhatikan, ternyata tentara itu adalah pemuda yang saat ini membawa dirinya ke tempat yang tak ia ketahui.
Tubuh Rena seperti di tarik kencang dan pandangannya kembali gelap. Ia memejamkan mata ketakutan. Saat ia kembali membuka mata ...
"Bagaimana, sudah ingat?" pemuda itu menyunggingkan senyum manisnya.
"Ya, kau ini sebenarnya makhluk apa? kau bawa aku seenak hati, sampai saat ini aku tak tau siapa namamu!" Rena mendelik dan menepis tangan pemuda yang saat ini mencekal tangannya.
"He-he-he, ya, aku lupa. Mungkin karena aku terlalu kesal padamu, kesal tapi suka padamu, kamu yang menggemaskan," pemuda berwajah tegas itu menyingkirkan rambut Rena yang menutup wajahnya karena angin, ia membawanya ke belakang telinga Rena .
"Aku James, Rena,"
***
Sri pulang dengan membawa semua pesanan Indri, Indri sudah menunggunya di muka rumah dengan wajah sumringah.
__ADS_1
"Mana Rena, Sri?" Indri menatap heran saat Sri pulang membawa pesanan dengan susah payah.
"Rena di culik pemuda tampan, In. Aku iri loh, ganteng banget soalnya," Sri mencebik.
"Bermata biru, berhidung mancung dan berkulit putih?" tebak Indri.
"Loe tau, In? hebat banget!" Sri menatap Indri kagum.
"Ya, tahulah. Ciri-ciri cowok Uwentira kan begitu. Tenang aja, Sri. Mereka bukan orang jahat , apalagi kalau sudah cinta, pasti Rena pulang dengan selamat,"
" Udah, ga usah mikirin Rena. Yok, kita makan semua," Indri menarik temannya ke dalam rumah dan menikmati makanan bersama keluarganya .
***
Sepi ... kurasa amat sepi padahal baru beberapa jam tak bersua dengan istri yang kucintai. Biasanya, setiap menit aku selalu berbalas pesan melalui pikiran padanya. Tak perlu handphone, karena telepati lebih cepat.
Aku tak mungkin berteleportasi untuk menemui kekasih hatiku karena tugasku tak mungkin di tinggal. Sebagai komandan pasukan tentara kota Uwentira , aku harus selalu siap sedia di tempat.
Berbeda dunia membuat ku susah untuk membaca pikiran Indri, istriku . Namun, lagi-lagi aku melihat kabut hitam mengelilingi istriku. Sebenarnya apa yang terjadi padanya saat ini?
***
"Indriii, kamu kenapa?" Sri gelagapan saat melihat Indri yang mengerang kesakitan memegangi perutnya yang buncit.
Prangg!
Ibu yang sedang membawa gelas dan teko pun panik mendengar teriakan Sri, hingga gelas dan teko itu terjatuh dan pecah berkeping-keping.
Ayah pun berlarian dari arah luar rumah saat mendengar suara pecahan kaca dengan tergopoh-gopoh.
__ADS_1
"Indrii!!"