SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_25


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#part_25


# by: R.D.Lestari.


Di kediaman Indri.


Bapak menatap Ibu dengan tatapan iba. Wanita paruh baya itu sudah dua bulanan ini selalu duduk di depan rumahnya hingga larut malam, menanti buah hati satu-satunya pulang kerumah. Sudah berbagai upaya mereka lakukan. Mulai dari memanggil paranormal, polisi hingga warga sekitar untuk mencarinya, tapi hasilnya tetap nihil. Tujuh hari mereka mengadakan pengajian pun tak ada hasil. Tak ada sedikitpun tanda-tanda atau firasat tentang keberadaan Indri.


Mereka sudah putus asa. Hanya airmata yang mampu mengobati kesedihan hati ketika mengingat tentang Indri yang tak tau di mana keberadaaan dan juga kabarnya.


Bisik-bisik mulai terdengar. Banyak yang menyangkut pautkan kepergian Indri dengan hutan Uwentira, saat Indri tersesat beberapa waktu lalu. Mereka yakin jika Indri di culik warga sana.


Sebenarnya itu juga yang kini di pikirkan oleh keluarga Indri, tapi mereka memang sudah berputus asa karena semua sudah mereka lakukan. Kini, Ibu , Bapak dan keluarga besar nya hanya bisa menunggu sembari berdoa, meminta kepada Yang Kuasa agar Indri bisa segera kembali dalam keadaan sehat dan selamat.



"Assalamualaikum," suara seseorang membuat Ibu terkesiap dari lamunan, ia mendekati asal suara dan ternyata Sri bersama neneknya yang datang. Ibu berusaha tersenyum walaupun amat terpaksa. Hatinya gamang dan sedih memikirkan anaknya.



"Waalaikumsalam, masuk Sri," sahut Ibu ramah. Sri dan neneknya masuk dan langsung duduk berhadapan dengan ibu Indri.


"Ada apa, Sri. Tumben malam-malam mampir," tanya Ibu ramah.


"Begini Tante, ada yang mau Nenek saya sampaikan," Sri menatap neneknya penuh arti sembari memberi isyarat untuk nenek menyampaikan maksudnya. Nenek mengangguk.


__ADS_1


"Saya mohon maaf sebelumnya Ibu, mungkin yang saya sampaikan akan membuat Ibu terkejut dan tak percaya,"


"Hmmmh, ceritakan saja, Nek. Saya sudah siap mendengar semua hal tentang anak saya, walaupun hal buruk sekalipun. Saya berusaha tegar dan ikhlas," airmata Ibu mulai membayang di matanya yang sembab.


"Baiklah, tabahkan ya, Bu. Begini, saya tau sekali di mana keberadaan Indri sekarang. Sudah sejak lama saya ingin menyampaikan kepada Ibu prihal Indri ini, tapi saya takut karena mendapat ancaman dari kekasihnya. Namun, sekarang saya berusaha berani karena saya memikirkan Ibu dan keluarga, lagian saya sudah tua, jika sesuatu terjadi kepada saya, saya ikhlas,"



" Kekasih Indri? ancaman? maaf Nek, saya tidak mengerti maksud Nenek,"



"Indri itu sekarang berada di dunia lain. Ia berada di alam jin. Tapi, saya tidak mengerti yang menjadi kekasihnya itu jin muslim atau jin kafir. Jika dia jin muslim , ya Indri tidak akan di sakiti, tapi jika jin kafir, saya tidak tau ya, Bu,"



"Ya Allah jadi yang menculiknya itu jin?"




"Apa Indri bisa pulang, Nek?" wajah Ibu kembali pias mendengar penuturan Nenek barusan.



"Tergantung dari Indri, jika ia ingin pulang sendiri, bisa, tapi jika ia ingin tinggal di sana kita tak dapat memaksa. Ia pasti akan pulang, tapi Ibu harus bersabar," Nenek menyentuh tangan Ibu dan memberinya semangat untuk jangan berputus asa.



Setelah di rasa cukup, Nenek dan Sri berpamitan pulang. Ibu mengantar mereka hingga ke pintu rumah. Setelah mereka hilang dari pandangan, Ibu kembali masuk ke dalam rumah dan menyampaikan apa yang diucapkan neneknya Sri tadi.

__ADS_1



Bapak, Nenek hingga paman nampak shok dengan penuturan Ibu. Dugaan warga sekitar ternyata benar adanya, dan kini mereka hanya bisa berpasrah, berharap Indri tidak kenapa-napa .


***


"Bagaimana , Sayang. Kamu sudah memutuskan semua? apa kamu mau menjadi istriku?"



Malam itu di bawah sinar bulan, Bima melamar gadis pujaannya itu. Indri tersipu malu, sirat kebahagiaan terpancar di wajah cantiknya. Gadis itu menatap kekasihnya penuh haru.



"Tentu saja aku mau," ucap Indri tanpa ragu.



"Yes, terima kasih , Sayang," dengan bahagia ia mencium punggung tangan Indri. Bima berjanji dalam hati untuk tidak berbuat lebih kepada Indri sebelum mereka resmi menikah nanti.



Indri merasa mantap dengan pilihannya, ia tak menemukan alasan apapun untuk menolak pria baik di hadapannya itu.


Kehidupan yang ia jalani saat ini sama seperti kehidupan di kampungnya, tak ada yang berbeda. Hanya saja di sini lebih moderen, teknologi lebih maju dan semua orang kaya tak ada yang miskin.


Anak-anak di sinipun bersekolah sama seperti manusia pada umumnya, jadi Indri merasa betah dan kerasan berada di sini.



Bima dengan raut bahagia menyampaikan berita itu kepada kedua orang tuanya dan juga adiknya . Mereka menyambut bahagia dan segera menentukan hari bahagia untuk Indri dan Bima.

__ADS_1



Tangan Bima tak pernah lepas dari genggaman tangan Indri. Ia sudah tak sabar mempersunting Indri dan menjadikan Indri milik nya , untuk selamanya menjadi belahan jiwa nya.


__ADS_2