
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_30
#by:R.D.Lestari.
"Indri!"
Brakkk!
Indri menutup pintu rapat. Gegas ia menuju ranjang dan menjatuhkan tubuh langsingnya keras di atas kasur kapuknya. Ia membenamkan wajahnya di bantal lusuh kesayanganya.
Tangisnya pecah. Ia berada dalam dilema. Siapa yang harus ia pilih? orang tuanya atau suaminya?
Indri yang awalnya yakin akan keputusannya bersama dengan Bima, seketika hilang arah saat melihat wajah ibunya yang kecewa karena ulahnya. Ia kini hanya bisa terisak mengingat suaminya.
"Kak, datanglah ... aku butuh dirimu saat ini," lirihnya.
Tangis Indri semakin menjadi. Ia seolah tak perduli seisi rumah memanggil namanya dan menggedor pintu kamarnya kencang. Ia tetap terdiam dan tak sekalipun menjawab. Saat ini ia hanya ingin sendiri, membalut luka yang saat ini menggores di hatinya.
***
"Indri ... bangun Sayang,"
Indri merasakan satu sentuhan halus yang amat ia rindu kini membelai wajahnya. Ia segera membuka mata dan menatap sosok tampan yang kini sedang duduk tepat di samping tubuhnya. Indri bangkit dan memeluk sosok itu yang ternyata adalah Bima, suaminya.
"Kenapa kamu lama sekali datang, Kak? aku rindu," Indri merajuk tanpa melepas pelukannya itu.
"Aku harus mencari waktu yang tepat untuk bertemu denganmu, Sayang. Maafkan suamimu ini," Bima membelai mesra rambut Indri yang tergerai panjang.
"Hiks--hiks,"
"Kamu menangis, Sayang?"
Bima menangkupkan kedua tangannya di wajah Indri ketika ia melepas pelukannya. Matanya menatap jauh ke dalam mata Indri. Ia tau jika istrinya itu berada dalam kebimbangan.
Ia menghela napas dalam. Jari tangannya mengusap bulir bening yang menetes deras di pipi merahnya.
"Aku akan di jodohkan, Kak. Bagaimana ini? apa kita kabur saja?" ucap Indri putus asa.
"Jangan, turuti saja apa mau ibumu. Pernikahanmu tak akan terjadi, aku akan berusaha menggagalkannya," bisik Bima.
__ADS_1
"Aku tetap tak setuju. Aku tak mau menikah dengan siapapun kecuali dirimu," Indri bersikukuh.
"Tapi, ini demi ibumu...,"
"Aku tetap tak mau, Kak. Apapun alasannya, aku hanya mau bersamamu,"
Tok!tok!tok!
"Indri! kamu bicara sama siapa, Nak?" suara Ibu terdengar lantang dari luar.
"Ssssttt, aku pulang sekarang , ya?" Bima beranjak tergesa dan berjalan menuju jendela kamar.
"Tapi ...,"
Slapppps!
Dengan mudah Bima keluar dari jendela dan secepat kilat hilang dari pandangan. Indri merapikan dirinya dan berjalan menuju pintu yang sedang di gedor dari luar.
Tok! Tok! Tok!
"Indri!"
"Ya, Bu?" wajah Indri menyembul dari balik pintu, ia berusaha menyembunyikan perasaannya yang gugup saat itu.
Ibu menyingkirkan tubuh Indri dan berjalan masuk ke dalam kamar. Matanya mengitari seluruh sudut kamar.
"Kamu lagi ngobrol sama siapa tadi?" selidik Ibu.
"Ga ada, Bu. Mungkin Ibu salah dengar," bohong Indri.
"Ibu rasa Ibu tidak salah dengar. Kamu berbohong, Nak?"
"Indri ga bohong, Bu,"
"Hmmmh, Ibu mau ngomong penting sama kamu, besok teman Ibu akan bawa anaknya kesini, kamu temui, ya? mana tau jodoh,"
"Ga, Bu. Indri sudah menikah!"
"Omong kosong apa ini, Indri! kalau memang sudah menikah, mana suamimu," desak Ibu.
__ADS_1
"Ada, Bu. Suatu saat pasti akan ku kenalkan pada Ibu,"
"Jangan-jangan suamimu itu makhluk gaib yang menculikmu? ayo jujur, Indri!" Ibu semakin mendesak Indri. Membuat gadis itu kian terpojok.
"Bukan Bu, dia sama seperti kita," bela Indri.
"Ibu yakin jika suamimu itu bukan manusia, ayo sadar Indri, sebelum semua terlambat," Ibu menatap anaknya penuh haru. Berharap Indri bisa menerima keputusannya.
"Ibu, Indri ...,"
"Indri, apa kamu tega ninggalin Ibu, Nak? Ibu denger dari neneknya Sri jika kamu menikah dengan orang uwentira kamu tak akan pernah kembali,"
"Darimana Ibu tau tentang Uwentira?"
"Dari neneknya Sri, kan barusan Ibu sudah bilang,"
"Hmmmh," Indri menghela napasnya dalam. Ia menatap lekat ibunya.
" Ibu benar, Bu. Indri sudah menikah dengan Bima. Warga Uwentira asli, Bu, maafkan Indri harus jujur pada Ibu," Indri menggenggam tangan ibunya erat. Berharap ibunya bisa menerima Bima sebagai suaminya.
Tiba-tiba Ibu melepas genggaman tangan Indri dan perlahan mundur memberi jarak. Matanya mulai berkaca-kaca.
Tanpa mengucap sepatah katapun Ibu langsung berbalik dan meninggalkan kamar Indri.
"Ibuk!"
Ibu tetap pergi tanpa sedikitpun menoleh ke arah Indri. Hati Indri sakit menghadapi sikap Ibu. Ibu, tak akan bisa menerima cintanya. Cinta sejatinya.
***
Sudah dua hari semenjak perbincangannya dengan Ibu, Ibu tak jua mau makan dan berbicara dengan Indri. Ibu hanya diam seribu bahasa membuat semua orang termasuk Indri menjadi gundah gulana.
Tubuh Ibu semakin kurus. Tatapan matanya kosong dan selalu membuang muka ketika bersitatap dengan Indri.
"Bu, Indri mohon, makanlah, Bu," Indri berusaha menyuapi ibunya dengan bubur yang neneknya buat.
"Bukankah ini maumu?" Ibu menjawab ketus.
"Mau apa, Bu? Indri hanya mau Ibu sehat," Indri mulai terisak mendapat jawaban kasar dari Ibu.
"Maumu supaya Ibu lekas mat* dan kamu bisa bahagia dengan suami gaibmu itu!" Ibu menatap Indri tajam.
"Astaghfirullah, Ibu ...,"
__ADS_1
"Pergilah jika itu maumu, Ibu juga sebentar lagi mat*! kau bisa bebas sesukamu," Ibu memalingkan wajahnya. Dadanya sesak, airmatanya tumpah.
" Ibu ...,"