
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_56
#by: R.D.Lestari.
"Uwentira? maksudnya?" Rena melongo mendengar ucapan Indri, begitu juga Sri.
"Aku mencium bau orang Uwentira di sekitarmu. Kau pun habis bersentuhan dengannya. Apa kamu sering bertemu dengan pemuda yang aneh? baunya amat lekat di tubuhmu,"cecaran Indri membuat Rena salah tingkah.
"Hmmh, jangan-jangan makhluk yang sering mengganggu loe beberapa hari ini?" celetuk Sri.
"Mungkin, dan ia kemarin sempat nemui gue. Wajahnya amat jelas. Loe tau siapa, Sri?" Rena melempar pandangan nya pada Sri. Sri menggeleng pelan.
"Cowok tampan brewokan yang nolong gue tempo hari, Sri," Rena menghela napas dalam.
"Lho? dia makhluk Uwentira?"
"Ya, dan dia rupanya dendam ke gue. Gara-gara omongan kita di kedai mie itu," mata Rena berkaca-kaca. Ia amat sedih dan galau, tapi tak bisa dipungkiri jika pemuda itu amat tampan.
"Kamu ngomong apa memangnya, Ren?" Indri melekatkan pandangannya pada Rena.
"Stop! stop! stop! aku marah loh Ren, aku juga sudah jadi penduduk Uwentira ini!" tiba-tiba Indri ngomel-ngomel ga karuan. Sri dan Rena saling pandang, heran.
"Apaan sih, In? gue belum ngomong apa-apa," kilah Rena.
"Aku bisa baca semua yang ada dalam pikiranmu, Rena. Semua. Dan apa yang kamu katakan, itu jahat. Kami bukan demit atau hantu, Rena. Kami sama sepertimu hanya berbeda dunia saja,"
"Kalian tau? kehidupan di sana sama seperti di sini. Ada sekolah, universitas, kantor dan semua sama seperti di sini. Kalian lihat aku sekarang? sama seperti kalian, 'kan?" Indri menatap dua sahabatnya secara bergantian.
"Tapi, In. Pemuda itu terkadang datang dan tak kasat mata, hilang dalam sekejap,"
"Itu hanya sebagian kemampuan super yang kami miliki, jadi ... apa kau siap menjadi penduduk Uwentira sama sepertiku? aku senang jika temanku ada di sana, ikut bersamaku," Indri menyunggingkan senyumnya yang di tangkap Rena penuh kengerian.
Ia tak bisa membayangkan hidup bersama demit, biarpun demit itu tampan dan sakti mandraguna.
__ADS_1
"Rena! kami bukan demit! camkan itu!" kali ini mata Indri mendadak menjadi merah semerah darah. Rena membuat emosi Indri meledak.
Rena lupa jika Indri bisa membaca pikirannya. Ia menunduk takur, begitu juga Sri. Ia bergidik ngeri melihat Indri yang berubah amat menakutkan.
"I--iya, Ma--maaf, In," lirih Rena. Indri menghembuskan napasnya berulang kalim menetralisir amarahnya. Saat hatinya tenang , ia membuka dompet dan menyerahkan beberapa lembar uang merah ke arah Sri. Sri menerima dengan bingung.
"Itu sebagian untuk kalian, sebagian tolong belikan aku pizza, mie ayam, jus jeruk, es dogan , seblak , burger, sate sepuluh porsi, dan jangan lupa, bakso!" perintah Indri yang berhasil membuat kedua sahabatnya melongo.
"Tapi,In? untuk apa makanan sebanyak itu?" Sri menjawab dengan ragu.
"Ya, untuk kita makan lah, sudah jangan banyak tanya, beliin cepat," rengek Indri.
"In, ini sisanya masih banyak loh, kalo dilihat ini uang mungkin sekitar sepuluh jutaan ," Sri menghitung lembaran uang merah itu dengan perlahan.
"Ya, ambil sisanya buat kalian, aku juga bawain kalung emas, gelang dan cincin sebagai oleh-oleh untuk kalian , anggap sebagai kenang-kenangan dariku,"
"Sudah, jangan lebay! cepet belikan pesenanku ya, kalian ga mau kan keponakan kalian ini ngences," Indri tertawa geli melihat tingkah kedua temannya sembari mengelus perut buncitnya. Tanpa menunggu lama, Rena dan Indri bergegas untuk membeli semua pesanan Indri. Rena sampai mencatat semua menu di hapenya saking banyaknya makanan yang di pesan.
"Sekalian shopping kita, Ren. Gila, uang Indri banyak banget! yakin loe ga pengen nikah sama orang Uwentira?" goda Sri saat berboncengan dengan Rena.
"Ogah, gue ga sudi nikah sama demit,Sri! ga mau!" Rena nyerocos.
"Hei, Ren! inget omongan loe, ga mikir kalo tu cowok denger, dia bisa tambah marah, loe ...,"
Ckiitttt!
__ADS_1
Belum sempat Sri menyelesaikan omongannya, sebuah motor sport merah tiba-tiba menghadang perjalanan Sri. Seketika itu pula Sri menghentikan laju kendaraan roda dua yang di pakainya.
Seorang pemuda membuka helmnya, menyisir rambut hitamnya dengan jemari. Hidung bangir dengan kulit wajah putih dan bersih bersinar terkena matahari siang yang cukup menyengat. Jantung Sri berdenyut kencang, begitu juga Rena. Namun, jantung Rena berdetak kencang bukan karena kagum , melainkan takut. Karena lelaki di hadapannya ini adalah lelaki yang menggangu hidupnya beberapa hari ini.
Sri terpana dan bibirnya seolah mengagumi pesona babang tamvan ini terus menerus. Seperti ada panah asmara yang menancap di jantung hatinya saat si pemuda dengan gagah melewati nya dan eh ...?
Sri menelan salivanya dengan susah payah saat si pemuda dengan congkak menarik tangan sahabatnya itu dan memaksa nya ikut dengannya.
"Ren ...!"
"Sri ... kau pergi sendiri saja, melawan pun aku percuma, doakan aku, Sri!" mata Rena berkaca-kaca menahan tangis. Ia tau pasti berbuntut panjang jika nanti Sri menolongnya .
Rena mendadak pasrah saat si pemuda yang ia tau punya kekuatan super dan bisa berbuat apa saja itu membawanya pergi dan memaksa nya untuk duduk di boncengan motor nya. Rena mengikuti walau dengan raut wajah yang di tekuk ke dalam. Ia menyesal. Ini pasti buntut dari ucapan songongnya barusan.
Tanpa sepatah katapun pemuda itu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi . Saking takutnya Rena mencengkeram jaket hitam milik si pemuda yang sampai saat Ini tak ia ketahui namanya .
Slappp!
Tangan Si Pemuda menarik paksa tangan Rena,menyuruhnya memeluk dari belakang. Antara takut dan malu jadi satu. Rena terpaksa memeluk lelaki itu. Degupan jantungnya semakin kencang saat aroma wangi nan maskulin menyeruak dari tubuh kekar si pemuda tampan.
Ckittt!
Pemuda itu terus memacu motor kencang hingga memasuki kawasan hutan Uwentira, Rena semakin mengencangkan pelukannya saat hujan tiba-tiba jatuh dengan derasnya memaksa kelopak mata Rena menutup sempurna. Rintik hujan yang terkena mata nya terasa menyakitkan.
Rena masih terdiam, ia takut bertanya karena si pemuda ini dalam keadaan marah. Terlihat dari sikap dan tatapan matanya yang nyalang.
Mendung menggelayut , langit menjadi hitam dan gelap, petir menyambar ke segala arah hingga ....
__ADS_1