
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_69
#by: R.D.Lestari.
Drap-drap-drap!
Langkah Anima terdengar menggaung di koridor rumah sakit kota Uwentira. Bangunan megah berwarna putih itu membuat nyali Anima semakin menciut. Rasa khawatir dan was-was, mengingat jika kakaknya sedang terbaring di sana.
Ia hanya ingin memastikan kondisi Bima lebih baik atau malah memburuk di ruangan khusus. Walau hanya dokter dan perawat yang boleh masuk, Anima tak perduli itu.
Anima melangkah memasuki ruang dokter dengan perlahan. Mengatur napasnya yang tersengal karena jalannya yang terlalu cepat.
Kriettt!
"Pagi, Dokter," sapa Anima saat ia bertatap muka dengan Sang Dokter.
"Iya, pagi. Silahkan masuk," jawabnya ramah.
Krettt!
Derit kursi terdengar menyiksa telinga saat Anima menariknya. Dokter menatapnya saat ia mulai duduk dengan tenang.
"Ada perlu apa, Nona? bukankah rumah sakit tidak boleh di kunjungi oleh orang-orang biasa? hanya mereka yang mengalami hal yang luar biasa yang di rawat,"
Anima menelan saliva mendengar ucapan Dokter di hadapannya. Benar kata dokter, tak perlu mendatangi rumah sakit, nanti pasti mereka dapat kabar tentang kondisi keluarga yang sakit, tapi Anima sudah tak sabar menanti kabar itu.
"Saya hanya ingin tau kondisi Kakak Bima, dong. Pasien yang datang beberapa hari yang lalu. Berapa lama kiranya kakak saya sadar, karena ada istrinya menunggu di rumah," ungkap Anima.
"Pak Bima ini kondisinya cukup mengkhawatirkan, sebab sudah dua kali mengeluarkan darah abadi di orang yang sama. Organ dalamnya rusak dan butuh beberapa bulan untuk penyembuhan. Sebelum ia benar-benar sembuh, ia belum di sadarkan. Kami memberinya obat yang bisa membuatnya tertidur lelap sampai batas waktu yang di tentukan,"jelas dokter.
"Beberapa bulan? itu berarti tahunan bahkan belasan tahun waktu dunia manusia, 'kan, Dok?" mata Anima membesar mendengar penuturan dokter.
__ADS_1
"Ya, itu benar. Ada apa dengan manusia? bukankah Pak Bima makhluk seperti kita?" Pak Dokter menjawab dengan terheran-heran.
"Karena istri Kak Bima manusia, Pak,"
"Lha? gimana nanti jika Bima siuman. Istri nya pasti sudah tua,"
"Ga, Pak. Istri nya sudah dua kali meminum darah Kak Bima. Itulah yang menyebabkan Kak Bima sakit, dan karena darah itu, istrinya tak akan menua sampai kapanpun,"
Pak dokter manggut-manggut mendengar penuturan Anima. Gadis itu akhir nya pamit dengan perasaan lega. Setidaknya kakaknya baik-baik saja dan sudah berada pada tangan yang tepat. Kini tugasnya adalah mengabarkan pada Indri. Tentu susah jika lewat telepati karena darah Anima tak terpaut pada Indri. Ia harus mau melewati portal dan berkunjung ke dunia manusia, dunia yang belum pernah ia datangi sebelumnya.
***
Indri masih duduk termenung di ujung ranjang kamarnya. .Pikiran nya jauh melayang, tak lepas dari suaminya, Bima. Bagaimana saat Bima menyentuh tubuhnya, memandang matanya yang indah bak samudra, tidur di pelukan dada bidangnya.
Indri rindu, teramat rindu pada lelaki yang amat di cintainya itu. Jangan di tanya berapa banyak tetes air mata yang ia keluarkan demi suaminya. Matanya yang selalu sembab dan tubuhnya yang mengurus. Jarang tidur dan susah makan. Itulah yang terjadi pada Indri saat ini.
Dok-dok-dok!
Dengan gesit Indri berlari menuju pintu depan rumahnya. Membukanya dengan perlahan, dan ...
"Anima! kakak kangen," sebuah pelukan erat ia layangkan begitu melihat Anima berdiri di ambang pintu.
"Kak, aku juga kangen," Anima balas memeluk iparnya itu.
"Ayo, masuk, Dek. Kakak kangen, apa kamu ga kangen dengan ponakanmu, Stella. Dia sudah bisa tengkurep. Empat bulan sudah kita ga ketemu, An," ajak Indri.
"Iya, Kak. Terima kasih, Kak. Ya, aku kangen sekali dengan bayi itu, pasti sekarang bertambah imut,"
"Ya, tambah mirip Kak Bima tentunya. Rambut nya pun sama, pirang," Indri mengulas senyum simpul sambil berjalan mensejajarkan langkahnya menuju kamar.
"Itu keponakanmu sedang tidur pulas," Indri menunjuk ke atas ranjang dan Anima yang memang sudah teramat kangen pada bocah itu berlari mendekatinya. Saking kangennya Anima langsung menciumi bayi itu hingga si bayi terbangun dan menjerit, Anima teekejut dan beringsut mundur.
__ADS_1
"Oek... oekkk,"
Indri mendekat dan terkekeh melihat Anima yang salah tingkah. Ia lalu berbaring dan mendekatkan dadanya pada Stella dan saat itu juga si bayi terdiam.
"Jangan takut, Anima. Beginilah kalau punya bayi," Indri berusaha menenangkan perasaan Animasi yang sedikit ketakutan karena membuat bayi gembul itu menangis.
"Oh, iya, Kak. Aku datang kemari untuk memberi informasi," ucap Anima yang sontak membuat alis Indri terpaut, penasaran.
"Info apa?" sahutnya.
"Kak Bima saat ini kondisinya baik, tapi butuh waktu beberapa bulan untuk mengoptimalkan kinerja organ dalamnya, Kak,"
"Alhamdulillah, Kakak akan menunggu hingga waktu itu tiba, terima kasih, An," senyum Indri merekah mendengar ucapan Anima.
"Tapi, Kak. Beberapa bulan di sana setara dengan hitungan tahunan, bisa jadi belasan tahun menunggu di dunia Kakak. Apa Kakak mampu menunggu selama itu?" tantang Anima.
"Belasan tahun?" wajah Indri yang semula cerah berubah mendung. Cobaan apalagi ini?
"Ya, Kak. Belasan tahu. Jika Kakak tak bisa menunggu, kami akan menghapus nama Kakak dari daftar keluarga dan melepaskan Kakak menjadi manusia seutuhnya. Namun, Kakak harus menerima konsekuensinya, tak akan bisa bertemu Kak Bima dan kami akan menghapus ingatan tentang Kakak," ada nada penekanan pada ucapan Anima, seperti meminta kepastian pada Indri. Karena saat ini rumah tangganya di ujung jurang perpisahan.
"Hmmmh, aku bisa menunggu,tapi apakah Bima bisa menerimaku? belasan tahun bukan waktu yang sebentar bagiku. Wajahku pasti sudah mengeriput dan kusam saat Bima bertemu denganku," Indri menghela napas dalam. Membayangkan dirinya di usia empat puluh tahunan. Sedang Bima berusia dua puluhan. Umur yang terpaut amat jauh dan pasti fisik yang tak sepadan. Bima pasti mencari wanita lain yang lebih cantik darinya.
"Kamu salah, Kak. Darahmu sudah bersatu dengan darah abadi kami, hingga datangnya Kak Bima, Kakak tak akan menua, dan sekarang aku memastikan jika nanti suatu saat Kakak menikah dengan lelaki lain, darah abadi Kakak otomatis menghilang dan Kakak akan menjadi gila karena kakak berjanji untuk setia,"
"Ya, aku setuju. Karena aku tak akan menikah dengan lelaki lain. Ini janjiku, Anima. Catat itu! aku mencintai Bima dengan sepenuh hatiku. Aku akan menunggu saat itu tiba dan aku akan selalu setia," jawab Indri mantap tanpa keraguan.
"Terima kasih, Kakak. Oh, ya. Aku tak mau segera pulang. Bisanya Kakak mengajakku jalan-jalan, esok?"
"Tentu saja, Dek, besok Kakak antar keliling ya," Indri berusaha tegar dan mengulas senyum semanis mungkin. Ia tak ingin Anima tau perasaan perih dan getir yang sedang berkecamuk dalam hatinya saat ini. Belasan tahun? apa ia sanggup menahan rindu selama itu?
__ADS_1
***