
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_27
#by:R.D. Lestari.
"Ya, Bu. Kenapa Ibu panggil Bima?" wajah Bima tertekuk ke dalam. Kesal karena Ibu dan adiknya mengganggu malam pertamanya.
Ibu yang saat itu sedang duduk, seketika berdiri dan menatap nyalang ke arah Bima. Tangannya berkacak di pinggang.
"Ada apa katamu? apa kau lupa, Bima! ingat perjanjian kita sebelum kamu menikah dengan Indri, kamu tidak boleh sedikitpun melakukan hal suami istri padanya, jika itu terjadi, maka Indri sudah tidak bisa pulang ke dunianya,"
"Bukankah Indri harus pulang dan pelan-pelan meminta restu kepada orang tuanya? bagaimana pun pasti sakit kehilangan anak semata wayang mereka. Indri harus jujur kepada keluarganya," Ibu menatap lekat Bima. Bima tersentak mendengar penuturan Ibu. Ya, ia ingat perjanjian itu. Hati kecilnya pun tak ingin egois. Indri harus pulang ke rumah orang tuanya.
"Ma--maksud Ibu, apa?" suara Indri sontak membuat semua yang berada di ruang keluarga itu terkejut dan menatap ke arahnya.
"Sayang? sejak kapan kamu di situ?" Bima mendekati istrinya dan merangkul wanita yang masih memakai gaun pengantin itu.
"Ikutlah denganku, nanti akan aku ceritakan semuanya," Bima mengajak Indri masuk ke dalam kamar pengantinnya.
Kriettttt!
Pintu kamar pengantin terbuka lebar. Indri masuk perlahan dan Bima segera menutup nya.
Indri memilih duduk di pinggir ranjang. Tangannya bermain hendak membuka baju pengantin yang di pakai nya. Ia rasa tak ada alasan untuknya malu membuka apa yang kini melekat di tubuhnya, toh ia dan Bima sudah resmi menjadi suami istri sekarang.
"Ka--kamu mau ngapain, Sayang?" Bima seketika berlari ke arah Indri dan menghentikan aksi Indri.
"Kenapa emangnya? kan kita udah nikah, Kak?" dengan wajah polosnya Indri menatap Bima heran. Mata nya yang membulat sempurna membuat Bima semakin gemas padanya. Namun, Bima harus bertahan jangan sampai tergoda. Demi Indri juga.
__ADS_1
"In, kamu tau, jika aku sampai melakukan hubungan suami istri ini, kamu tak akan bisa pulang ke duniamu lagi. Apa kamu tak kangen orang tuamu? mereka pasti merindukanmu," Bima membelai rambut Indri yang kini tergerai panjang.
"Apa? jadi aku tak bisa pulang lagi?" Indri tertegun mendengar ucapan Bima. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
"Sekarang kamu masih bisa pulang, tapi jangan lama-lama, perlahan kamu jelaskan pada mereka prihal pernikahan kita. Jadi mereka tak terlampau berat melepas kepergianmu untuk selamanya,"
"Berapa lama aku di sana? trus Kakak gimana?" Indri menyeka airmatanya yang tumpah. Ia semakin berada dalam dilema.
"Terserah kamu mau sampai kapan di sana, tapi setelah kembali pulang kamu tidak akan bisa kembali lagi, Sayang. Itu untuk yang terakhir kalinya. Apa kamu menyesal menikah denganku? jika iya, aku akan segera melepaskanmu," Bima mengecup kening Indri pelan.
Indri menatap tajam mata Bima. Tangannya menjulur dan mencengkram kemeja Bima, Bima tersentak dan mata mereka bersitatap.
"Bagaimana bisa kamu bilang aku menyesal? ini pilihanku dan aku tak mungkin salah dalam memilih. Bukankah dulu pernah kamu sebut jika aku tetap bisa melihat orang tuaku walaupun mereka tak dapat melihatku?"
Bima tercekat . Ia menelan saliva karena terkejut melihat perubahan sikap istrinya itu.
"I-- iya, itu benar, Sayang?"
"Besok aku ingin pulang, Kak Bima, apa bisa mengantarku? aku kangen Ibu juga Ayah,"
"Ya, Sayang. Besok kita pulang, tapi tetap, aku tak akan pernah muncul di keluargamu,"
"Jadi, kita ga akan ketemu selama aku di sana?"
"Aku akan datang sesekali dan masuk ke dalam kamarmu tanpa seorang pun tahu,"
Cup!
Lagi, Bima mengecup pelan kening istrinya itu, ia kemudian bangkit.
__ADS_1
"Malam ini aku tidur di kamar tamu, ga kuat kalau lama-lama dekat denganmu ," Bima menjawil hidung bangir Indri dan di sambut dengan gelak tawa Indri yang tiba-tiba pecah mendengar ucapan Bima. Ya, untuk beberapa waktu kedepan mereka harus bisa bersabar. Demi tercipta nya bahagia di akhir kelak.
***
Adzan subuh terdengar sayup-sayup entah dari mesjid mana, karena selama tinggal di dunia Bima ia tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di mesjid yang kata Anima sangat megah itu.
Tok-tok-tok!
Bunyi ketukan pintu membuat Indri seketika terbangun dan mengucek matanya beberapa kali. Ia kemudian bangkit dan berjalan perlahan ke arah pintu, sesekali ia menutup mulutnya dengan tangan karena terus menguap, ia masih sangat mengantuk.
Krietttt!
Wajah Bima yang tampan terlihat jelas di balik pintu. Senyumnya terkembang melihat istrinya yang masih acak-acakan.
"Ayo, solat . Setelah itu kita pulang ke rumahmu," ajak Bima sembari mengucek rambut istri cantiknya itu.
"Sekarang? kenapa tidak nanti siang? ini masih subuh ," tolak Indri.
"Ya, karena portal cuma terbuka waktu ini, subuh,"
__ADS_1
"Po--portal? maksudnya?"
Bersambung...