SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_36


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#part_36


#by: R.D.Lestari.


"Ka--kamu, siapa?"


"Bapak, Ibu, perkenalkan saya Bima, suami Indri,"


Bima mengulurkan tangannya dan menunduk dengan sopan, tapi Ayah malah menepis tangan Bima keras. Membuat Bima tersentak dan mundur beberapa langkah.



"Dasar tidak punya tata krama! seenak perutmu menikah dengan anakku, tanpa minta persetujuanku! aku ini masih hidup!" Ayah berdecak sembari mengepalkan tangannya bersiap meninju Bima yang saat itu tampak gemetar.



"Saya mohon maaf, Yah. Nanti saya akan jelaskan semua. Maukah Ayah dan Ibu ikut ke rumah saya, bersama Indri tentunya," Bima membuka pintu mobil seraya mempersilahkan kedua orang tua Indri masuk. Mereka mengangguk walau Ayah masih tampak amat emosi.



Bima melirik Indri yang kini kondisi nya sangat memprihatinkan. Kurus, kusam dan tatapan matanya kosong. Hati Bima sakit melihat belahan jiwanya seperti itu. Tanpa ia sadari bulir bening itu jatuh, ia rapuh.



Brakk!



Brummm!


__ADS_1


Mobil menderu kencang membelah jalan raya yang tampak lenggang. Tak banyak kata terucap, mereka bungkam.


"Yah, saya mohon nanti ketika Ayah masuk ke dalam rumah, jangan makan apa pun yang berwarna selain putih, jika tidak Ayah akan tinggal selamanya di tempat saya dan tidak akan bisa pulang,"


"Maksud kamu apa? jadi benar kamu bukan manusia?"



Bima terdiam mendengar ucapan Ayah. Ia harus menjawab apa? sudah banyak kesalahan yang ia perbuat, apakah ini akan menambah jarak di antara mereka?



"Hei, aku bertanya padamu! kalau bukan karena Indri, aku tak akan mau ikut denganmu!"



"Nanti saya jelaskan semua di rumah, Yah. InsyaAllah saya bukan orang jahat. Saya akan mengantar Ayah dan Ibu pulang dengan selamat," ucap Bima sambil sesekali melirik Ayah dan Ibu yang menunggui Indri di belakang.



Ayah lebih memilih diam. Banyak pertanyaan berseliweran di pikirannya. Ia berusaha meredam emosi nya. Teringat Indri yang saat ini hanya terdiam tak sedikitpun terucap kata dari bibir mungilnya.




Samar Ibu dan Ayah melihat cahaya yang berputar membentuk pusaran besar di hadapan mereka. Ibu dan Ayah saling berpandangan takut. Tangan mereka saling menggenggam. Lantunan terucap lirih di bibir mereka.



Dukk!



Mobil sempat terguncang saat mereka memasuki pusaran besar di hadapan mereka tadi. Mereka seolah memasuki ruang yang amat terang dan ...

__ADS_1


Mata mereka terperangah saat mobil yang mereka tumpangi masuki jembatan yang amat panjang dan indah. Jembatan yang di penuhi lampu warna kuning yang melayang di sepanjang jalan.


Mereka tak henti berdecak kagum saat mobil mentok di persimpangan dan berbelok ke arah kanan, sekilas mereka melihat ke kiri, hutan lebat dan gelap mendominasi, tak ada sedikit pun cahaya di sana. Berbeda dengan jalan sebelah kanan yang sekarang mereka lewati, terang benderang karena pendar cahaya lampu yang amat banyak. Gedung-gedung tinggi pencakar langit dan mobil-mobil mahal dengan technologi tinggi.



Mereka seperti berada di luar negeri, las vegas versi Indonesianya dan New York City versi kampung nya. Sungguh menakjubkan. Ayah tak henti-hentinya berdecak kagum, begitu pun Ibu.



Mobil terus melaju kencang dan tak lama mereka memasuki gapura besar dengan tulisan, "Kota Uwentira".


***


Ckittttt!



Mobil berhenti di halaman luas yang penuh dengan bunga warna-warni dan gazebo indah yang di bawahnya terdapat kolam ikan koi.


Lampu-lampu taman berjejer rapi di kiri dan kanan. Mereka turun dari mobil sembari menatap takjub rumah besar dengan desain modern dan minimalis yang bertabur emas juga permata sebagai aksesorisnya. Amat memukau untuk orang awam sekelas Ibu dan ayahnya Indri


Kreeeet!



Bima membuka pintu besar seraya menggendong Indri di pelukannya. Ia mempersilahkan kedua orang tua Indri masuk dengan amat sopan. Kedua orang tua Bima yang mendengar seruan anaknya mendekat dan menyambut besannya dengan ramah.



Bima bergegas membawa Indri yang masih membisu menuju kamarnya. Hatinya sakit melihat Indri yang bak mayat hidup tanpa suara dengan tatapan kosong. Tubuh nya lusuh dan kotor,juga mengeluarkan bau yang tidak sedap.


"Anima!" panggil Bima lantang.


"Iya, Kak," tergopoh-gopoh gadis itu mendekat begitu mendengar suara Kakaknya.

__ADS_1


"Ada apa, Kak?" sahutnya begitu ia tiba di kamar Bima.


"Cepat kami urus Indri, mandikan dan beri pakaian yang bagus. Jangan lupa suapin. Nanti kita lakukan ritual setelah Kakak selesai berurusan dengan orang tuanya," titah Bima yang di sambut anggukan Anima. Bima segera beranjak menuju ruang tamu, ia sudah tak sabar untuk membicarakan nasib rumah tangganya bersama Indri. Ia sudah tak sanggup berpisah dengan wanita yang di cintainya itu. Ia pun lelah melihat Indri menderita, Bima ingin bahagia, tentu saja bersama Indri , untuk selamanya.


__ADS_2