SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part 123


__ADS_3

Bismillah


           SUAMI DARI ALAM LAIN


#Part_123


#by:R.D.Lestari.


"Tapi, Nona...,"


Rena menepis ucapan Bibi dan tetap melangkah riang bersama Sri menuju taman belakang rumah Gio yang megah.


Kaki Rena terhenti saat ia melihat James sedang duduk santai dengan seorang wanita berhijab di hadapannya.


Rena menyaksikan sendiri betapa riangnya James bersenda gurau dan berbincang hangat tanpa beban seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya.


Hati Rena remuk redam. Apalagi saat tangan kekar yang amat dirindunya itu menyentuh bibir wanita cantik berkulit putih dan menghapus noda di ujung bibir mungilnya.


Tangan Rena menekan bagian dadanya kuat. Ia tak sanggup menatap kemesraan James tepat di depan matanya.


Perlahan bulir bening itu mulai tumpah. Sesak di dadanya dan matanya menjadi buram.


"Rena... kamu jangan berpikir buruk dulu, ayo kita ke tempat James," Sri yang juga melihat tingkah James ikut tersayat hatinya. Apa-apaan James ini! kenapa bisa bawa gadis ke sini? dan gadis itu, sepertinya mereka pernah bertemu, tapi di mana?


Rena perlahan melepas genggaman Sri di lengannya. Ia lalu menatap wajah sahabatnya itu.


"Aku mau pulang, Sri. Nampaknya James sudah bahagia. Aku tak ingin merusak kebahagiaannya," ujar Rena. Ia berbalik dan bergegas pergi meninggalkan Sri yang masih berdiri mematung di ambang pintu.


Ia menatap iba sahabatnya itu. Hatinya pasti teramat sakit melihat James yang dikiranya dalam keadaan berduka ternyata sedang bersuka cita dengan wanita lain. Sungguh miris nasib Rena.


Tap-tap-tap!


Kaki Sri sedikit menghentak saat melewati lantai rumah James. Ia melangkah menuju taman dan mendekati James yang saat itu masih asyik menyantap makanan sambil berceloteh riang.


"Ehem!" Sri berdehem cukup kencang hingga membuat dua orang yang sedang berbincang itu serentak menatap ke dirinya.


"Sri? kapan datang? ayok, ikut bergabung dengan kita," ajak James sembari mempersilahkan Sri untuk duduk di sampingnya.


Sri mengulas senyum getir dan menatap tajam ke arah si gadis. Gadis itu tampak kikuk tapi tetap mengulas senyum pada Sri.


"Kau, sepertinya aku pernah melihatmu, tapi di mana?" todong Sri begitu ia mendaratkan pantatnya pada kursi.


"Dia adiknya Bima, Sri. Kan kalian pernah nginap di rumahnya," sela James.


"Oh, pantas. Bagaimana kabar Indri?" Sri mulai berbasa basi.

__ADS_1


"Kak Indri baik dan sehat, Kak," katanya singkat.


Sri mengangguk pelan dan mengalihkan pandangannya pada James.


"Kok dia bisa ikut ke dunia kita? apa hubungan kalian sebenarnya?" cecar Sri. Suaranya meninggi.


"Jangan salah paham, Sri. Anima ini sekalian ikut karena Indri juga hari ini pulang ke rumah. Kami janjian dan dia ingin melihat rumahku di dunia manusia. Itu saja," papar James lembut.


"Aku sih tak masalah apa pun alasanmu, James, tapi Rena?"


"Rena? ada apa dengan Rena, Sri?" bibit James gemetar saat menyebut nama Rena. Ia amat rindu gadisnya itu.


"Kemana saja kau, James! kenapa tak pernah datang menemui Rena! dia amat merindukanmu, James!" hardik Sri.


James terkesiap mendengar ucapan calon adik iparnya ini. Untuk sepersekian detik ia terdiam sembari mendesah pelan.


"Aku kira ia amat membenciku, Sri. Ia meninggalkanku karena bentuk wajahku yang buruk dan mengerikan," gumamnya.


"Itu sebabnya aku tak pernah menemuinya. Aku kira hubungan kami sudah berakhir begitu saja. Apa gunanya aku bersama dengan orang yang tak menginginkan kehadiranku?"


"Kau terlalu melankolis, James! Rena hanya butuh waktu. Kau seharusnya datang kepadanya, bukan malah asik bercengkrama dengan gadis lain di depan matanya!"


"Rena? mana dia?" seketika itu juga James berdiri dan pandangannya menyisir sekitar. Nihil. Rena tak tampak di sudut mana pun.


"Rena sudah pulang, James," lirih Sri.


"James?"


"Kau tak apa-apa, Kak?" tanya Anima khawatir. Terlihat jelas dari mata gadis cantik itu jika ia punya rasa pada James.


"Sri, Rena...,"


"Kenapa dengan Rena, James?"


"Aku tak tau, Sri. Pandangan tentang nya buram dan aku melihat darah di mana-mana mengelilingi Rena!" James terisak dan meluruh di antara rerumputan.


"James... apa terjadi sesuatu dengan...,"


Derrt-derrrt!


Benda pipih di kantong Sri bergetar. Sri menatap heran nama yang tertulis di sana. Rena?


"Iya, Ren? apa? Rena?"


Sama seperti James, gadis bermata coklat itu pun luruh dan tubuhnya seketika itu pula melemas.

__ADS_1


James menatap Sri dengan wajah kalut. Ia yakin ada sesuatu yang tak beres terjadi pada gadisnya.


"Sri, ada apa dengan Rena?"


"James! Rena....,"


***


Rena berlari kencang dan tanpa arah. Hatinya pedih melihat James bermersraan dengan gadis lain tepat di depan matanya.


Ia tak menyangka James bisa melupakan dirinya secepat itu. Mana janji manisnya? mana kesetiaannya?


Rena tau ia salah, tapi saat itu Rena dalam keadaan shock melihat rupa James yang berubah menakutkan. Namun, semua terkikis waktu. Ia perlahan mampu menerima jati diri James yang sesungguhnya.


Rena terus berlari tanpa tau tujuan. Hingga berulangkali ia tersandung dan terjatuh dijalan. Tumitnya lecet begitu juga beberapa bagian dari tubuhnya karena tergerus aspal.


Napasnya terengah. Di sela kekalutannya, ia berhenti disebuah gang sempit dan sepi. Menangis sesenggukan seorang diri. Ia hancur dan rapuh, memeluk kedua kakinya dengan peluh dan air mata yang jatuh secara bersamaan.


Tanpa ia sadari, beberapa orang lelaki sedang mengintai dari sudut gang dengan wajah beringas. Menatap Rena dengan tatapan tajam seperti hendak memangsa.


Para lelaki yang berjumlah tiga orang itu perlahan mendekat dan salah satu dari mereka membekap mulut Rena dan menarik tubuh sintal itu menjauh dari Gang.


Rena yang dalam keadaan tak siap langsung terkesiap dan meronta saat tubuhnya tiba-tiba di angkat dan dibawa entah entah ke mana.


Gadis itu tak mau kalah. Ia menggigit tangan si Pria hingga ia terlepas. Tatapannya nanar saat melihat tiga orang pria kekar dan berotot menatap tajam padanya.


"Serahkan semua barang berhargamu kalau kau masih ingin bernyawa!" ancam salah satu dari mereka.


Rena mencengkeram erat ransel yang ia bawa. Semakin mereka mendekat semakin Rena mundur untuk menghindar, hingga tubuhnya mentok di dinding dan tak mampu bergerak.


"Serahkan barang itu atau kau mau mat* mengenaskan saat ini juga!" lelaki itu mengacungkan pisau yang berkilau.


Rena masih bersikukuh dengan barang yang ia bawa. Suasana teramat sepi. Bangunan yang sudah separuh rubuh di antara semak itu membuat nyali Rena ciut, tapi gadis itu tetap pantang menyerah.


"Tolong! tolong!" teriaknya kencang hingga membuat para penjahat gusar.


"Hei! tutup mulutmu!" sentak mereka serentak.


"Tolong! tolong!"


"To...,"


Crak-crak-crak!


Tusukan bertubi-tubi di layangkan ke tubuh Rena.

__ADS_1


Brughht!


Gadis itu ambruk dengan bersimbah darah. Rena...


__ADS_2