SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_21


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#Part_21


#by: R.D. Lestari.


"Bima ... tolong aku ...,"



"Indri! kau kah itu!"



Senyap. Tak ada jawaban sedikitpun. Lantas, suara siapa itu? apakah semilir angin malam yang membawanya?



Hati Bima terasa amat sakit, seolah separuh jiwanya hilang. Ia amat yakin saat ini Indri tak baik-baik saja. Yang sangat mengusik hatinya adalah kenapa kekuatannya seolah tak mampu menembus keberadaan Indri?


Wuzhhhhh!


Bima melesat terbang kembali ke rumahnya. Melewati bukit dan menerjang pepohonan di bawah sinar rembulan.


***


"Kak, ada Deren yang menunggumu sejak tadi," Diana, adik Bima segera mendekati nya begitu melihat Bima datang. Deren yang tau kehadiran Bima langsung berdiri dan menarik tangan Bima menjauh dari Diana. Diana yang sadar akan kehadirannya yang mengganggu tersenyum kecut dan pergi menghindar.



"Ada apa, Der? tumben kau mam ...,"


__ADS_1


"Hussst! buang energimu untuk berbasa-basi. Aku punya berita penting untukmu dan ini menyangkut nyawa kekasihmu, Indri!" Deren memotong ucapan Bima.



Mata Bima terbeliak tajam mendengar nama Indri. Dari mana Deren tau tentang Indri? sedangkan ia tak pernah bercerita sedikitpun tentang Indri dengan siapa pun.


"A--apa maksudmu? dari mana kau tau tentang Indri?"


"Aku tau semua. Percayalah padaku. Indri saat ini dalam bahaya. Silva menculiknya,"


"Silva menculik Indri? atas dasar apa?"


"Silva tak terima kamu memutuskan cintanya karena kehadiran Indri. Ia merasa terhianati," Deren menjelaskan dengan wajah yang merah. Ia berusaha menahan amarah karena adiknya telah di hianati Bima.


"Kau salah sangka, Der. Silva lah yang sudah memutuskanku. Dan Indri tak ada sangkut pautnya dengan hubungan kami. Ia datang saat aku sudah lama putus dengan Silva,"


"Benarkah?"


"Benar, Der. Aku tak mungkin bohong padamu. Kau tau sendiri sikap adikmu itu bagaimana,"


"Cepat, kau tolong Indri. Ia di sekap di menara tua di bawah kaki bukit. Kau mungkin akan susah melacaknya karena ada beberapa pilar yang ia pasang dengan mantra," Deren akhirnya membuka suaranya.


"Bagaimana aku bisa tau jika aku tak bisa membuka tabir itu? mantra apa sebagai menangkalnya?" Bima semakin bingung.


"Ini, sudah kusiapkan penangkal mantranya. Bacalah dan kau akan dengan mudah menemukan kekasih hatimu," Deren menyerahkan selembar kertas pada Bima.



Sejenak Bima tercengang melihat panjang nya mantra penangkal. Namun, dengan bantuan Deren, ia bisa dengan mudah mengucapkannya. Mata Bima kemudian terpejam dan pikiran nya segera fokus mencari keberadaan Indri.



"Indri!" tiba-tiba tangan Bima mengepal keras. Matanya berubah merah. Giginya bergemeretuk menahan geram. Ia segera berlari keluar rumah membentangkan sayapnya yang lebar. Sayap indah itu memancarkan kemilau dari pantulan sinar bulan. Mengepak hebat hingga pepohonan pun bergoyang karenanya.


__ADS_1


"Hati-hati, Bim!" ucap Deren ketika Bima siap melesat di udara mencari Indri.


***


Indri terbaring lemah di lantai dengan tubuh menggigil. Ia demam dan kelaparan. Kulit bibirnya mengelupas akibat jarang tersentuh air. Terakhir kemarin malam ia makan dan minum, itupun karena belas kasihan dari lelaki yang menolongnya.



Tubuh Indri panas. Ia demam akibat terlalu lama tidur di lantai dan kedinginan. Indri merasa umurnya sudah tidak panjang lagi. Matanya pun terlalu berat untuk di gerakkan.



Ia sudah pasrah. Untuk kesekian kalinya bibir mungilnya menyebut nama Bima, pria yang saat ini amat dicintainya.


***


Di luar menara kini Bima di hadapkan dengan sekumpulan werewolf yang siap menerkam dan mencabik tubuhnya. Makhluk yang berjumlah lebih dari sepuluh itu mengeram marah dengan bulu yang berdiri. Moncong mereka memamerkan gigi-gigi taring nan runcing. Mereka mengelilingi Bima seolah melihat Bima sebagai santapan.



"Auuuuuuuu ," lolongan mereka seketika membuat bulu kuduk siapa pun pasti berdiri, kecuali Bima.



"Aaaaaaaaaa ," Bima berteriak. Dari balik bibirnya mencuat taring yang tajam . Matanya menyala merah. Tubuh Bima yang awalnya kecil berangsur membesar dengan otot yang mencuat keluar. Kuku tajam bak pisau menambah kesan menyeramkan .



Satu persatu werewolf menyerang. Walau tertatih dan jatuh bangun nyata nya Bima bisa mengalahkan mereka.



Darah berceceran dan beberapa werewolf mat\* terkapar. Yang selamat lari tunggang langgang.


__ADS_1


Perlahan Bima melangkah menuju menara untuk mencari Indri. Ia meringis kesakitan karena bekas cakaran dan gigitan werewolf saat bertarung tadi. Namun ia tetap melangkah, demi menyelamatkan Indri, si pujaan hati...


__ADS_2