
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_63
#by: R.D.Lestari.
Aroma masakan menguar, membuat hidung Rena mengendus akan aromanya yang memikat. Suara panci yang beradu dengan spatula terdengar nyaring di indra pandengarannya, membuat gadis itu terpaksa membuka kelopak mata yang terasa amat berat menggelantung di mata.
"Hoaamm!" Ia merentangkan tangan dan menggeliat manja di tempat yang amat empuk baginya. Aromanya khas, seperti aroma ... kamar?
Netra Rena seketika membeliak saat ia menyisir semua ruangan yang amat sangat dikenalnya. Ya, ini kamarnya. Dan aroma nikmat menggoda ini, masakan ibu Rena?
Tap!
Kaki kecil Rena yang berukuran tiga puluh delapan ini menjejak di lantai marmer putih yang cukup dingin, membuat tubuhnya sedikit bergidik.
Tap-tap-tap!
Sedikit menjinjit ia melangkahkan kaki keluar kamar dengan membuka pintu perlahan.
Kriettt!
Derit pintu terdengar lirih. Sedikit rasa was-was bermain di hatinya. Apakah ini nyata, atau cuma sekedar ilusi dari James?
Samar dilihatnya seorang wanita membelakanginya sedang berdiri di depan kompor gas dua tungku. Tangannya terus bergerak seolah sedang menari dengan musik berisik perpaduan spatula dan panci kesayangannya.
"Ma--Mama?" lirih Rena. Wanita itu sedikit mengedikkan bahu dan berbalik menatap Rena.
Senyum merekah terulas bibir merahnya. Tatapan teduh yang amat Rena rindukan terpancar jelas dari mata indahnya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" sapanya.
"Mama!" seolah telah berpisah lama, Rena berlari dan langsung memeluk tubuh wanita yang ia panggil Mama itu. Airmatanya tumpah dalam pelukan mamanya. Rena merasa seperti kembali pada masa bocah yang haus kasih sayang Mama.
"Hei, kenapa? aneh sekali kamu, Sayang," Mama membelai rambut Rena.
Tek!
Tangan kirinya mematikan api kompor dan lantas membawa Rena ke arah meja makan, ia mendudukkan Rena di salah satu kursi berhadapan dengannya.
"Ma, Rena pergi sudah berapa lama? apa Mama baik-baik saja setelah Rena tinggal?"Rena tergugu sambil meremas baju yang di pakainya. Ia amat khawatir dengan keadaan orang tua satu-satunya yang ia miliki saat ini.
Ya, Rena hanya punya Ibu yang selalu sayang padanya dan juga adiknya, Reno. Saat Rena remaja, ayahnya menikah dengan wanita lain setelah ketahuan dua tahun berselingkuh. Itupun terjadi saat wanita simpanannya memeriksakan kandungannya bersama papanya Rena, dan kebetulan saat itu mama Renalah yang membantu, karena mamanya adalah asisten dokter kandungan.
__ADS_1
Itulah mengapa sikap Rena amat jutek dan terkesan bengis kepada semua lelaki, termasuk James. Ia sukar untuk jatuh hati. Selalu berpikiran buruk. Baginya semua lelaki itu sama. Sama buruk nya seperti papanya. Walaupun berulang kali Mama selalu menasehatinya, Rena tak mau perduli.
"Memang kamu kemana, Sayang? semenjak Mama pulang tadi pagi, kamu Mama lihat masih bergumul di kasur empukmu itu. Mama sengaja ga banguni, kayaknya kamu capek sekali. Apa banyak tugas di kampus, Sayang?"
Degh!
Rena terdiam. Otaknya bekerja keras. Bagaimana bisa ia berada dalam kamarnya? bukankah barusan ia berada dalam mobil mewah James? dan James, kemana pria pemarah itu sekarang? di mana dia?
Tatapan Rena kosong. Mengingat pertengkarannya dengan James saat itu. Bagaimana James menatapnya tajam dan mengacuhkannya. Seketika itu hati Rena sakit. Ia mencengkeram dadanya dan menunduk kesakitan. Rasanya pedih bagai tersayat sembilu.
"Ada apa, Rena? kamu sakit?" Mama menatap nya dengan khawatir.
"Rena tak apa, Ma...,"
"Sungguh?"
Rena tersenyum getir dan mengangguk. Ia hanya tak ingin mamanya tau apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
"Ma ..., Rena mau tanya sesuatu, boleh?"setelah sakitnya reda, ia memberanikan diri bertanya pada mamanya.
"Mau tanya apa, Nak?"
"Ma, kenapa terkadang hati kita sakit saat memikirkan sesorang? itu tandanya apa, Ma?"
Mama mengernyitkan dahi. Ia seperti berpikir keras. Menatap dalam manik coklat Rena tanpa berkedip sedikitpun.
"Em, emm, bukan Ma," Rena menggeleng pelan.
"Laki-laki?" tebak Mama. Ia sepertinya mengerti kegusaran hati Rena.
"Iya, Ma," lirihnya berbarengan dengan anggukan kepalanya .
"Emhhh, sudah kenal lama? siapa dia?" sejurus kemudian Mama tersenyum simpul dan menyandarkan tubuhnya.
"Be--belum, Ma. Baru beberapa hari," jelas Rena bertambah bingung oleh pertanyaan Mama yang seperti mengintrogasinya.
"Syukurlah, akhirnya kamu bisa jatuh cinta. Awalnya Mama mengira jika kamu tak akan pernah suka dengan pria manapun karena trauma terhadap perlakuan papamu," Mama menghela napas dalam seperti lepas dari bebannya selama ini.
"Jatuh cinta?" Rena pun tak kalah terkejutnya dengan Mama.
Seumur hidup Rena belum pernah berpacaran dengan siapa pun. Kecuali saat bertemu Bima. Ya, Bima yang waktu itu membantu dirinya dan kedua temannya saat tersesat.
Bima sempat menggetarkan hatinya, karena saat menatap matanya, Rena merasa jika Bima adalah sosok yang berbeda.
Tapi, ternyata dari awal Bima tak pernah merespon Rena. Ia malah semakin gencar mendekati Indri dan menikahinya.
__ADS_1
Itu juga yang menjadi sebab terbakarnya api cemburu dan juga sumber kebenciannya pada Bima.
Sedangkan Indri?
Rena tak mungkin membenci Indri. Bagaimana pun mereka bersahabat sudah lama dan Indri sudah sering membantunya, dan bagi Rena itu bukan salah Indri. Tetap saja semua salah lelaki. Karena lelaki itu sama. Sama-sama penebar pesona.
Dan Rena tak mengerti pada saat itu ia merasakan cinta atau cuma rasa suka pada Bima? Ia hanya merasa marah dan tidak suka ketika Indri berdekatan dengan Bima.
"Rena ... kenapa melamun?" usapan lembut tangan Ibu menyentuh pipinya pelan. Rena terkesiap dari lamunannya dan menatap sendu ke arah Ibu.
"Rena bingung, Bu. Sungguh. Rena tak pernah merasakan perasaan seperti ini. Dulu ... dulu sekali hanya merasa kesal dan benci saat seorang lelaki lebih memilih sahabatku, tapi beda dengan perasaanku saat ini,"
Bulir bening tiba-tiba merembes dari pucuk mata Rena. Mama dengan sigap menarik Rena dalam peluknya dan Rena tangis Rena akhirnya tumpah di sana.
"Istirahatlah, Rena. Kamu butuh menyendiri di kamar. Apa pun masalahmu, Mama ada untukmu, kapanpun dan di manapun," sapuan lembut kembali dirasakan Rena menyentuh punggungnya.
Mama menggiring Rena masuk ke dalam kamar, menaiki ranjangnya dan meringguk memunggunginya.
Gadis itu menangis di balik bantal coklat bergambar pikachu kesukaannya. Mama melangkah pergi meninggalkannya, membiarkan ia menyendiri, karena Mama tau saat ini anaknya sedang patah hati. Patah hati pada seorang lelaki .
Setelah mengusap kepala anaknya, Mama melangkah pergi meninggalkan Rena, membiarkan Rena dalam kesendirian barang sesaat. Ia amat yakin anaknya saat ini patah hati. Patah hati pada seorang lelaki.
***
James menatap Rena di sudut kamarnya. Lelaki tinggi itu rupanya tak tega melihat kesedihan Rena. Ia tak tau jika Rena, gadis yang di sukainya itu ternyata amat rapuh.
Sedari tadi sebenarnya James ada dan memperhatikan gerak-gerik Rena tanpa celah.
Setelah ia membawa Rena pulang, James membawa Rena berteleportasi dan mengundur waktu menjadi saat sebelum ia membawa Rena pergi waktu itu.
Ya, makhluk sepertinya memang bisa berteportasi dan menjadi penjelajah waktu. Ia bisa kembali ke dunia dulu, sekarang dan masa depan hanya dengan jentikan jari.
Itulah kenapa Rena seperti tidak kemana-mana, padahal ia baru saja pulang dari jalan-jalan bersama James, tepatnya di culik James.
James mendekatkan diri pada Rena saat Rena mulai tertidur. Tetap transparan agar Rena tak mengetahui kehadiran nya. Sesekali ia melihat Rena mengigau dan menyebut nama dirinya.
James terpaku saat ia membaca pikiran Rena. Rena ....
Haiiii terimakasih readers sudah mampir... part ini kita pake untuk Rena dan James dulu, ya....
__ADS_1