SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_83


__ADS_3

Bismillah


           SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_83


#by: R.D.Lestari.


   Rena mempercepat langkahnya menuju ke kelas. Ia merasa sangat bersalah sudah membuat Sri cemburu, sedangkan ia tak punya maksud seperti itu.


   "Ren ... Rena!"


  Suara seseorang menghentikan langkah Rena. Rena berbalik dan mencari asal suara.


   Aldi kini berada tak jauh dari tempatnya berdiri, tersenyum manis dengan membawa sebatang coklat kesukaan Rena.


   Aldi melangkah mendekati Rena, dengan senyum yang masih terkembang, ia mengulurkan batangan coklat itu pada Rena.


   "A--apa, ini, Al?"


   "Ini coklat untukmu, Ren,"


   "Ta--tapi, Al, aku ...,"


   "Jangan di tolak, Ren. Karena aku ...,"


    "Aku membelinya khusus untukmu," Aldi sedikit memaksa agar Rena mau menerima pemberiannya.


    "Te--terima kasih, Al," Rena mengulas senyum terpaksa. Ia sedang tak ingin makan coklat, sebenarnya. Hatinya sedang tak enak. Ia takut Sri berpikiran buruk padanya.


     Lama Rena menunggu di kelas, sampai akhirnya Sri datang dengan wajah tak biasa. Ia acuh saat Rena mengajaknya berbicara.


    "Sri? Loe marah?" Rena menatap Sri dalam. Sahabatnya itu hanya menggeleng.


    "Ga, kenapa gue harus marah," sahutnya sambil merogoh buku di dalam tas.


    "Prihal obrolanku dengan Pak Dosen ...,"


     "Aku tak punya hak untuk marah, Rena. Pak Dosen bukan siapa-siapa, dan kami hanya berteman," Sri menelan salivanya susah payah. Serasa tercekat di kerongkongan. Bagaimana bisa ia jujur kepada Rena?


   Ya, saat ini ia sedang marah dan terbakar cemburu, tapi siapa dia? dia hanyalah orang yang memendam cinta pada seorang dosen, dan dosen itu hanya menganggap dirinya seorang ... teman.


    "Sri ...,"


    "Sudah ya, Ren. Bel sudah berbunyi dan aku ingin fokus belajar," Sri sebisa mungkin menahan amarah dengan wajah datarnya.


     Rena akhirnya menyerah dan kembali ke tempat duduknya. Sekilas ia melihat Sri. Sedih menelusup relung hatinya.


***


    Kampus sudah mulai sepi. Rena sengaja menunggu Sri di parkiran. Ia memang terbiasa pulang bersama Sri.


Namun, sudah setengah jam ia menunggu, Sri tak jua datang . Rena yakin jika Sri belum keluar, karena sedari tadi ia tak melihat sosok Sri di sekitar.


     Retina Rena menangkap kelebatan bayangan yang ia yakin jika itu Sri. Rena berlari mengikutinya dan ia tertegun saat bayangan Sri masuk ke dalam ruangan Pak Dosen.


    Rena tak berani mendekat. Ia pun berbalik dan meninggalkan Sri dan tak mau ikut campur urusan Sri dan juga dosennya, Giorgino. Adik dari kekasihnya, James.


***


     "Ada apa, Sri. Kenapa ingin menemui saya?" Dosen Gio menatap aneh muridnya.


     "Pak, apa Bapak menyukai Rena, teman saya?" kata-kata Rena bak panah yang menghujam hati Gio. Ia sama sekali tak menyangka Sri akan melontarkan kalimat itu untuknya.


    "Sri, Rena itu muridku. Tak mungkin aku mencintai seorang murid?"


    Degh!


   "Eh, maksud saya, saya tak mungkin.. ,"


   Sadar jika ucapannya barusan pasti menyinggung perasaan Sri, Gio cepat-cepat meralatnya.

__ADS_1


    Ia bisa membaca kekecewaan di mata Sri dan juga pikiran gadis di hadapannya itu.


    Sri mencengkram tas ranselnya dan mundur beberapa langkah. Matanya mulai berkaca-kaca. Jika tak mungkin bagi dosennya mencintai muridnya, kenapa selama ini seolah memberi harapan? apa Sri hanya sebuah mainan baginya?


    "Se--Sri, tidak seperti itu. A--aku...,"


    Sri yang telanjur kecewa membalikkan badan dan berlari tanpa arah keluar dari ruangan Gio. Hatinya terlampau sesak. Seolah selama ini di permainkan cinta buta dosen gantengnya.


Rena yang masih setia menunggu Sri di parkiran tertegun saat melihat sahabatnya itu berlari sembari berurai airmata.



"Sri!" setengah berlari Rena mengejar Sri, tapi Sri malah semakin kencang berlari meninggalkan Rena yang terdiam termangu.


***


"Hufft," Rena menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuknya. Ia merasakan otot-ototnya mengencang dan kepalanya terasa sakit. Untuk pertama kalinya ia merasa telah mengecewakan Sri, sahabatnya.


Rena merogoh tasnya, mencari handphone dan menekan aplikasi hijau. Berusaha menghubungi sahabatnya itu.


Tut-tut-tut!



Berulang kali Rena menelpon tapi tak jua ada sahutan dari seberang sana. Sri memang benar-benar sudah salah sangka.



Wusshh!



Rena merasakan tengkuknya menghangat, hembusan nafas berbau mint yang menyengat dan menggelitik di bagian belakang telinganya.



"James... jangan mulai," Rena membalikkan tubuhnya yang masih dalam kondisi menelungkup. Ia merasakan tubuhnya seperti tertindih dan ia mulai kesusahan menghirup udara bebas.



Sejurus kemudian sosok transparan itu mulai di tutupi kabut putih yang semakin lama membentuk tubuh dan wajah tampan kekasihnya, James.


Lelaki tampan itu berdiri dan duduk menghadap Rena. Ia melihat raut kesedihan di wajah Rena.



"Sedih karena Sri?" tebaknya.



"He- em," Rena mengangguk pelan.



"Itu semua karena Gio, adik kembarmu itu. Akh, menyebalkan jika mengingat hal itu," Rena berdecak kesal.



"Ya, wanita itu di mana-mana sama, suka cemburu," James menyunggingkan senyum mengejek.



"Jadi, cuma wanita? laki-laki enggak?" Rena berkacak pinggang. Berdiri menghadap James yang masih terduduk dan mendongakkan wajahnya, menatap Rena yang menyeringai ke arahnya.


"Enggak," James ikut berdiri dan kini berbalik, Rena yang mendongakkan pandangannya ke arah James yang tingginya jauh melebihi Rena.


"Oke, kalau gitu aku bisa menikmati coklat dari Aldi tanpa rasa bersalah padamu," kali ini Rena yang balik menyunggingkan senyum mengejek, tanda peperangan di mulai.



Rena merogoh coklat batang dalam tasnya, dan membuka bungkusnya di hadapan James yang wajahnya berubah merah padam. Tangannya mengepal melihat Rena yang asik mengunyah coklat di tangannya dengan nikmat.

__ADS_1



Hup!



Secepat kilat James merebut coklat dari tangan Rena hingga gadis itu hampir saja tersungkur karena pergerakan James yang tiba-tiba dan cukup kuat.



"Hei, Tuan! itu tak sopan!" hardik Rena.



James mengulas senyum smirknya. Pertanda kemenangan kini berada dalam genggamannya.



Pluk!


Coklat yang baru saja digigit Rena kini terbang ke arah tong sampah dan berdiam di sana.


Rena menatap nanar coklat yang amat ingin di kunyahnya itu.



"James!"



Suara Rena menggema hingga ke seluruh ruangan. Reno yang saat itu sedang berada di ruangan TV dan sedang menonton Spongebob segera beranjak dan berlari ke arah kamar Rena, kakaknya.



Dok-dok-dok!



Reno menggedor kamar kakaknya. Ia sungguh khawatir mendengar teriakan Rena barusan.



"Kak Ren! buka pintu!"



Dok-dok-dok!



Rena dan James saling berpandangan. Tatapan khawatir tersirat dari mata bulat Rena.



"James! cepat pergi! aku tak ingin Reno tau, bisa gawat! Mama bisa murka!" wajah Rena memelas.



"Ga, aku ga mau! biar aja sekalian mereka tau, biar kita bisa nikah sekalian," tantang James sembari berkacak pinggang.


"Ah, kau gil*, James. Aku belum lulus kuliah, kasihan Mama. Please James ...," mohon Rena setengah menangis.


Di tengah kekalutan antara James yang kekeh tak mau pergi dan Reno yang terus menggedor kamarnya, Rena akhirnya pasrah saat Reno mengancam akan mendobrak paksa.



Kriettt!



Rena membuka pintu kamarnya. Dan mata Reno terbelalak saat melihat ke dalam kamar Rena, ia ...

__ADS_1


Bersambung 🥰🥰🥰🥰 terimakasih sudah mampir di cerbung saya .


   


__ADS_2