SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_102


__ADS_3

Bismillah


          SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_102


#by: R.D.Lestari.


    Kupandangi jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Rasa kantuk tak juga menyergap mataku.


   Oh, Tuhan. Pikiranku melayang entah ke mana. Berada di antara dua cinta memang sangat membingungkan. Aku tau mereka pun punya rasa yang sama dan mungkin sama-sama besar kepadaku, walaupun awalnya aku yang menunjukkan rasa sukaku pada Gio, tapi sekarang ia yang mat*-mat*an mengejar cintaku. Apakah itu karma, atau sebuah teguran?


   Aku meremas sarung bantal dan menenggelamkan wajahku dalam-dalam. Sesak, sakit dan perih jadi satu. Seluruh badan terasa lunglai dan meriang tak menentu. Seperti inikah berada dalam dilema dua cinta?


    Seandainya Hans tak datang dalam kehidupanku saat ini, mungkin aku sudah berbahagia bersama dosen gantengku, Pak Gio. Begitupun jika Hans dari dulu menyatakan perasaannya padaku, aku yakin tak akan tergoda dan cintaku tak akan tumbuh untuk Pak Gio, dosenku.


    Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya perlahan. Mengapa rasanya semakin sesak?  seperti ada belati yang tertancap di sana. Kenapa harus ada dua pria? kenapa... kenapa dan kenapa.


    Rasaku hanyut pada buaian cinta yang fana. Aku ingin satu saja yang mengisi hatiku. Aku bukan wanita rakus, aku juga bukan wanita yang tak setia. Rasa ini teramat menyiksaku. Berada di dua pilihan tidaklah muda.


   Ya, Tuhan... mengapa ini terjadi padaku? Hans dan Giorgino, dua nama indah yang kini tersemat di hati.


    Awalnya aku tak begitu memperdulikan Hans, tapi semenjak ia berniat serius dan mau sabar menunggu, dimatanya kulihat ketulusan dan cinta untukku.


   Begitupun Pak Gio, aku sebenarnya sudah menyerah untuknya dan ingin membuka hati untuk Hans, tapi apa kenyataannya? Pak Gio dengan gigih ingin meraih kembali hatiku. Ia pun sudah meminta ijin pada Nenek untuk mendekatiku.


    Sekarang aku berada dalam jurang kebimbangan. Antara cinta dua pria. Pria yang datang dari masa lalu dan masa sekarang.


    Dok-dok-dok!

__ADS_1


    Suara ketukan di jendela membuatku terhenyak. Siapa yang mengetuk di tengah malam menjelang pagi seperti ini?


   Kakiku menjejak di lantai, sedikit gemetar tapi tetap melangkah. Rasa penasaran yang kian membuncah membuatku menepiskan rasa takut.


   Krettt!


   "A--apa-apaan, ini?" netraku menangkap pemandangan tak biasa di luar jendelaku.


   Pak Gio, ya, lelaki itu datang dengan tubuh yang terbuka, menampakkan tubuh sixpack dan berotot. Yang lebih mencengangkan, di balik tubuh indahnya, mengembang sayap yang merentang lebar. Sayap berwarna hitam, mengepak hingga menciptakan angin yang cukup kencang.


     Plak-plak-plak!


    Ia mengepakkan sayapnya dan mendekat ke arahku. Aku seperti terhipnotis dengan ketampanan dan juga tubuh indahnya. Kulit putihnya yang berotot berkilau di terpa sinar rembulan.


    Detik berikutnya sayap itu mengatup dan suasana kembali hening, aku semakin terpana saat ia mendekat, wangi mint yang menguar menyeruak menusuk ke dalam indra penciumanku. Aku terbuai begitu saja saat wajahnya yang tampan kian mendekat dan mengecup pelan bibirku yang masih menganga.


     Cup!


   "Pa... Pak Gio? apa ini benar anda?" ucapku terbata.


   "Ya, ini aku... Ratuku yang amat kucinta, maukah kau ikut denganku, terbang ke duniaku yang indah dengan sayapku?" Giorgino mengulurkan tangannya. Aku termenung sejenak. Benarkah yang aku lakukan ini?


    "Tentu Sayang, kamu tau jika aku tak mungkin menyakitimu,"


    "Aku akan menjagamu sepenuh hati, yakinlah bidadariku, kamu akan aman bersamaku, aku janji. Ayolah, jangan takut,"


   Aku menyambut uluran tangannya dan keluar melalui jendela. Gio membawaku berjalan ketempat yang lebih luas, ia kemudian menarik pelan kedua tanganku dan membawanya ke leher agar aku bisa berpegangan.


    Sedangkan tangannya melingkar di pinggangku. Memeluk tubuhku seerat mungkin, membuat tubuhku bergetar saat menyentuh dada bidangnya. Aroma tubuhnya maskulin dan pria sejati. Aku tak menyangka ia bisa setampan ini. Lebih macho dan laki banget.

__ADS_1


    "Terima kasih pujiannya, cantik, sekarang ayo kita terbang," perlahan ia mulai mengepakkan sayapnya dan perlahan kaki kami mulai tak menapak dan mengambang di udara.


Semakin kencang kepakkan sayapnya maka semakin tinggi pula kami terbang. Aku gelisah, takut jatuh.



"Jangan takut, Sri. Aku ada di sini menjagamu," Gio semakin mempererat pelukannya.



"Ya, ampun. Indah sekali, Pak," tak sadar bibirku berdecak kagum saat melihat pantulan sinar bulan di air danau yang tenang, berwarna keemasan.



"Itu belum seberapa. Ayo, kita ke hutan Uwentira," Gio semakin melesat membawaku melayang terbang melintasi hutan dengan pohon tinggi menjulang. Amat menakjubkan di bawah pendaran cahaya bulan kuning keemasan.



Perlahan Gio memperlambat kepalan sayapnya dan turun diantara lebatnya hutan Uwentira. Kaki kami serentak menjejak di tanah. Gio menarik pelan tanganku menaiki undakan-undakan tanah yang membentuk anak tangga. Sedikit licin, tapi Pak Gio amat menjagaku. Ia tak pernah melepas tanganku dari genggaman tangannya.



Shuiiitt!



Shoniaaa!


__ADS_1


Gio bersiul saat kami sudah berada di atas dan di ambang hutan. Ia memanggil sebuah nama, yang aku tak tau itu siapa. Ia ...


__ADS_2