SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_33


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#Part_33


#by: R.D.Lestari.


"Heh, maksudnya apa, Dahlan? kamu ingin memutuskan secara sepihak hubungan ini?" Ayah menatap penuh amarah.


"Tentu saja. Belum apa-apa sudah pingsan dan tak bergerak seperti ini. Bagaimana esok?"



"Punya istri penyakitan bukan impianku. Aku tak sudi punya istri seperti ini. Cantik muka kalau bakal nyusahin seumur hidup, buat apa!"


Dahlan berdecak congkak di depan semua orang yang berkerumun di ruangan kamar Indri. Ibu yang mendengar ucapan Dahlan hanya bisa meneteskan airmata, ia sungguh hancur.


"Aku juga tak sudi punya mantu seperti dirimu, congkak. Pergilah kalian dari rumah kami, pernikahan ini batal!" Ayah dengan lantang mengusir semua tamu termasuk Dahlan, calon suami Indri. Mereka menatap dengan sinis seraya pergi dari rumah Indri tanpa mengucap sepatah katapun.


"Indri... maafin Ibu, Nak," Ibu tergugu di samping Indri yang masih tak bergerak sedikitpun. Hanya napasnya saja yang masih teratur dan terdengar denyut kehidupan pada dirinya.


***


"Sayang ...,"


Hembusan lembut terasa hangat di tengkukku. Wangi yang amat ku hapal kini hadir di sekitarku.


Aku menggeliat manja dan mengucek mata perlahan. Seraut wajah tampan yang amat ku kenal kini ada di hadapanku.



"Kak Bima ....," tanganku segera menggantung di lehernya, menciumi wajahnya dengan mesra. Kangen, aku begitu kangen memeluk tubuh kekarnya.



"He-he-he, kangen berat, ya?"



"Hooh, apa kita sudah bisa pulang?" aku menatap wajahnya penuh harap.



"Belum Sayang, ragamu masih di rumah,hanya rohmu yang sekarang mampir ke sini," Bima menarik tanganku pelan. Mataku berbinar melihat pemandangan yang kini terhampar, memanjakan mataku.


__ADS_1


Danau terbentang luas dengan background pepohonan hijau berjajar, air jernih beriak di bawah langit biru, memantulkan biasan pelangi yang amat indah. Bunga-bunga beraneka warna tumbuh sembarang memenuhi padang rumput yang amat luas. Kupu-kupu berterbangan menari menciptakan pemandangan bak surga. Nyaman dan tenang.



"Apa kamu sudah merasa enakan, Sayang?" Kurasakan sentuhan bibir Bima di sekitar leherku, menimbulkan getaran di dalam dadaku.


Tangan Bima yang kekar melingkar di pinggangku. Kecupan demi kecupan kurasakan menjalari leher dan punggungku.


"Aku kangen, Kak, jika ini mimpi rasanya aku tak ingin bangun," sahutku .



"Tapi, kamu harus bangun, In. Bukankah kamu akan pulang bersamaku ke rumah? menciptakan Indri dan Bima junior yang banyak. Apa kamu tak ingin punya anak?"


Bima memutar tubuhku dan menciumi bibirku mesra. Aku begitu menikmati permainan suamiku ini yang terasa amat lembut dan terasa manis.


Sedang menikmati permainannya, tiba-tiba ku dengar suara tangisan Ibu terasa amat nyaring di telingaku. Aku terdiam dan mendengarkan kembali dengan seksama, tapi Ibu tak ku temukan. Di mana dia?



"Pulanglah, Sayang. Tapi, kamu jangan heran, karena nanti kau tak akan mengenali siapa pun lagi. Itu karena kamu menerima lamaran lelaki lain, dan itu pantang," Kak Bima membelai wajahku pelan.



"Iya, Kak. Aku mengerti. Maafkan keputusanku ya, Kak. Aku begitu mencintaimu,"




Ia membawaku terbang mengitari padang rumput dan hamparan bunga, melewati danau yang memantulkan wajah tampannya dan melesat menembus langit yang penuh dengan awan berbagai bentuk.



Setelah puas mengajakku berkeliling, Bima, suamiku terbang rendah dan menjejakkan kakinya di dalam hutan yang gelap, ia membawaku ke sebuah sinar yang amat menyilaukan.



Tanpa bertanya pun aku sudah tau sinar apa itu, ini kali kedua Bima mengajakku ke sini. Ini lah jalan untukku bisa kembali ke rumah.



"Kakak tunggu kepulanganmu , Sayang," Kak Bima mengecup mesra keningku. Aku hanya mengangguk dan berjalan menuju sinar. Semakin lama sinar itu semakin menyilaukan hingga menyakiti mataku. Aku terpejam dan ...


***


"Nak ... Nak,"

__ADS_1



Tes! tes! tes!



Tetesan air kurasakan membasahi pipiku. Ku buka mataku perlahan, di mana aku?



Seorang Ibu berusia cukup tua menatapku penuh haru. Air matanya tumpah dan membasahi pipinya yang mulai mengeriput . Wanita itu duduk di samping ranjangku.



Di belakang Ibu tadi, berdiri seorang lelaki yang juga sudah berumur menatapku dengan raut wajah penuh kekhawatiran.



Sebenarnya siapa mereka ini? kenapa mereka melihatku dengan wajah sedih begitu?



"Nak, alhamdulillah kamu sudah siuman," wanita itu menatapku penuh haru dan menciumi pipiku. Aku hanya terdiam. Tak sedikitpun ingatanku berbicara tentangnya. Tempat ini begitu asing.



"Indri, kamu kenapa, Nak?"



"Indri? Ibu itu menyebutku Indri? apa itu namaku?" batinku .



"Indri, jawab, Nak!"



"Ayah, kenapa Indri menjadi seperti ini?" wanita itu menatap suaminya bingung, lelaki yang di tatapnya hanya diam terpaku.


"Ayah, jawab, Yah. Jangan diam saja,"


"Jadi, Ayah di suruh apa, Buk? ini semua karena ulahmu! jika saja kamu mau menerima Indri dan kehidupannya, aku yakin Indri tak akan menjadi seperti ini!"


"Yah, kalau tau begini, aku tak akan memaksa Indri menikah! aku menyayangi Indri, Yah!"


"Ya sudah, kau terimalah ulah perbuatanmu! Indri tak akan bisa kembali seperti dulu. Kita sudah kehilangan dia!"

__ADS_1


Lelaki itu luruh dan menangis tergugu. Begitu pun wanita yang sejak tadi menyebut dirinya Ibu. Aku ingin menolong, tapi aku ini siapa?


__ADS_2