SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_47


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#part_47


#by: R.D.Lestari.


"Kenapa dengan Indri, Bima?" raut penuh kekhawatiran terpancar jelas di wajah Ibu ketika aku memasuki rumah.


Semua orang di ruangan itu menatap Indri dengan cemas. Bagaimana tidak? tubuh ramping di pelukanku saat ini penuh darah yang sudah mulai mengering.


"Indri terlibat pertarungan dengan Deren dan Silva. Itulah yang terakhir ku ketahui," jawabku.


"Pertarungan?"


"Ya, dan Ibu tak perlu khawatir. Indri hanya pingsan, Bu,"


"Saya mohon izin, Bu. Saya mau membawa Indri biar beristirahat di kamar dulu," ujarku. Ibu dan yang lainnya mengangguk. Rasa penasaran mungkin menelusup di hati mereka, aku tahu itu. Namun, tak mungkin kuungkap saat ini juga, karena keadaan tidak memungkinkan.


Gegas kubawa Indri masuk ke dalam kamar, hanya Anima yang kuizinkan masuk karena butuh bantuannya. Ia kuperintah untuk mengambil air hangat dan juga handuk. Dan, dalam sepersekian detik, Anima sudah datang membawa bahan yang aku minta.


Perlahan ku basuh tangan Indri dengan handuk yang sudah basah. Benar, seperti apa yang aku pikirkan, luka itu sudah menutup sempurna. Indri sudah sempurna menjadi makhluk sepertiku.


Kupandangi wajahnya yang merona merah. Cantik alami tanpa polesan. Siapa yang tak jatuh cinta pada wanita sepertinya?


"Sayang ...," lirih kupanggil dirinya. Ku genggam tangannya berharap wanitaku segera bangun, tapi wanita cantik itu tetap diam membisu.


Ku kecup punggung tangannya rindu. Aku begitu merindukan senyum dan ocehan manjanya. Saat ia tersipu malu dan tatapan sendu yang meruntuhkan duniaku.



Aku tersentak tatkala jemari lentiknya mulai bergerak. Mata yang kurindukan itu pun mulai mengerjap.



"Sa-- Sayang...," panggilku saat mata sendu itu menatapku penuh haru. Bulir bening merembes di pipinya yang halus.

__ADS_1



"Bima ... Sayang ....," jemari lembut itu menyentuh wajahku, ia mulai tergugu.



"Iya, Sayang ... ini aku, Bimamu," ku kecup bertubi-tubi jemari itu. Aku bahagia. Amat bahagia saat permaisuri hatiku kembali membuka mata dan mendengar suaranya yang merdu.


"Sayang, bagaimana kau bisa ...,"


"Cintamu yang membawaku kembali, Sayang. Di saat aku akan pergi jauh dan kehilangan arah, suaramu dan cintamu yang menuntunku,"


"Kamu memang cinta sejatiku," ku kecup bibirnya yang lembut.


Cup!



Indri menyambut ciumanku dengan hangat. Ia begitu menikmati hingga lupa jika kami baru saja mengalami kejadian buruk. Cukup lama kami terpaut dalam ciuman mesra, hingga akhirnya aku melepaskannya.




Tangan Indri melingkar di leherku. Menariknya hingga aku jatuh di atas kasur. Beruntung Anima sudah tak berada di ruanganku. Hingga kami bisa melepas rindu.


Memadu kasih hingga tak tau waktu.


***


Cit ! cit ! cit !



Kukerjapkan mata, dua ekor burung kecil bernyanyi riang di luar jendela. Burung berwarna hijau dengan warna kuning di kepala dan berparuh merah terbang riang, sesekali mereka hinggap di ventilasi dan kembali terbang kesana-kesini.


Pluk!

__ADS_1


Aku tersentak kaget saat tangan kiriku tak sengaja menyentuh benda lunak di sampingku. Wajahku bersemu merah saat melirik ke samping. Tubuh bidang sedang tidur nyenyak dengan wajah imutnya.


Aku memiringkan tubuhku menghadap lelaki tampan yang sedang tertidur pulas. Ini kali kedua bisa melihat ketampanannya secara utuh.


"Emmmmh," begitu nyamannya ketika kepala ini menempel di dada bidangnya.


"Eh, eh ... Sayang," rupanya Bima terbangun karena ulahku, tapi ia tetap membiarkanku berada di pelukannya. Malah tangannya yang kekar membelai rambutku mesra. Ada damai dan ketenangan ketika berada dalam pelukannya seperti saat ini.


"Sayang, kita harus mengantar Ibu dan Ayah pulang, kamu sudah enakan?" kata-kata Kak Bima menyentakku.


"Pulang?"


"Ya, Ibu dan Ayah harus segera pulang , jika tidak, Ibu dan Ayah tidak akan bisa pulang kembali, karena portal yang segera tertutup,"


"Bukankah portal hanya di waktu tengah malam sampai menjelang subuh?"


"Iya, Sayang. Itu berarti besok sebelum subuh kita anter Ibu dan Ayah kembali pulang. Kamu keberatan , ya?"



"Aku masih kangen mereka," sahutku


"Iya, Sayang. Hari ini kamu bisa bersenang-senang dan melepas rindu pada mereka,"


Cup!


"Terima kasih, Sayang,"


***


Tepat jam tiga dini hari Ayah dan Ibu berpamitan kepada besannya . Dengan melepas pelukan dan beberapa buah tangan seperti beras, kain-kain sutra , kue-kue dan buah-buahan hingga mobil alpard penuh karena nya, ibunya Kak Bima masih juga memberi Ibu kotak merah berukir yang tak kuketahui apa isinya.


"Apa, ini ... Bu?"


"Ini ....,"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2