SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_121


__ADS_3

Bismillah


           SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_121


#by: R.D.Lestari.


"Apa kamu tak ingin punya kekasih dari bangsa manusia seperti Bima?" James semakin mendekat. Anima menelan saliva susah payah di pandangi dengan begitu intens oleh lelaki yang dari pandangan pertama sudah membuat hatinya bergetar hebat.


"Aku... tak mau. Aku lebih suka lelaki dari bangsaku sendiri. Ga ribet, ga perlu repot pulang-pergi ke dunia manusia yang kurasa capek dan jauh,"


"Begitu banyak tantangan saat bersama dengan manusia, perbedaan dan juga Kakak tau, kita dari dunia yang berbeda,"


"Kita ini bangsa Jin, Kak. Walaupun dari golongan Jin Muslim, tapi kita tetap tak boleh berhubungan dengan yang bukan bangsa kita, itu menurutku, sih," Anima mengulas senyum datar, ia berbalik dan berjalan pelan menjauhi James.


"Kamu mau ke mana, Anima?" sergah James seraya mengikuti langkah gadis berhijab pink itu.


"Apa Kak James tidak dengar? itu suara adzan begitu lantang terdengar, aku harus segera melaksanakan solat,"


"Di sini?"


Anima terkekeh mendengar ucapan James barusan. Ia pun menggeleng pelan.


"Ya, ga di pinggir jalan juga, Kak James. Di sekitaran sini ada kok Mesjid. Kak James mau ikut?" ajak Anima dengan mengulas senyum tulusnya.


Hati James bergetar mendengar ajakan Anima. Ia layu seketika mengingat dirinya yang jarang solat. Sehari-hari kerjanya hanya bersantai dan juga memikirkan Rena. Ia lupa dengan kewajiban pada Sang Pencipta.


"Ayolah, tak baik menunda waktu solat," suara Anima yang lembut bak hipnotis bagi James. Ia pun mengangguk dan melangkah mengikuti Anima. Beriringan menuju Mesjid.


Beberapa menit berselang , ternyata Mesjid yang dimaksud Anima memang letaknya tak begitu jauh dari jembatan.


James terkagum dengan bentuk Mesjid di tengah kota itu. Sangat megah dengan banyak kubah di atasnya. Mesjid berwarna kuning emas dengan arsitektur bak Mesjid di negeri arab yang amat megah seperti istana raja. Di pelataran mesjid sengaja di taburi pasir agar terlihat sama seperti istana di tengah padang pasir. Sungguh menakjubkan dan memanjakan mata.


...


...


James melangkah pelan memasuki pelataran mesjid. Kakinya sedikit gemetar karena lama tak pernah memasuki tempat ibadah umat muslim itu.

__ADS_1


Anima sempat melirik dan mengulas senyum getir. Nampak sekali jika lelaki di sampingnya ini gugup.


"Kak James, itu tempat ambil air wudhu laki di sana, aku ke tempat wudhu wanita dulu, ya. Nanti aku tunggu Kak James di sana," Anima menunjuk pelataran mesjid yang berlantai kuning keemasan. James hanya mengangguk, ia pun mengikuti ucapan Anima dan melangkahkan kaki menuju tempat wudhu khusus lelaki.


Percikan dan aliran air wudhu yang segar lagi menenangkan membuat lara di hati James perlahan menghilang. Bayangan Rena seolah tertutup sementara. James menjadi lebih santai dan bisa bernafas normal seperti biasa.


James memasuki aula mesjid yang penuh dengan Asma Allah dan kaligrafi indah. Di atas banyak lampu kristal bertebaran.


James menatap sekilas gadis yang tersenyum manis padanya saat ia tak sengaja melewati saf perempuan. Gadis itu tampak cantik dengan mukenah ungu bermotif bunga sakura.


James balik tersenyum dan terus melangkahkan kakinya menuju barisan laki-laki. Ikut melaksanakan solat berjamaah yang sudah sangat lama ia tinggalkan.


Waktu berjalan begitu cepat, hingga James tersadar ia sudah beberapa jam di dalam mesjid. Ia lupa jika gadis itu pasti menunggu dirinya di pelataran mesjid.


Gegas James bangkit dan berlari kecil menuju pelataran Mesjid. Matanya menyusuri sekitar. Mencari keberadaan gadis yang seharian ini menemani langkah kakinya.


"Hufffft," James menghela nafas kasar, sangat menyesal kenapa bisa lupa.


James menyandarkan tubuhnya di dinding luar mesjid. Menatap indahnya Kota Uwentira dari tempatnya berdiri. Ramainya pusat kota dibalik ketenangan mesjid. Sangat kontras dan berbanding terbalik.


Tap-tap-tap!


Suara langkah kaki yang mendekati nya membuat James seketika itu juga menolehkan pandangannya ke arah sosok pemilik langkah kaki.


"Ma--maaf, Anima. Aku terlalu nyaman berada dalam mesjid hingga lupa jika kamu menunggu di luar," sesal James.


"Ya, seharusnya aku marah, Kak. Tiga jam-an loh aku nungguin, tapi ga apa. Tetap di maafkan," Anima mengulas senyum tulusnya.


James bernafas lega.  Ia pun membalas senyum Anima dengan manis pula.


"Pulang atau mau makan?" tawar James.


"Pulang aja, Kak. Hari sudah menjelang magrib, saya takut di cariin keluarga," sahut Anima pelan.


James mengangguk perlahan dan mengikuti langkah Anima keluar mesjid dan berjalan beriringan menuju cafe tempat motor James terparkir.


Begitu sampai, Anima langsung naik ke motor dan James segera mengendarai motornya secepat mungkin menuju rumah gadis manis berhijab yang sabar menanti.


Pintu gerbang terbuka dan seorang wanita cantik berdiri menyambut kedatangan Anima di rumahnya.

__ADS_1


"James? Anima?" wanita cantik yang ternyata Indri menatap heran kedatangan Anima dan James yang datang bersama. Rena ke mana?


"Saya permisi dulu, Bu Indri," pamit James.


"Terima kasih, Kak James sudah mengantar saya pulang," ucap Anima. Wajahnya bersemu merah menatap wajah James yang mulai kembali bersinar.


"Ya, sama-sama," sahut James. Pria itu berbalik dan ingin segera pergi, tapi suara Anima memaksanya berhenti.


"Tunggu, Kak,"


Anima melangkah mendekati James. Ia merogoh tas dan mengambil secarik kertas dan pulpen. Menulis sesuatu di kertas dan memberikannya pada James.


"Buka di rumah, ya," senyum manis tersungging di bibir pinknya. James mengangguk dan melangkah pergi.


Indri dan Anima masuk begitu punggung James sudah tak nampak di ujung mata.


"Dek, mana Rena? kok cuma berdua James?" selidik Indri. Ia mulai curiga melihat gelagat Anima yang seperti orang sedang jatuh cinta.


"Rena dah pulang, Kak," jawabnya singkat sembari terus melangkah menuju kamar.


"Pulang?"


"Ya, pulang,"


"Trus ngapain kamu sama James? berdua sajakah?" Indri terus mengikuti langkah adik iparnya hingga ke dalam kamar.


"Iya, tak sengaja bertemu dengan Kak James tadi di cafe,"


Degh!


Indri mencium bau-bau asmara pada diri Anima. Ia bukannya tak suka jika adiknya jatuh cinta. Terbaca jelas di pikirannya bagaimana Anima memuji ketampanan dan kebaikan James.


Namun, ia amat tau rasa cinta James pada Rena. Juga Rena. Memang Indri tak tau apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, tapi Indri tau pasti tak mudah bagi James melupakan Rena begitu saja. Takutnya Anima hanya jadi pelarian belaka. Ia hanya takut Anima terluka.


"Aku sudah dewasa, Kak. Tak perlu Kak Indri mengkhawatirkan diriku," sergah Anima dengan suara penuh penekanan. Ia kesal karena Indri terlalu ikut campur dengan hidupnya.


"Bukan begitu, Dek. Maksud Kakak...,"


"Sudahlah, Kak. Aku lelah, mau istirahat,"

__ADS_1


Indri mengangguk dan melangkah meninggalkan kamar Anima. Dalam hati ia menyesalkan sikap adiknya yang tak mengindahkan perkataannya. Ia takut akan terjadi prahara. Prahara cinta antara James, Rena dan Anima.


***


__ADS_2