
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#Part_95
#by: R.D.Lestari.
Pov Sri.
Bangun dalam keadaan super fit membuatku lebih bersemangat menjalani hariku. Merentangkan kedua tangan dan melemaskan otot-otot yang menegang.
Srettt!
Membuka tirai dan merasakan lembutnya sinar matahari pagi yang menyentuh kulitku yang lembut.
Seumur hidup aku tak pernah merasakan nikmat tidur seperti tadi malam. Berasa tidur dalam dekapan hangat seorang pria. Dada yang kencang dan keras serta sentuhan lembut di leher membuat aku merasakan indahnya punya pacar.
Keningku berkerut, tapi siapa yang menemani tidurku tadi malam? apa Pak Hantu?
"Ah, aku mungkin sudah gil*," lirihku sembari terkekeh.
"Hai, Pak Hantu, apa kau masih di sini? tenang saja Pak Hantu, jikapun kamu jelek, aku tetap mau berteman denganmu! asal jangan kau tampakkan wajah jelekmu itu,"
Tak ada sahutan. Ya, aku memang sudah gil*, bicara sendiri pada ruangan kosong tak berpenghuni selain aku sendiri.
"Hmmh, ya, sudahlah. Aku mau mandi dan hari ini, aku akan bertemu dosen menyebalkan itu," dengusku kesal.
Sedikit menjinjit kulangkahkan kaki ke kamar mandi. Mengguyur tubuhku dengan air dingin yang membuatku merasa segar dan sedikit menggigil.
"Hei, ceria sekali cucu Nenek," sapa Nenek saat melihatku keluar dari kamar mandi yang ada di dapur.
"Ya, Nek. Hari ini Hans berjanji mengantar Sri ke kampus, Nek," aku membalas sapaan Nenek dengan senyum yang tak kalah manis.
"Syukurlah, Nenek senang akhirnya bisa melihat senyummu," sahut Nenek.
Tok-tok-tok!
"Assalamualaikum," kudengar suara dari luar. Aku dan Nenek saling beradu pandang. Sedikit berjingkat aku berlari menuju kamar mandi. Hans sudah datang.
Tergopoh-gopoh Nenek berjalan menuju ruang tamu, sementara aku bersiap untuk menyambut kedatangan Hans.
Setelah memakai stelan dress dan juga blazer pink, juga sedikit polesan di wajah serta lipstik nude pink, gegas kutemui Hans di ruang tamu.
Langkahku terhenti seketika saat ku tatap Hans dengan senyum yang amat manis kini menatap ke arahku.
Hans sangat tampan, tapi entah kenapa berada di dekatnya tak menimbulkan getaran seperti ketika berdekatan dengan Pak Gio. Akh, Pak Gio lagi. Aku muak dengan perasaanku sendiri. Separuh hati ingin melupakannya, separuh lagi masih sangat berharap akan hadirnya.
"Sri, kenapa berdiri saja? ayo, cepat. Nanti kamu terlambat," seru Nenek membuyarkan lamunanku.
"Eh, iya, Nek," sahutku seraya berjalan pelan ke arah Hans yang masih intens menatapku.
__ADS_1
"Kami permisi dulu, Nek," Hans menjabat tangan Nenek dan mencium punggung tangannya. Aku dan Hans keluar dari rumah beriringan.
Sejurus kemudian, aku dan Hans sudah berada di atas motor yang melaju cukup kencang. Kali ini aku tak memeluk dirinya seperti kemarin, merasa canggung dan sungkan.
Hans pun tak banyak bicara. Aku rasa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, hingga kami terjebak dalam keheningan.
Ckitttt!
Motor menepi di pinggir jalan dekat gerbang kampus. Aku turun perlahan, baru saja aku berbalik dan kakiku menjejak di trotoar, netraku menangkap sosok yang amat menggetarkan hatiku lewat dengan mobil hitam mewahnya. Aku terpana menangkap sosoknya yang tampil amat sempurna pagi ini, dandanan klimis dan stelan jas yang rapi. Wangi maskulin yang terbang bersama angin hingga membelai indra penciumanku .
Aku segera menundukkan pandanganku, tak kuasa menahan gejolak dalam jiwa saat ia menatap tajam penuh amarah dan ancaman. Apakah karena ia melihatku bersama Hans? cemburukah ia?
"Sri--Sri?" tangan Hans melambai di depan mataku. Aku terkesiap dan pandanganku beralih padanya.
"Ya, Hans?"
"Kamu melamun, Sri,"
" Ah, tidak, Hans," bohongku.
" Ya, sudah. Aku pulang dulu, ya. Pagi ini kamu tampak amat manis, Sri," pujinya tulus.
Aku hanya tersenyum mendapat pujian darinya, tiba-tiba ada suara yang memanggil namaku, suara yang amat aku hapal dan juga kurindukan.
"Sriii!" gadis itu berlari ke arahku dengan senyum yang menawan. Aku menyambut kedatangannya dengan sukacita.
"Rena," aku memeluknya erat.
"Kita sudah ga marahan lagi, kan?" Rena menatapku dengan alis yang bertaut.
"Ya, tentu aja, Sri. Siapa yang tau jika mereka kembar? dan asal kamu tau, aku sempat cemburu padamu, dulu. Aku pun mengira dia itu James, he-he-he," Rena cengengesan.
"Hei, Rena. Apa kabarmu?"
Sontak Rena menoleh ke arah Hans yang memang sedari tadi masih duduk di motornya dan mendengarkan percakapan kami.
"Hans! ya ampun, ternyata memang kamu!" Rena menatap Hans sumringah.
"Kalian?"
"Em, em, enggak Ren! kita masih temen," sela ku.
"Tapi, ga tau kedepannya, Ren," Hans mengerling ke arahku.
Aku sedikit tersipu, tapi jujur aku tak berharap lebih dari ucapannya. Malah, hatiku terasa nyeri. Karena jujur aku masih sangat berharap Pak Dosenlah yang jadi kekasihku.
Aku dan Rena akhirnya berpamitan pada Hans. Dengan saling merangkul kami berjalan beriringan. Sungguh aku rindu bersenda gurau dengan Rena. Sahabatku ini.
Saat memasuki kelas pandangan mataku terarah pada seonggok benda di atas mejaku. Aku melangkah pelan dan mengambil benda itu dengan jari berdebar.
"So sweet sekali Gio, ia pasti sudah tergila-gila padamu," Rena menyikut lenganku pelan.
"Hmmh, dia tak ingin memacari murid, Ren. Tak ada harapan untukku, dia hanya PHP, Ren," sahutku seraya menghela nafas dalam. Sesak.
__ADS_1
"Mungkin itu dulu, Sri. Beda dengan sekarang. Tak maukah kamu membuka hati kembali untuknya, Sri?" Rena menatapku dalam.
Aku menggeleng pelan. Sudah cukup usahanya selama ini. Sepertinya aku dan dia memang tak ditakdirkan untuk bersama.
"Aku akan mengembalikan hadiah ini padanya. Aku tak ingin punya apa pun dari dirinya. Memikirkannya saja hatiku sudah sakit," aku menekan dada, rasa nyeri teramat sangat menyelimuti hatiku.
"Sri, pikirkan ulang perasaanmu. Jangan bohongi hatimu. Bisa saja Hans datang hanya sekedar kangen sebagai teman. Ingat, Sri. Gio lah yang hadir dan selalu ada saat kamu membutuhkannya," Rena berusaha menasehatiku.
"Dan dia juga yang sudah menghancurkan hatiku, Ren. Ia menolakku mentah-mentah. Apa kuasaku? akupun berhak bahagia, Ren. Aku butuh kepastian!" bulir bening hangat itu akhirnya tumpah jua. Merembes hingga pipi dan jatuh bergulir ke tanah.
"Sri, aku tau perasaanmu, aku ...,"
"Aku hanya ingin bahagia, Ren. Walaupun mungkin bukan dengannya. Aku bisa mengubur itu semua, kau tau aku, Ren. Aku sudah terbiasa dengan luka," aku menerima uluran tangan Rena dan memeluk Rena erat.
"Aku harus mengembalikan benda ini sekarang juga," aku mengurai pelukan Rena, membawa barang pemberian Pak Dosen bersamaku dan berjalan tergesa menuju ruangan Pak Dosen.
Tok-tok-tok!
"Ya, masuk," suara serak nan menggetarkan itu menjawab dari dalam.
Klek!
Krietttt!
Aku menekan handel pintu dan membuka pintu dengan perasaan takut dan was-was.
"Se-selamat pagi, Pak," ucapku sembari merunduk, aku tak kuasa menahan gemuruh saat berdekatan dengannya, jarak yang jauh pun wangi tubuhnya amat menyengat hidungku.
" Ya, ada perlu apa datang kemari,"
" Sa--saya ...,"
Duk!
"Aww!"
Karena berjalan sambil merunduk, dengkulku tak sengaja menyentak kursi, rasanya ngilu dan sakit, hingga membuatku mengerang.
"Sri,"
Krrettt!
Pak Gio menggeser kursinya dan berjalan tergesa mendekatiku.
Ia menyentuh kakiku dan terasa hangat dalam hatiku. Ia ...
...
...
__ADS_1