SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
Part_79


__ADS_3

Bismillah


         SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_79


#by: R.D.Lestari.


 


"Selamat pagi, Bu," sapaku saat wanita itu mendekat ke arahku. Selalu tak pernah ada jawaban darinya. Ia terus melaju seperti biasa mengacuhkanku, dan aku cuma bisa mengulas senyum kecut. Walau ia dulu pacarku, tapi sekarang dia adalah mantan dan juga bosku. Aku bisa apa selain mengelus dada dan sabar.


"Sombong ya, Bos kita?" Dion, temanku berbisik tepat di telingaku.


"Hussst, jangan sembarangan. Dia bos kita,"sahutku.


"Lagian, cari muka sih, loe," Dion mengejekku.


"Bukan gitu, dia kan bos kita, Yon," aku berusaha menepis pikiran buruknya. Bagaimanapun mencari kerjaan sekarang susah. Sayang jika salah kata di pecat. Mantan ya mantan, perut juga butuh makan. Cinta mah nomor sekian.


"Cih, sok alim kamu. Kalau aku mah males negur bos sombong begitu. Menang cantik aja dia, makanya dapat suami kaya. Lagian, aneh, suaminya ga pernah kelihatan. Apa dia hanya seorang simpanan?"


"Kamu ... astaga...," aku berdecak kesal.


"Ehm, ehem,"


Tanpa kami sadari, ternyata Bu Indri sudah berada di belakang kami. Dion yang saat itu sedang asik membicarakan Bu Indri kontan tersentak. Tubuh nya seketika gemetar, begitupun aku. Dadaku bergemuruh kencang. Takut melihat kemurkaan wanita yang pernah mengisi relung hatiku dulu, dan sekarang, tentunya. 


"Maksud kamu, saya wanita simpanan?tau dari mana kamu? apa karena suami saya tidak pernah datang trus kamu bilang saya wanita simpanan?" Indri berdecak pinggang.


"Bu--bukan begitu, Bu. Ma--maksud saya ...," bibir Dion bergetar. Pendar ketakutan tersirat jelas di wajah kusamnya.


"Kamu tau, Dion. Saya memang sombong, saya tidak ingin terlalu dekat dengan karyawan, saya tidak ingin orang-orang berpikiran buruk kepada saya. Saya bukan wanita penggoda. Apa harus saya siarkan ke khalayak ramai jika suami tercinta saya sedang dalam keadaan sakit?"


"Dan kamu Dion, saya tidak ingin melihat kamu bekerja di tempat saya lagi! silahkan keluar saat ini juga!"


sentak Indri tepat di hadapanku. Matanya menyala marah dengan raut wajah sukar di jabarkan.


Kulihat Dion pun murka. Tangannya terkepal menampakkan urat-urat biru yang mencuat keluar.

__ADS_1


Srettt!


Bruakkk!


Sejurus kemudian Dion mendorong tumpukan kardus yang berada tepat di sampingnya. Tumpukan kardus air mineral yang baru saja ia susun. Sialnya kardus itu tepat berada di hadapan Indri.


Sebelum ia melaksanakan aksinya, aku tak sengaja melihat gelagat buruk darinya, dan pada saat ia mendorong benda-benda itu, tanpa pikir panjang aku langsung mendorong Indri dan ... aku tak sadarkan diri.


***


Pov Indri.


Perasaanku tak enak saat memasuki kantor yang terletak di dalam deretan barang-barang jualan. Kebetulan gudang sedang penuh sesak, kelebihan muatan. Oleh sebab itu sebagian barang di bawa ke kantor dan memenuhi sebagian sisi kantor.


Langkahku terasa berat saat melihat Ikhsan, mantan pacar yang sekarang bekerja padaku kini sedang asik merapikan barang. Sebenernya ia kutempatkan di gudang, tapi berhubung kekurangan orang, Paman menariknya untuk membantu di kantor. Alhasil setiap hari mau tak mau harus bertemu dirinya.


Walaupun ia terlihat amat ramah dan berusaha sekuat tenaga untuk berbaikan denganku, sayangnya hatiku sudah terlanjur sakit dan benci padanya. Bagiku, apapun yang ia katakan tak ada gunanya. Aku menerimanya bekerja murni karena rasa kasihan. Tak lebih. Dia bagiku tak ada artinya, bongkahan kenangan kelam yang tak pantas diingat.


Peluh mengucur di dahinya saat aku melintas. Aku tak menjawab sapanya karena bagiku sudah tak penting ada basa-basi di antara kami. Nanti kalau ku jawab, dikira masih cinta. Cih, tak sudi!


Baru saja kakiku ingin menaiki tangga, aku membaca pikiran Dion yang mengumpat tentang diriku. Aku berbalik dan bersembunyi di balik dinding yang berjarak tak jauh dari mereka yang sedang berbincang .


"Sombong ya, Bos kita?"


Huh, rasanya ingin ku gampar mulut lelaki itu. Aku sombong ada alasannya, tauk!


"Hussst, jangan sembarangan. Dia bos kita,"sahut Ikhsan. Hmm, seperti dugaanku, dia masih menaruh hati padaku. Terbukti ia masih membelaku.


"Lagian, cari muka sih, loe," Dadaku seketika bergemuruh mendengar ucapan Dion. Bikin emosi memang.


"Bukan gitu, dia kan bos kita, Yon,"


Aku sedikit senang saat Ikhsan masih saja membelaku.


"Cih, sok alim kamu. Kalau aku mah males negur bos sombong begitu. Menang cantik aja dia, makanya dapat suami kaya. Lagian, aneh, suaminya ga pernah kelihatan. Apa dia hanya seorang simpanan?" Kali ini aku benar-benar habis kesabaran. Tanganku mengepal dan ubun-ubun rasanya mau pecah. Dengan melangkah pelan aku mendekati mereka. Siap mengeluarkan jurus mematikan.


"Kamu ... astaga...," Ikhsan berdecak kesal.


"Ehm, ehem,"

__ADS_1


"Maksud kamu, saya wanita simpanan?tau dari mana kamu? apa karena suami saya tidak pernah datang trus kamu bilang saya wanita simpanan?" Aku berdecak pinggang.


"Bu--bukan begitu, Bu. Ma--maksud saya ...," bibir Dion bergetar.


"Kamu tau, Dion. Saya memang sombong, saya tidak ingin terlalu dekat dengan karyawan, saya tidak ingin orang-orang berpikiran buruk kepada saya. Saya bukan wanita penggoda. Apa harus saya siarkan ke khalayak ramai jika suami tercinta saya sedang dalam keadaan sakit?" Aku nyerocos mengeluarkan unek-unek di hati. Sakit rasanya mendengar cemoohan orang terhadap diriku. Aku bukan wanita penggoda.


"Dan kamu Dion, saya tidak ingin melihat kamu bekerja di tempat saya lagi! silahkan keluar saat ini juga!"


Kulihat Dion pun murka. Tangannya terkepal menampakkan urat-urat biru yang mencuat keluar.


Sreettt!


Sejurus kemudian kulihat Dion mendorong kardus-kardus berisi air mineral, tepat di hadapanku. Kejadian itu terlalu cepat dan aku tak sempat menghindar. Tak juga menyangka jika Dion bisa senekat itu.


Bruakkk!


Kardus-kardus itu jatuh berhamburan tepat di hadapanku dan aku ... terpental hingga tubuhku membentur tembok. Seperti ada yang dengan keras mendorong tubuhku dari arah samping.


Bughh!


"Ikhsan!"


Ku dengar suara Dion, sebelum akhir nya lelaki brengsek itu secepat kilat melarikan diri, tanpa menolong seseorang yang sedang tergeletak tak berdaya di bawah tumpukan kardus berisi air mineral yang jelas berat.


"Ikh--Ikhsan?"


Aku beringsut mendekati Ikhsan sembari memegang kepalaku yang sakit karena benturan yang cukup keras, begitu juga kaki dan tangan.


Bruk-bruk!


Satu persatu kardus yang menimpanya kusingkirkan sekuat tenaga.


Ikhsan tergolek dengan posisi tertelungkup. Ia tak bergerak, hanya ku rasakan nadi dan napasnya yang masih terasa, pertanda kehidupan masih ada.


"Ikh--san ...," bibirku bergetar menyebut namanya. Rasa takut jika ia mati kian menyergap relung hatiku. Apa ini perasaan iba, kasihan, atau perasaan lama yang mulai tumbuh kembali?


****


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2