
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_60
#by:R.D.Lestari.
Cahaya itu amat indah dan berpendar terang. Semakin ku dekati semakin terang dan berkilau. Aku terhipnotis oleh pesonanya. Wajah Indri seolah-olah menari di balik sinar nan menyilaukan dan penuh misteri. Seolah sinar itu mengetahui kesakitan diri akan rindunya pada kekasih hati.
Aku menjejakkan kaki di tanah yang di tumbuh rumput amat subur. Tanpa ragu melangkah menuju cahaya putih berpendar yang merupakan portal gaib penghubung antara duniaku dan dunia Indri, istriku .
Sedikit memejamkan mata karena sinarnya amat menyilaukan, membuat pupilku merasa sakit jika menatapnya.
Sinar itu terasa amat dingin menusuk kulit dan tulangku. Serasa kakiku melangkah di atas bongkahan es batu.
Hanya sepersekian detik kini aku sudah berada di ujung portal, secepat mungkin kulangkahkan kaki dan saat sudah di luar portal mataku mencari Sonia , kuda hitam betina gaib yang memang di tugaskan untuk menolong di hutan terlarang. Di hutan ini kekuatanku tak berguna. Karena hutan ini memang di peruntukkan bagi prajurit sepertiku agar bisa bertahan hidup tanpa kekuatan. Di hutan inikah pertama kalinya aku berjumpa dengan Indri, istri yang amat aku cintai.
Suiiiiitttt!
"Sonia!"
Aku bersiul dan memanggil kuda hitam cantik itu dengan lantang. Menunggu kedatangannya dengan hati deg-degan. Takut jika Sonia bermain jauh dan tak mendengar panggilanku.
Drap-drap-drap!
Samar kulihat siluet bayangan hitam berlari menghampiriku. Sembari meringkik nyaring mendekati ku yang saat ini melambaikan tangan padanya.
Ia mengendus dan mencium wajahku saat tiba di hadapanku. Ya, Sonia memang amat mengenali. Kuda kesayangan yang selalu rindu belaianku.
"Maafkan aku jarang menjumpaimu, Sonia," ucapku seraya membelai sayang bulu lembutnya.
"Sonia, antarkan aku ke pinggir hutan secepatnya. Aku harus sesegera mungkin bertemu Indri, istriku,"
Sonia meringkik sambil menghentak kakinya. Tanah sedikit bergetar. Aku berangsur naik ke punggungnya dan duduk tenang.
Sonia berlari dengan amat kencang memburu waktu seolah mengerti akan kegundahan hatiku. Tanpa istirahat Sonia terus berlari hingga kami akhirnya sampai di pinggir hutan. Sonia kembali masuk ke dalam hutan dan aku kembali merentangkan sayap hitamku dan melesat secepat kilat menembus awan karena tak mungkin mengepakkan sayap di tempat terbuka. Bisa-bisa manusia biasa heboh dan jadi viral.
Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tua Indri, hatiku bertambah cemas dan was-was, suara Indri kembali menggema di telinga. Batinku amat tersiksa hingga air mata menetes tak tertahankan. Aku sebenarnya malu, apa benar kata orang jika lelaki tak boleh menangis?
Tap!
Kaki ku akhirnya menjejak di atas tanah tepat di samping rumah orang tua Indri. Ku tatap dari jauh ternyata ada teman Indri, dan Indri sedang merintih kesakitan.
Aku memfokuskan fikiran dan dengan kekuatan superku angin bertiup amat kencang, hingga membuat jendela kamar Indri terbuka tanpa ku sentuh. Debu-debu beterbangan naik dan sebagian masuk ke dalam kamar Indri.
Secepat kilat kuraih tubuh istriku yang saat ini mengerang menahan kesakitan yang teramat sangat. Aku amat yakin ini saatnya Indri melahirkan anak yang selama ini kami tunggu kehadiran nya.
__ADS_1
Aku membawanya terbang mengangkasa, mencium keningnya lembut, mengucapkan doa agar ia kuat dan mampu bertahan untukku dan buah hatiku.
"Akhh, sa--sakit...," rintihnya.
"Sabar, Sayang. Bertahanlah untuk aku dan anak kita,"bisikku lirih tepat di telinganya.
"Bi--Bima ...," perlahan kelopak matanya membuka, ia menatapku sendu sembari meneteskan bulir bening yang luruh hingga ke pipi. Tersapu oleh derasnya angin saat terbang mengangkasa bersamaku. Tangannya erat melingkar di bahuku. Ia tampak amat bahagia dan menatapku penuh kasih.
"Iya, Sayang. Ini aku ...,"
"Aku rindu, akhh...," ia kembali menutup matanya. Keningnya berkerut bukti bahwa sakit yang di derita amat menyiksa tubuhnya.
"Sayang bertahanlah," kali ini aku yang menitikkan air mata. Aku tak sanggup melihat tubuh ringkih itu menderita begitu dalam.
"Bima... jika aku tak bisa bersamamu, apa kau mau menjaga anak kita? ini begitu menyiksa, aku rasanya tak kuat. Tenagaku hilang, aku amat lemah,"
"Sayang, jangan ucapkan itu. Kamu bisa, Sayang. Kamu dan anak kita pasti selamat,"
"Bima, sebelum aku pergi, Ibu pernah berpesan padaku, jika aku masih manusia. Aku hanya diberi kekuatan lebih dan darahmu yang mengikatku untuk bisa bersamamu, namun utuhnya aku masih manusia, karena aku masih hidup,"
"Jika aku mati, aku tetap kembali berada pada pangkuan Robb ku, karena di sanalah tempatku kembali," dengan terbata dan menahan sakit, Indri begitu fasih mengucapkan kata demi kata seperti ucapan perpisahan padaku.
Jari telunjukku kuarahkan tepat di bibir mungilnya, sebagai pertanda untuknya agar menghentikan ucapan yang tidak-tidak. Aku tak ingin Indri mengucap hal yang hanya akan menyakiti hati dan pikiran.
Perlahan mata sayu itu menutup seiring tubuhnya yang melemah dan akhirnya deru napasnya terdengar satu-satu. Apa yang terjadi dengan istriku? seketika itu pula tubuhku terasa amat lemah, pikiranku sudah tak karuan. Aku tak ingin ia pergi. Aku ingin ia tetap menemaniku hingga punya anak cucu nanti.
Tangannya yang tadi erat bergelayut di bahuku kini jatuh dan menjuntai di udara.
"Sayang... bertahanlah!"
Tanpa memperdulikan sayapku yang teramat lelah dan sesekali terbang tak tentu arah karena beban pikiran, aku tetap memacunya menembus awan, memburu waktu untuk menyelamatkan istriku.
***
Cup!
James menarik wajahnya dan kembali mendaratkan ciumannya di kening Rena.
Slapss!
Ia menarik tubuhnya menjauh dari Rena dan melepaskan tangannya yang mencekeram kencang tangan Rena tadi.
Deru napas Rena terdengar memburu. Rena perlahan membuka matanya dan menatap teduh ke arah James yang saat ini sedang duduk bersandar pada tepi ranjang seraya mengangkat menopang salah satu kakinya di atas kaki yang lainnya.
Ia menatap Rena dan tersenyum geli melihat Rena yang salah tingkah menatap ke arahnya. Bibirnya ia gigit. Entah apa yang ada dalam pikiran gadis yang kancing bajunya sudah terbuka sebagian hingga membuat belahan putih dadanya terlihat mencuat sebagian.
Sempat menatap dan jiwa kelelakian James dan adiknya meronta, membuat James segera memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Kancingkan kembali bajumu, Rena. Apa kamu mau menggodaku?"
"Akh, sialan, kau! ini gara-gara ulahmu, tau!" Rena terkesiap mendengar ucapan James dan segera merapikan pakaiannya yang bverantakan. Ia meraih selimut yang tadi di lempar untuk menutupi pahanya yang mulus.
James kembali menatap Rena yang saat ini membuang wajahnya ke arah jendela. Menikmati pemandangan Kota yang menakjubkan sambil berdecak kagum. Seketika amarahnya pada James hilang, berganti degup jantung yang terus memacu saat tadi James hampir saja mencium bibirnya.
"Aku tak mungkin menciummu, Rena. Aku sudah bilang jika kamu tak akan ku sentuh tanpa seizinmu,"
Rena terhenyak. Sejurus kemudian Rena menatap nyalang ke arah James. Ia lupa jika James bisa membaca pikirannya.
"Sialan kau, James! dasar menyebalkan!" batin Rena.
Slapsss!
Detik berikutnya wajah James sudah berada amat dekat tepat di hadapan Rena. Mata birunya berubah merah semeriah darah, menatapnya tajam bagai elang.
Serrr!
Darah Rena berdesir kencang. Keberaniannya hilang seketika saat ia bertatap pada dengan mata merah James yang menahan amarah.
"Ja--James ...,"
Rena beringsut mundur, menahan takut yang teramat sangat. Peluhnya mengucur di sela anak rambut nya yang sebagian menutupi wajah cantiknya.
Tap!
Tangan kekar James mencengkram kuat bahu Rena dan menarik gadis itu mendekat pada tubuhnya.
Rena mendongak dan mata mereka bersitatap, tubuh Rena bergetar, begitu juga James yang masih menatapnya tajam seolah ingin memangsa gadis cerewet dan pemarah di hadapannya.
"Aku mencintaimu, Rena, tapi aku juga punya rasa marah dan batas kesabaran. Dan ucapanmu yang selama ini menghinaku dan merendahkanku sungguh membuat hatiku sakit,"
"Ja--James ...,"
"Shuuuttt! jangan kau sebut namaku lagi,"
"Jika memang seburuk itu aku di matamu, oke. Aku tak akan menemuimu lagi, cukup hari ini,"
Brakkk!
James melepas tangannya dan beranjak meninggalkan Rena yang masih termenung karena ucapan James barusan. Tanpa sadar matanya berkaca-kaca.
"Ja--James...,"
Nyeri terasa hingga relung hatinya yang paling dalam. Rena mencengkeram dadanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya? mengapa terasa begitu sakit saat James pergi meninggalkannya?
__ADS_1