SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_31


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#Part_31


#***_cerbung


#by: R.D.Lestari.


"Indri? kamu sudah pulang? kapan kamu ...,"


Seorang tetangga Indri yang tak sengaja lewat depan rumah Indri langsung mampir begitu melihat Indri yang duduk di teras rumah. Indri langsung mendongakkan wajahnya dan tersenyum manis menatap si Ibu.


"Sudah, Kak. Kemarin saya pulang,"



"Kamu dari mana saja, Indri. Semua orang bersusah payah mencarimu, syukurlah kamu pulang dengan selamat," wanita berbaju coklat bergaris itu menatap Indri penuh haru.


"Saya diculik, Kak. Dan tidak tau siapa orang yang sudah menculik saya,"


"Ya Allah, In. Syukur kamu bisa pulang,"


"Iya, Kak. Alhamdulillah,"


"Kak, saya boleh minta tolong?" Indri menatap si Ibu lekat. Hatinya kini gundah gulanya. Penolakan Ibu membuatnya takut untuk kembali jujur dan memilih menuruti semua perintah Ibu.


"Minta tolong apa, In? insyaAllah Kakak bisa bantu,"

__ADS_1


"Kak, jika sesuatu terjadi kepada saya kelak, saat saya sedang menikah atau sebelum menikah, tolong sampaikan pada keluarga saya agar saya di antar ke hutan Uwentira dan tinggalkan saya di sana," ucap Indri penuh harap.


"Uwentira? kamu jangan bicara sembarangan, In. Itu kan hutan besar,"


"Iya, saya tau, Kak. Saya mohon ya, Kak,"


"Iya, In. Udah kamu jangan punya pikiran macam-macam. Oia, Kakak permisi dulu, ya. Biasa mau masak," si Ibu pamit dan di sambut anggukan pelan dari Indri.


Indri menatap sayu kepergian Ibu. Hatinya perlahan lega. Bagaimanapun ia harus memberi pesan jika sewaktu-waktu hal buruk terjadi padanya. Keputusan Ibu untuk menikahkannya pasti akan berbuah petaka bagi dirinya. Indri tahu ia salah, tapi ia tak mampu membantah ucapan Ibu.


***


Tiiiiit ! tiiiiit! tiiiiiiiit !


Suara klakson motor menyentak Indri dari lamunan. Mata nya seketika berbinar melihat dua orang yang kini berlari menuju dirinya. Ya, siapa lagi kalau bukan kedua sahabatnya, Sri dan Rena.


"Indriii!" teriak mereka berbarengan. Indri di peluk dan tangis mereka pecah bersamaan.



"Kamu kemana aja, In. Bisa-bisanya hilang tanpa jejak. Kami di sini selalu memikirkanmu, In," cecar Rena sembari mengusap pipinya yang basah.


"Kamu di culik Bima, ya? kan sudah kubilang, Bima bukan manusia!" Sri berdecak.


"Ya, benar. Aku juga sudah bilang, Bima bukan manusia. Indri tetap ngeyel," Rena menyahut ketus.


"Ya, kalian benar, Bima bukan manusia, tapi berkat dia aku selamat. Dan dia adalah suamiku sekarang," Indri menatap dua sahabatnya bergantian.


"Hah? suami?" mata Sri dan Rena seketika terbelalak begitu tau jika Bima sudah menikah dengan Indri.

__ADS_1


"Indri, kamu sudah gil*? Bima bukan manusia, In! sadar kamu, In," Sri mengguncang tubuh Indri, tapi sahabatnya itu hanya diam dan memandang mereka dengan tatapan bingung.


"Kalian tahu cinta? aku tak perduli siapa Bima. Aku mencintainya," Indri beranjak dari duduknya dan menatap jalanan yang sepi di depan rumahnya. Sri dan Rena perlahan mendekati Indri.


"In, kami menyayangimu, kami hanya ingin kamu menemukan kebahagiaan dalam hidupmu, jika kamu dengan Bima, kamu pasti akan di bawa ke dunianya. Dan kita pasti tak akan pernah bisa berjumpa kembali," Rena terisak sembari memeluk sahabatnya.


"Hmmmh, aku tak mungkin meninggalkan kalian, karena kemungkinan besar aku akan segera di jodohkan ibuku secepatnya. Ia ingin aku melupakan Bima," Indri menghela napas dalam. Tak terasa bulir bening itu mulai mengucur di sudut matanya.


"In ...," Sri menggenggam tangan Indri pelan.


"Sri, Rena, bisakah aku minta tolong pada kalian?" Indri menatap kedua temannya penuh harap.


"Ada apa, In?"


"Aku mungkin tak akan bisa seperti ini lagi, mungkin setelah menikah akan ada kejadian ganjil pada diriku. Aku tak bisa menjabarkan semuanya pada kalian, tapi aku minta tolong pada kalian, jika nanti terjadi sesuatu pada diriku, kalian tolong antarkan aku ke hutan Uwentira. Jangan lupa bacakan yasin dan tahlil untukku, agar aku bisa tetap bahagia bersama Bima di dunia nya,"


"In, jika memang pernikahanmu ini mempertaruhkan nyawamu, hentikanlah. Aku mohon," Sri mencengkeram lengan Indri.


"Ga bisa, Sri. Semua demi Ibu. Aku tak ingin mengecewakan Ibu untuk yang kedua kali,"


"Indri," kedua sahabatnya itu memeluk Indri erat.


***


"Ayo, In. Calon besan Ibu sudah datang," Ibu dengan wajah yang sumringah masuk ke dalam kamar anak perempuannya yang saat itu sedang duduk dengan bersimbah airmata.


"Kok kamu malah nangis? nanti make-up mu jelek,berantakan," oceh Ibu seraya merapikan kembali riasan di wajah Indri.


Gadis itu tetap diam seribu bahasa, membiarkan tangan Ibu menari di wajahnya. Ia ingin menolak, tapi semua rasa percuma. Berkalipun Bima hadir untuk meyakinkannya, Indri tetap kekeh pada pilihannya.

__ADS_1



Ia tahu akibat yang akan ia tanggung nanti, karena sejatinya ia dan Bima sudah bersatu. Darah abadi Bima pun sudah mengalir di dalam darahnya. Namun, semua demi Ibu. Apa pun akan ia lakukan , walaupun untuk itu nyawanya yang jadi taruhan.


__ADS_2