SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_28


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


# part_28


#by: R.D.Lestari.


"Po-- portal?"


"Ya, portal penghubung antara duniamu dan duniaku. Kamu paham kan maksud Kakak, Sayang?" Bima membelai rambut Indri mesra. Indri mengangguk dan bergegas melaksanakan solat serta bersiap-siap.


Bima dengan sabar menunggu Indri di ruang tamu. Ia dengan tenang menyeruput kopi susu buatannya sendiri sambil sesekali mengunyah roti coklat yang lembut dan beraroma khas buatan ibunya.


Pluk!


"Bima,"


Bima menoleh saat ia mendengar suara seseorang tepat di belakangnya.


"Ya, Bu?"


"Kamu jadi nganter Indri pulang?"


"Jadi, Bu. Ini lagi nungguin Indri siap-siap. Sebentar lagi kami berangkat,ya, Bu,"


"Ya, kamu hati-hati di jalan. Jaga Indri, dan ingat kamu jangan sampai menampakkan diri di sana, bisa bahaya untuk hubungan kalian. Jika Indri di pisahkan denganmu secara paksa, dia bisa gila,"


"Ya, Bu. Bima mengerti, karena darah Bima sudah menyatu di dalam tubuh Indri. Itu tentu membuat Indri tak akan bisa lama-lama jauh dari Bima," Bima menunduk lesu mengingat kesalahannya waktu itu.


"Kamu ga perlu merasa menyesal Bima, niatmu baik. Kalau kemarin kamu tidak segera bertindak, nyawa Indri yang dalam bahaya," Ibu membelai punggung anak lelaki kesayangannya itu.


"Bu, apakah Bima berdosa membawa Indri ke dunia kita? Bima bimbang, Bu," mata Bima mulai berkaca-kaca. Sedih dan perih di hatinya mengingat dunia mereka yang berbeda menjadi penghalang.


Drap-drap-drap!


Bima segera menyeka airmatanya yang mulai menetes dengan punggung tangannya. Ia tak ingin Indri melihat kesedihan hatinya.


"Ayo, Kak, Indri sudah siap," Indri dengan senyum yang merekah menatap suaminya penuh cinta. Ia sudah sangat tak sabar bertemu dengan keluarga besarnya. Kangen.


" Ibu, Indri mohon izin beberapa hari, ya, Bu. Indri janji ga akan lama-lama di sana, Indri akan segera pulang," Indri mencium punggung tangan Ibu dan di balas senyuman hangat darinya.


"Iya, Sayang. Jangan terburu-buru. Puasin dulu kangen-kangenan dengan orang tua, teman dan keluargamu," Ibu membelai sayang kepala Indri. Indri mengangguk pelan mendengar ucapan Ibu.

__ADS_1


"Terimakasih Ibu atas pengertiannya," Indri menatap haru wanita cantik di hadapannya itu.



"Anima dan Ayah masih tidur ya, Bu?"



"Iya, habis solat mereka tidur kembali,"


"Bu, Bima pamit ya. Setelah nganterin Indri Bima langsung pulang,"


"Iya, hati-hati. Ingat pesan Ibu ," Bima mengangguk dan mencium punggung tangan Ibu. Ia dan Indri bergandengan menuju mobil kesayangannya diikuti lambaian tangan Ibu. Ada rasa haru, bahagia dan juga sedih di hati Indri. Ini mungkin kali terakhir ia bisa bercengkrama bersama keluarga besarnya. Setelah itu ia akan menetap di dunia Bima. Selamanya.


***


Samar di kejauhan Indri melihat kemilau berwarna kuning emas yang amat memukau. Ia sungguh penasaran cahaya apakah itu?


"Kak, itu apa?" Indri menunjuk pada cahaya emas yang semakin lama semakin jelas bentuk rupanya.


"Itu mesjid terbesar di tempat kita. Mesjid tempat Kakak biasa solat berjamaah,"



Perlahan bangunan mesjid semakin terlihat jelas. Mesjid dengan warna emas dan pernak-pernik permata yang amat indah dan sangat mengagumkan. Desainnya seperti bangunan mesjid di daerah timur tengah. Megah dan rupawan.


***


Ckittttt!



Mobil kuning lamborgini itu berhenti tak jauh dari rumah Indri.



"Sayang, kamu baik-baik ya, di sana. Kakak bisanya datang sebelum pagi. Jadi, kamu jangan khawatir, Kakak pasti akan sering datang nemuin kamu,"



Cup!


__ADS_1


Bima mengecup kening istrinya lembut. Pandangannya sendu saat ia akan melepas istri cantiknya untuk sementara waktu.


Cup!


"Iya, Sayang. Jangan lupa sering temui aku, ya. Janji deh ga bakalan lama ninggalin suami gantengku ini," Indri balik mengecup pipi Bima mesra. Bima seketika menoleh dan hal spontan itu membuat bibir mereka saling menyentuh. Indri sempat terkejut namun detik berikutnya mereka menikmati moment itu sebelum akhirnya Bima menyudahi dan menyuruh Indri secepatnya pulang kerumah. Ia takut matahari segera terbit dan ia tak bisa pulang ke dunianya.


Indri nampak enggan meninggalkan Bima, tapi ia juga amat rindu pada keluarganya. Perlahan Indri turun dan melambaikan tangannya . Bima tetap menunggu hingga Indri berada tepat di depan rumahnya. Ia pun pergi bersama deru mobilnya yang terdengar kencang memburu waktu.


Indri menatap nanar kepergian suaminya. Hatinya pedih dan teriris. Ya, mau bagaimana lagi, ini pilihan yang harus ia terima konsekuensinya.


Ia menghela napasnya dalam-dalam. Mengetuk pintu dengan perlahan, matahari mulai memamerkan cahayanya yang perlahan menyinari alam sekitar.



Tok-tok-tok!



Tak ada sahutan, Indri menunggu tapi selama beberapa menit pintu tak jua ada yang membuka.



Tok-tok-tok!



Kembali Indri mengetuk pintu rumahnya. Sayup-sayup ia mendengar bunyi kaki yang di seret paksa.



Sret-sret-sret!



"Siapa ...,"



Kriettt!


Berbarengan suara parau dari dalam rumah, pintu pun terbuka perlahan.


"In ... Indri? ini benar kamu?"

__ADS_1


Belum sempat Indri menjawab, seseorang itu langsung ambruk tak sadarkan diri tepat di hadapan Indri.


" Ibu ...!"


__ADS_2