
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_85
#by: R.D.Lestari.
Ckittt!
Sempat ia mendengar decit suara motor amat dekat di telinganya. Namun, tubuhnya sudah terlalu lemah dan ...
Byuurrr!
Gadis itu jatuh ke gulungan air yang sedari tadi bersiap menelannya. Ia merasa napasnya tercekat dan amat sulit untuk menghirup udara. Sesak. Tubuh nya dingin.
Byurrr!
Slapss!
Dalam ketidak berdayaannya, samar ia melihat sosok lelaki yang mendekat padanya di antara gelombang air yang semakin deras menghantam dan membawanya masuk hingga ke dalam.
Lelaki itu menarik tangannya kencang dan membawanya dalam dekapannya. Sedikit kesusahan, tapi kebaikan Tuhan masih berpihak pada mereka. Mereka akhirnya bisa naik ke permukaan.
Bught!
Tubuh mungil gadis itu di letakkan pelan di bibir sungai beralaskan rumput dan tanaman rambat.
"Sri!" Berulang kali si pemuda menggoyang tubuh gadis itu, tapi ia tetap diam. Tak ada jawaban dan reaksi sedikitpun.
"Uhuk-uhuk!"
__ADS_1
Gadis itu terbatuk dan memuntahkan banyak air saat bawah dadanya di tekan cukup kuat. Serasa ada berton-ton batu yang menghimpit dadanya.
"Sri...,"
Perlahan gadis itu membuka mata. Mengerjap pelan beberapa kali dan bernapas dengan susah payah. Dadanya naik turun pertanda ia amat kesulitan menghirup udara yang masuk ke tubuhnya.
"Sri ... ya, ampun. Apa yang kamu perbuat, Sri? ingat nenekmu Sri ...," pemuda itu tak henti mengelus pelan pipi Sri.
Semakin lama sosok itu semakin jelas. Sri mengurai pelukan dan memberi jarak di antara mereka. Hatinya sakit saat tangan kekarnya menyentuh pipi dan tubuhnya. Ia sudah cukup sakit, dan tak ingin menambah luka di hatinya.
Sri beringsut mundur menjauhi sosok yang selama ini memenuhi relung di jiwanya. Air matanya tumpah dan menggenang tanpa bisa ia tahan.
"Sri ...," sosok yang ternyata Gio, dosen di kampus nya itu membuat Sri takut.
"Jangan mendekat, Pak. Ini menyakitkan untuk saya ...," Sri menarik kedua kakinya dan memeluknya. Tubuhnya gemetar menahan dingin yang menusuk hingga ke tulang.
"Sri! jangan bod*h!" sentak Gio yang tak lain adalah dosennya.
"Apa yang kamu lakukan ini, bod*h, Sri. Apapun alasannya itu tidak bisa di benarkan!" tatapan tajam Gio menusuk hingga ke jantung Sri. Sri terisak dan menekan dadanya yang terasa sakit dan perih.
"Jangan dekati saya lagi, Pak. Saya tidak ingin sakit hati lebih dalam. Saya tau ini semua kesalahan saya, dan saya berjanji tak akan melakukannya lagi. Terima kasih untuk pertolongannya, Pak," Sri mengulas senyum getir. Ia mengusap paksa air matanya yang siap tumpah. Tanpa menghiraukan Gio, ia melangkah pasti meninggalkan Gio yang masih terpaku dengan sikap Sri yang berubah drastis.
Tap!
Pluk!
Gio meraih tangan Sri dan menariknya kencang hingga tubuh Sri tersentak dan jatuh di pelukannya. Gio mengikis jarak di antara mereka. Pandangan mereka saling terpaut. Untuk sepersekian detik dengan jarak yang amat dekat Gio bisa menatap setiap inci wajah Sri yang ternyata amat cantik. Semua tak ia sadari karena tertutup sikap tomboy Sri. Ia tak menampik punya rasa, tapi bukan rasa seperti ini. Selama ini ia memang tertarik karena Sri enak di ajak tukar pikiran dan menjadi teman. Ya, hanya teman. Namun, saat ini ... entah kenapa hatinya pun ikut perih saat sorot matanya bersitatap dengan manik coklat yang penuh dengan luka.
"Maaf, Pak. Aku muridmu, dan hanya teman bagimu, tak pantas berbuat seperti ini," Sri menundukkan wajahnya. Sekuat tenaga ia menahan perih dan cairan bening yang siap tumpah. Ia tak ingin terlihat lemah. Cukup ia mempermalukan diri, dan ini saatnya ia harus bangkit. Teman, ya cuma teman. Tak lebih.
Sri mengurai pelukannya, tapi tangan kekar Gio yang melingkar di pinggangnya terlampau kuat, walaupun Sri meronta, Gio seolah enggan melepasnya.
__ADS_1
"Bilang kalau kau tak suka padaku, dan aku-- akan melepaskanmu," Gio menyentuh pipi Sri dengan jemarinya.
Sri menggeram. Apa sebenarnya yang diinginkan Gio, dosennya ini? setelah ia mengatakan jika mereka hanya teman, sekarang...
"Ah, sudahlah. Jangan berharap dan buka matamu, Sri. Dia tak pantas untukmu,"batin Sri.
"Ya, saya tidak suka Bapak, ya, kemarin memang, tapi sekarang tidak," jawab Sri dengan bibir gemetar. Ia sudah tak ingin berharap. Sudah cukup rasa sakit yang ia rasakan.
"Ga, kamu bohong, 'kan? jawab jujur, Sri,"
"Baiknya Bapak jaga tingkat laku Bapak, ingat Bapak adalah Dosen saya, dan saya adalah murid Bapak!" kali ini nada suara Sri mengeras. Ia menyentak tangan Gio kuat hingga pelukan mereka terlepas, dan tanpa banyak kata Sri melangkah cepat walau sedikit menggigil. Dingin tubuh nya masih kalah dengan dingin yang bersemayam di hatinya saat ini.
Gio berlari mengejar Sri, tapi gadis itu telah menghilang bersama ojek yang kebetulan lewat.
"Hmmh," Gio menghela napas dalam dan membuangnya kasar. Sesak, dadanya terasa amat sesak.
Ia melangkah gontai menuju motornya. Menstater dan melaju bersama motor sport milik James, kakaknya. Membelah jalan padat kendaraan.
Trangg!
Bught!
Gio melempar kunci motor ke atas meja kaca. Bunyinya membuat James yang saat itu asik bersantai di depan TV terkaget karenanya.
"Hei, ada apa ? basah? mandi hujan?" cecar James.
"Huh, jangan sok lugu, kau tau semua isi pikiranku," dengus Gio kesal.
"Ha-ha-ha, cinta memang menyakitkan, Gio. Dan siap-siap, kau akan segera merasakan lukanya," James tersenyum mengejek.
"Ah, sudahlah. Aku mau mandi," Gio beranjak dan menuju kamarnya.
__ADS_1
"Ah, si ganteng patah hati,"
***