SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_131{the End}


__ADS_3

Bismillah


        SUAMI DARI ALAM LAIN


#Part_131


#by: R.D.Lestari.


Anima melangkah pasti menemui semua orang yang saat ini sedang bersantai di ruang keluarga. Wajahnya cantiknya tertekuk ke dalam. Mata indahnya berkaca-kaca.


"Selamat malam, semua. Aku ingin memberi tahu sesuatu kepada kalian semua," ucapnya lantang.


Ibu, Ayah, Indri dan Bima tercengang melihat gadis yang kini sudah menjadi istri orang itu berbicara tegas dan suaranya terdengar menggelegar di seluruh ruangan.


"An?"


"Dengarkan Kak, jangan dulu menyela," sentaknya.


"Maaf semua atas kerusuhan yang sudah aku lakukan. Aku tau ini salah, tapi aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan James,"


"Kenapa?!" Ayah yang sejak tadi terdiam lantas berdiri seketika.


"Maaf, Ayah. Tanpa mengurangi rasa hormat, aku mohon hargai keputusanku ini,"


Setelah berucap, Anima berbalik dan berlari kencang menuju kamarnya. Menaiki anak tangga tanpa melihat kembali ke arah orang-orang yang memandangnya dengan segudang pertanyaan.


Brakkk!


Wanita berhijab itu menutup pintu kamarnya keras. Ia merebahkan keras tubuhnya di atas ranjang. Tangisnya pecah dengan air mata yang mengalir deras. Dadanya sakit. Sakit karena merasa terabaikan dan dikhianati.


Sebenarnya ini bukan salah James. Jauh di lubuk hatinya, Anima sadar ini adalah salahnya. Ia yang terlalu memaksa perasaan dan keinginan hingga berbuat curang.


Tok-tok-tok!


"Masuk!"


Kriettt!


Indri yang sejak tadi berdiri di luar dengan dada yang berdegup kencang, melangkah pelan memasuki kamar Anima yang tertelungkup sembari terisak.


"An?" tangan lembut Indri menyentuh punggung Anima pelan.


"An, ceritakan pada Kakak, apa yang membuat kamu menyerah di saat seperti ini? bukankah dulu kamu yang bersikeras untuk bisa memiliki James?"


Anima beringsut dan perlahan bangun. Dengan mata sembab dan air mata yang masih menggenang, ia mengarahkan tatapannya ke Indri dan menatapnya dalam.


"Aku yang sudah membuat ingatan Rena hilang, akulah penyebab ia lupa hanya pada James. Aku curang, Kak!"


tangis Anima kembali pecah. Susah payah bernafas seraya menggenggam  tangan Indri kuat.


Indri bergeming. Berusaha mencerna ucapan Adik iparnya.


"Jadi, kau ...,"


Anima mengangguk. "Dan yang tau itu cuma Sri. Kebetulan dia mendengar semua ucapanku kala itu,"


"Anima ...,"


"Dan, Kakak tau? aku yang memaksa James untuk menikah denganku, sebagai syarat jika ia mau Rena kembali mengingatnya. Aku mau jari yang kedua karena James tetap ingin menikah dengan Rena,"


"An ...,"


"Aku tau aku egois, Kak. Aku kira kecantikan yang kumiliki mampu menarik simpati James dan perlahan membuatnya jatuh cinta padaku, nyatanya ...,"


"Bahkan ia tak sudi menyentuhku walau aku sudah polos dan merendahkan harga diriku padanya,"

__ADS_1


Kali ini Indri merengkuh tubuh Anima dalam pelukannya. Gadis itu terisak dan menekan dadanya.


Tanpa terasa bulir bening itu menetes jua di pinggir matanya. Indri tau perasaan Anima saat ini, tapi ia pun tak mungkin mendukungnya yang telah berbuat curang.


"Kau benar, An. Lepaskan James dan berbahagialah dengan lelaki lain. Toh, tak ada penyatuan darah di antara kalian. Kau bisa dengan mudah berpisah,"


Anima tak menjawab. Ia masih tergugu di pelukan Indri. Namun, sepersekian detik kemudian, Ia melepas pelukannya dan membuat jarak diantara mereka.


"Cinta James begitu kuat pada Rena, mereka tak bisa dipisahkan, Kak. Jujur aku iri padanya, bisa mendapatkan perasaan cinta yang begitu dalam dari seorang pria, sama halnya seperti Kakak," Anima berusaha mengatur nafasnya.


Perlahan ia mulai tenang. Air matanya perlahan surut. Tersisa isakan dan segukkan.


"Suatu saat nanti, kamu pasti punya seorang lelaki yang mencintaimu sama seperti Kak Bima ataupun James,"


"Kau hanya perlu bersabar, perbaiki akhlakmu. Lelaki baik untuk wanita baik, pun sebaliknya," Indri berusaha menenangkan adiknya.


Beberapa saat Anima termenung. Benar apa yang Indri ucapkan.


Ia menghela nafas dalam dan mengangguk setuju dengan ucapan Indri, iparnya.


"Maukah Kakak antar aku ke sana? aku ingin bertemu James. Dia pasti ada di rumah sakit saat ini. Aku yakin," pinta Anima.


Indri terdiam, tapi sejurus kemudian ia mengangguk setuju.


"Tengah malam nanti kita ke sana bersama Kak Bima," janji Indri pada Anima. Perlahan senyum terkembang di bibir mungilnya.


Kedua wanita cantik itu kembali saling berpelukan erat. Hati mereka lega, sebuah pengorbanan pasti membawa hikmah.


***


Di dalam butik


Sri tak henti memandang kagum dirinya yang sedang berdiri di depan cermin besar di sebuah butik terkenal di Kotanya.


Mereka sedang melakukan fitting untuk acara lamaran seminggu lagi.


Gio beranjak dari duduknya dan menyentuh pinggang calon istrinya. Senyum terkembang di bibir kedua insan.


"Selamat calon Nyonya Giorgino, anda sekarang sudah menjadi Sarjana dan akan menjadi istri dari seorang milyuner kaya," Gio terkekeh kala melihat wajah Sri bersemu merah.


"Kau tampak sangat cantik, Sayang. Aku bahagia akhirnya kita bisa melewati semua rintangan cinta kita. Terima kasih kami sudah mau bertahan,"


Cup!


Gio mengecup pelan kening Sri sayang. Karyawan butik pun ikut meleleh melihat ke-sosweetan antara Sri dan Gio.


"Pak, mesranya jangan di sini, dong. Kasihan kami yang jomblo," tegur salah seorang karyawan.


Sri dan Gio mendadak kikuk dan memberi jarak di antara mereka. Pipi mereka merah padam diantara riuhnya gelak tawa dan godaan karyawan juga pengunjung butik.


Ya, Gio dan Sri yang di mabuk cinta tak sadar jika mereka saat ini berada diantara banyak orang. Cinta memang


buta.


***


Di ruangan Rena.


Tiba-tiba pintu terbuka. James dan Rena serentak menatap ke arah pintu yang terbuka perlahan. Semburat wajah sedih menyentak hati James. Lelaki tampan itu segera melepas genggaman tangannya dan berdiri saat melihat seseorang yang  sudah menjadi istrinya kini tiba-tiba hadir diantara mereka.


Suasana hening. Belum sempat Rena mengucapkan kata, Anima sudah menarik tangan James menjauhi mereka dan keluar dari ruangan.


"In?" lirih Rena.


"Mereka ada urusan, Rena. Kau jangan berprasangka buruk. James tak mungkin melukai hatimu. Ia amat mencintaimu, Rena. Percayalah," Indri menyentuh punggung tangan Rena.

__ADS_1


Rena menggigit bibir. Ia khawatir dan pikirannya bertanya-tanya ada apakah antara James dan Anima, ipar Indri?


Sementara di luar ruangan, sembari mengenggam tangan James, Anima meneteskan bulir bening tiada henti.


Walaupun James tak pernah menaruh hati, ia merasa iba melihat Anima yang terlihat hancur saat itu. Apa itu karena ulahnya?


"Ma ... maafkan aku, Kak," ucap Anima di sela isakan tangisnya.


"An? aku yang harusnya minta maaf, aku ...,"


"Aku melepaskanmu, Kak. Berbahagialah bersama Rena. Rahasia ini cukup kita saja yang tau, biarkan jadi cerita yang harus kita kubur,"


"Aku menyesal sudah membuat dirimu terluka dan memaksa perasaanmu padaku. Kamu lelaki baik, Kak. Kamu pantas bahagia," Anima menyentuh pipi James dengan tangan gemetar.


Untuk pertama kalinya wanita itu bisa menyentuh wajah James tanpa tepisan dan sentakan dari lelaki yang amat ia cintai saat ini.


James bergeming. Hatinya berada di ambang bimbang antara sedih dan senang. Akhirnya ia bisa bebas dari belenggu tapi ia juga kasihan melihat Anima yang hancur hatinya.


"Anima, aku minta maaf sudah membuatmu terluka," sesal James. Ia membelai pucuk kepala Anima yang tertutup hijab.


"Semoga kamu bahagia, Kak," Anima melepas genggaman tangannya bertepatan saat Indri keluar dari ruangan Rena.


"Kita pulang, yuk, Kak," ajaknya. Indri mengangguk sembari mengulas senyum tipisnya.


"Aku permisi, Kak. Sampaikan salamku pada Rena,"


Setelah mengucap perpisahan, Anima melangkah pasti bersama Indri di sampingnya. Ia menyeka air mata yang masih tersisa di pipinya.


James melenguh panjang. Ia lega karena kini bisa bersama dengan Rena tanpa hambatan.


Pria tampan itu berbalik dan menuju ruangan Rena. Dengan hati riang, ia membuka pintu dan menatap wanita tercintanya dengan senyum yang mengembang lebar.


"Ada apa, James?" lirih Rena.


"Kita akan segera menikah, Ren. Segera! aku tak sabar untuk bersama denganmu dalam keadaan susah dan senang," teriak James hingga membuat Rena menitikkan air mata haru atas ucapan James barusan.


"James ...,"


"Cepatlah sembuh, Sayang. Aku sangat menginginkanmu jadi istriku," James merengkuh tubuh lemah Rena dan memeluknya erat. Air matanya tumpah. Beribu kata syukur terucap dari bibir tipisnya. Mereka larut dalam suka cita dan kebahagiaan. Sebuah impian yang akan segera terwujud dalam perjalanan cinta yang selama ini di bina.


***


Dua orang lelaki tampan berwajah serupa memakai stelan jas berwarna senada. Setangkai mawar merah sama-sama terselip di kantong sebelah kiri dengan dasi kupu-kupu sebagai pemanis.


Mereka beserta undangan menunggu dengan hati deg-degan dan berbunga-bunga, menanti kedatangan dua gadis cantik yang saat ini sedang di jemput untuk acara pertunangan yang di gelar secara bersamaan.


Indri yang saat itu berada di ruangan yang sama menatap takjub dua sahabatnya. Sri yang memakai kebaya ungu berkilau dengan rambut tersanggul dan mawar ungu yang terselip di rambutnya, nampak cantik dengan make-up natural di wajahnya, begitu pun Rena yang tampil dengan kebaya merah bertabur Kristal Swarowski yang menghiasnya, rambutnya pun disanggul dengan bunga mawar merah terselip dibelakang telinganya. Bibir merah menambah kesan glamour dan anggun khas Rena.


Mereka berdua tampak sangat menakjubkan. Kecantikan sempurna yang pasti akan membuat dua pemuda tampan yang sedang menunggu di luar tergila-gila.


Suara riuh rendah terdengar saat dua wanita cantik itu berjalan di antara para tamu undangan. Semua mata mengarah padanya dengan decak kagum yang terdengar hingga ke telinga.


Dua pemuda itu menatap hingga tak sadar mulut mereka ternganga karena melihat wanita pujaan tampak amat sangat cantik bak bidadari.


Acara prosesi tunangan berlangsung khidmat. Indri dan Bima pun ikut senang, walau ada salah seorang diantara mereka yang menitikkan air mata. Siapa lagi kalau bukan Anima. Namun, ia tetap berdoa demi kebahagiaan James dan Rena. Ia sadar jika cinta tak bisa di paksa, dan berharap suatu saat ia pun menemukan cinta sejatinya.


****


Next, extra part suasana pernikahan James n Rena, Gio n Sri.


Terimakasih untuk supportnya selama ini. Walaupun bertabur hujatan, alhamdulillah naskah ini berhasil saya selesaikan dengan penuh perjuangan 🤗


Much love buat kalian.semua 😘😘😘


Maafkan kesalahan dan kehilafan. Semoga kita bisa berjumpa di karya receh lainnya 🤗😘

__ADS_1


__ADS_2