
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#Part_39
#by: R.D.Lestari.
"Indriiii," Ibu dan Ayah bangkit berbarengan dari duduknya dan berlari ke arah Indri dengan tergesa.
Bukkk!
Tubuh Indri mereka peluk dengan erat. Tangis mereka pecah, hanya Indri yang tampak diam tak banyak bicara. Indri bingung mengapa semua orang hari ini bertingkah aneh kepadanya.
"Ayo, Bu, Ayah, kita duduk dulu," ajak Bima sopan. Ayah dan Ibu segera menyeka airmatanya dan berjalan ke arah kursi yang mereka duduki tadi.
Tangan Ibu tak pernah lepas dari Indri. Indri tak henti-hentinya tersenyum melihat Ibu dan Ayah ada di rumah Bima bersamanya.
"Alhamdulillah, Indri sudah mengingat kita kembali, racun yang masuk kalah dengan penawar, mungkin karena tubuh Indri memang kuat dan keinginan sembuhnya juga besar," papar Bima.
"Alhamdulillah, jadi bisakah Indri kembali pulang bersama kami?" sahut Ayah dengan wajah penuh harap.
Bima dan seluruh keluarganya terdiam. Mereka saling membisu karena ucapan Ayah tak mungkin mereka bantah, sedangkan jika Indri pulang, ia pasti dalam bahaya.
"Aku ingin di sini, Ayah. Dia suamiku, aku tak mungkin meninggalkannya," Indri angkat bicara.
"Jadi, kau tak ingin ikut pulang dengan kami?" mata Ayah memerah mendengar jawaban Indri.
"Biarkan Indri, Yah. Aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Bagaimanapun Indri layak bahagia," sela Ibu menatap suaminya.
"Maksud Ibu? kita harus merelakan Indri dan hidup kelak di sini?" Ibu mengangguk mendengar ucapan Ayah.
"Maaf, Yah. Saat ini Indri sudah jadi bagian dari keluarga kami. Dan Indri sudah jadi makhluk seperti kami," ungkap Bima dengan bibir gemetar.
"Jadi ... Indri ...," suara Ibu terdengar parau. Bibirnya gemetar dan tubuhnya seketika melemah. Ia sebenarnya sadar jika Indri tak mungkin bisa pulang kembali ke rumah, tapi entah mengapa hatinya menolak. Bagaimanapun Indri adalah buah hati satu-satunya.
"Saya mohon maaf, Bu. Tapi, jika Ibu bersikeras ingin memisahkan kami seperti waktu itu, kemungkinan besar bukan cuma menjadi gil*, tapi darah yang mengalir di tubuh Indri bisa menjadi racun seutuhnya, Indri bisa mat* perlahan," Bima menatap sendu kedua orang tua Indri secara bergantian.
Ibu dan Ayah serentak menghela napas. Mereka tak punya pilihan. Ibu menatap nanar anak perempuannya yang tertunduk. Terisak memikirkan nasib rumah tangga dan orang tuanya. Ia tak menyangka nasib cinta nya bisa se-dramatis ini.
"Indri ...," panggil Ibu lirih, Indri yang di panggil mulai mengangkat wajahnya perlahan.
__ADS_1
"Iya, Bu," sahutnya.
"Apa kamu bahagia berada di sini?"
Indri mengangguk pelan mendengar ucapan Ibu.
"Bima ...,"
"Iya, Bu ...,"
"Apa selamanya kami benar-benar tak bisa melihat Indri kembali?"
"Bisa, Bu. Di malam-malam tertentu kami tetap akan menemui Ibu dan Ayah, meski tak lama," Bima menjawab tegas ucapan Ibu. Memang sebenarnya Indri tak akan bisa pulang kembali, karena jika ketahuan, mereka akan mendapat hukuman. Namun, demi orang tua Indri, Bima rela jika suatu saat mendapat hukuman asal Indri bahagia.
Senyum Ibu dan Ayah kembali terkembang. Mereka saling berpandangan.
"Baiklah, Ayah dan Ibu mengizinkan kalian bersama, tapi ingatlah, jangan lupakan kami yang selalu menunggumu pulang kerumah," Ayah mengusap punggung Indri pelan. Menatap haru anak gadisnya yang sekarang sudah jadi istri orang bunian.
***
"Sayang...," Bima mengecup mesra punggung Indri yang saat itu sudah terlelap tidur memunggungi Bima.
"Mmmmm," Indri melenguh pelan diikuti gerak tubuhnya yang merasa kegelian saat bibir tipis Bima bermain di belakang tengkuknya.
Nafas Bima memburu di telinganya, membuat Indri jadi tak karuan mendapat serangan bertubi-tubi dari suami tampannya.
"Kak ... sudah,"
Bima dengan mesra membalikkan tubuh Indri agar berhadapan dengannya. Ia menghujami Indri dengan ciuman mesra berkali-kali hingga napas Indri terengah-engah. Wangi Bima dan kecupan manisnya membuat Indri ketagihan.
__ADS_1
Tiba-tiba Bima menghentikan aksinya. Ia menatap wajah Indri manja. Sambil memainkan helaian rambut Indri , ia berucap," akhirnya kamu jadi milikku seutuhnya, Sayang,"
"Iya, Sayang,"
Cup!
Indri mengecup mesra pipi Bima yang halus tanpa sebutirpun jerawat.
"Ikut aku, Sayang," Bima menarik pelan tangan Indri.
"Kemana,"
"Ikut aja, tapi kita terbang, oke?"
"Te--terbang? tapi, aku ...,"
"Kamu pasti bisa, nanti aku ajarin. Sekarang kamu ganti baju dulu," perintah Bima. Indri akhirnya menurut.
Indri kemudian mengikuti Bima yang sejak tadi menggenggam tangannya erat. Ia mengajak Indri ke halaman rumahnya yang luas dan mengajari Indri caranya terbang.
" Pikirkan yang indah, maka sayapmu menjadi putih, pikiran yang buruk menjadikan sayapmu berwarna gelap," ucap Bima.
__ADS_1
Mata Indri terpejam dan kemudian ...