SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_88


__ADS_3

Bismillah


          SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_88


#by: R.D.Lestari.


Tap!


Pintu yang hendak ku buka di dorong paksa dengan Pak Gio. Aku tertegun. Tubuh kekarnya berada di belakangku. Bisa kurasakan hangatnya tubuh bagian belakangku karena tubuh kami hampir saja menempel.


Settt!


Pak Gio menarik tubuhku hingga kini posisiku berhadapan dengannya. Tubuhnya yang lebih tinggi dariku membuat mataku kini tertuju pada dada bidangnya yang sangat memukau, aku ...


Bught!


Aku tersentak saat kepalan tinju Pak Dosen nyaris menghantam kepalaku, aku tak berkutik tapi ia sengaja memukul pintu tepat di sampingku.


Dadaku bergemuruh, jantungku bekerja lebih memompa darah hingga membuat kepalaku sedikit pusing.


Dadaku naik turun, nafasku rasa tercekat saat tangan kekarnya menyentuh daguku dan mengangkatnya hingga wajahku terpaksa menatap wajahnya yang kini teramat dekat dengan jarak yang hanya sekilan.


"Kenapa terlalu buru-buru? apa kau tak ingin bermain-main denganku dulu, Sri?"


Glek!


Aku menelan saliva dengan susah payah. Mata biru yang biasanya meneduhkan itu kini berubah menjadi amat mencekam dan dingin.


"Pa--Pak, bisakah saya pulang sekarang? saya harus memasak untuk Nenek," aku berusaha menggeser tubuh karena keadaan ini membuatku sesak.


Bught!


Pak Gio kembali meninju pintu dan menatap lebih tajam padaku. Pupilnya membesar.


"Jangan coba membohongiku, Sri. Kau hanya ingin menghindariku, 'kan?"


"Ti-tidak, Pak, sa-saya,"


"Apa yang salah dengan ucapanku padamu, Sri. Kenapa kamu selalu menghindar dariku?"


"Pak, kita hanya teman, t-e-m-a-n. Seperti kata Bapak, dan tak mungkin Dosen menyukai seorang murid, 'kan?"


"Jadi, karena itu? itu ... itu benar. Kebijakan sekolah tak mengijinkanku untuk memacari seorang murid, apalagi itu murid yang mendapat beasiswa sepertimu," mata Pak Gio semakin intens menatap ke arah mataku. Aku semakin salah tingkah. Sebenarnya apa mau Pak Gio ini?


"Sudah, Pak. Cukup penjelasanya, aku ingin pulang sekarang juga," tegasku sembari mendorong pelan tubuhnya.


Bught!


Kali ini Pak Gio menghempas pelan tubuhku hingga menyentuh dinding. Tubuh kekar menempel begitu dekat hingga aku terhimpit dan tak dapat bergerak. Tanganku ia cengkeraman hingga tak dapat berontak.

__ADS_1


Pak Gio membenamkan wajah tampannya di leherku, menjejaki leherku dengan kecupan-kecupan tipis yang membuatku geli. Rasa yang sama seperti yang kurasakan tadi pagi.


"Le-lepaskan aku, Pak," erangku.


Benar, Pak Gio segera menjauhkan wajahnya dari leherku, tapi wajah itu malah mendekat ke wajahku, saking dekatnya bisa kuhirup wangi mint yang menguar dari bibirnya.


"Katakan bahwa kau tak mencintaiku, maka aku akan melepaskanmu,"


"Ahhh," aku melenguh panjang saat wajahnya semakin mendekat. Denyut nadiku semakin tak beraturan. Bibirnya hanya sepersekian centi dari bibirku.


"Aku ... tidak mencintai Bapak!" tegasku.


"Tidak, kau bohong, Sri. Kau mencintaiku,"


Cup!


Bibir tipis nan merah itu kini menempel dan bergerak, bermain dengan manja. Lembut, kenyal, basah dan wangi. Untuk beberapa detik aku terbuai. Hingga aku tersadar jika ini hanya permainan dan aku hanya dianggap teman. Tak lebih.


Sattt!


Brakkk!


Aku melepas pagutan mesranya dan mendorong keras Pak Gio hingga Pak Gio terjungkal dan tubuhnya membentur meja kerjanya.


"Sriii!"


Klek!


Aku berbalik dan segera membuka pintu. "Maafkan aku, Pak," desisku sembari berlari meninggalkan Pak Gio yang masih membersihkan pakaiannya akibat terjatuh tadi.


Drap-drap-drap!


Aku berlari sekuat tenaga menjauhi ruangan kerja Pak Gio. Hatiku hancur berkeping-keping. Begitu mudahnyakah ia mempermainkan hatiku. Ia tau jika aku mencintainya, tapi ia bilang tak mau berpacaran dengan muridnya. Dan apa yang barusan ia lakukan? sebuah ciuman tanpa ikatan?


Aku bodoh mengijinkannya masuk dalam hatiku dan membiarkan cinta ini berkembang dan berakar dalam di lubuk jiwaku. Sebuah cinta fana yang mematikan .


***


Ckiittt!


Rena membelalakkan matanya saat seseorang berhenti tepat di hadapannya yang saat ini sedang menunggu taxi di depan gerbang kampusnya.


Tentu saja ia amat hapal siapa orang itu. Matanya seketika berbinar dan senyumnya merekah manja.


"Halo, Sayang, apa aku mengagetkanmu?" sapa James saat ia membuka helmnya. Wajah tampan nan bersinar itu menatap gadisnya penuh kerinduan.


"Tumben, jemput, James,"


"Kenapa? tak boleh?"


"Boleh, tapi aku ... malu,"

__ADS_1


"Malu karena... apa aku langsung saja ke kamarmu seperti kemarin? mengendap-endap dalam wujud transparan?" ledek James dengan senyum genitnya.


Bught!


Rena memukul ranselnya tepat mengenai bahu James.


"Awww, sakit, Ren!"


"Jangan macam-macam, James. Kasihan Reno berasa ada hantu di kamarku. Semua gara-gara kamu," Rena mencebik.


"He-he-he, aku akan lebih sering mengganggu adikmu itu, biar dia tak mengganggu kita," James terkekeh.


"Jangan mulai, James. Jika kamu berani-berani masuk ke kamarku dan mengganggu adikku, kamu akan rasakan bogem mentah dariku," ancam Rena. Matanya membesar sambil berkacak pinggang.


"Oke, oke, Sayang. Suerr ga akan masuk kamar lagi, tapi kalau sudah nikah, boleh kan?" James menunjukkan wajah manja pada Rena.


"Ya, kalau itu beda," Rena kembali mencubit pinggang James.


"Awww, Rena, sakiitt!" James menggeliat kesakitan.


"Eh-he-he, maaf Sayang, gemess aku sama kamu," Rena mencubit pipi James gemes.


"Ya, ya, aku memang menggemaskan. Udahan, ayo naik. Kita makan siang di tempat yang kamu mau, aku yang traktir,"


"Seriusss? mau !! ayo!" Rena bergegas naik ke motor sport James dan memeluk James erat.


James menggeser tubuhnya dan memiringkannya. Mengelus kepala Rena dengan sayang.


Cup!


Satu kecupan di layangkan James tepat mengenai kening Rena. Rena tersentak dan pipinya seketika memerah.


"James, jangan di sinilah. Malu tauk! ini di jalanan," Rena menggeser tubuhnya menjauhi James.


James kembali ke posisi semula. "He-he-he, maaf ya Sayang,"


Brummm!


Deru motor terdengar nyaring memekakkan telinga. Rena semakin mempererat pelukannya. Ia merasa amat nyaman bersandar di bahu James yang hangat. Pikirannya melayang, berharap jika suatu saat bisa bersama selamanya dengan James.


"Apa kamu mau tinggal bersamaku di Uwentira?" ucapan James seketika membuyarkan lamunan Rena.


"Aku ...,"


"Udah, jangan di jawab. Aku tau perasaanmu dan semua pikiranmu, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang aku hanya ingin membawamu dalam kebahagiaan, tanpa beban," James menarik tangan Rena dan mencium punggung tangannya  dengan sayang.


Seketika itu pula rasa nyaman menelisik di relung hati Rena. James memang amat pengertian. Selain tampan, semua yang ia lakukan selalu membuat Rena melayang. Itulah sebabnya Rena amat bahagia berada dekat dan bersama James.


Dua sejoli yang sedang jatuh cinta itu menikmati romansa cinta si bawah langit mendung dan rintikan hujan yang sedikit menggelitik kulit tubuhnya. Hembusan angin yang menerpa menambah kesan romantis di antara mereka. Senyum tersinggung di bibir dua insan yang saling mencinta, tanpa mereka sadari, sewaktu di gerbang kampus tadi, sepasang bola mata menatap nanar kepada mereka. Sepasang mata yang hatinya terluka dan penuh dengan prasangka.


****

__ADS_1


__ADS_2