
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_110
#by: R.D.Lestari.
Bunyi deru kendaraan roda empat mengalihkan obrolanku bersama Rena. Rena segera beranjak dan melenggang pergi ke ruang tamu, sedangkan aku menunggu di kamar Pak Gio.
Sudah empat jam kami menunggu kedatangan James di sini. Seperti titahnya, ia menyuruh kami untuk ikut bersamanya ke Uwentira.
Aku sungguh tak sabar. Tubuhku yang semula lemah tak bertenaga, kini terasa bugar berkat kedatangan James yang disambut penuh cinta dengan Rena.
Temanku itu menggelayut manja di lengan kekasihnya saat mereka masuk ke dalam kamar dan menemuiku dengan wajah penuh cinta.
Aku jadi iri. Rasa sedih menelusup relung hatiku, bayangan Pak Gio menari-nari di pelupuk mataku.
"Hei, Sri. Udah jangan sedih, ayo kita siap-siap ke Uwentira," sapa James saat wajahnya menyembul diambang pintu kamar.
"Tapi, aku tak bawa baju, Kak,"
"Hmmh, oke. Nanti kamu sama Rena belanja aja di Mall Uwentira. Ya, Ren?" pandangan wajah James beralih ke Rena.
"Siap, Sayang, yang penting ada uangnya," Rena melirik dengan mata berbinar ke arah James.
"Hmmh, kamu memang menggemaskan, Rena. Kalau sudah soal uang, pacarku ini selalu semangat," James terkekeh begitupun dengan Rena.
Seketika aku amat rindu dengan kehadiran Pak Gio ditengah-tengah kami saat ini.
Dia sedang apa? apakah ia masih marah? atau ia saat ini merindukan kehadiranku?
"Dah lah, tu Sri mau mewek. Kangen Gio dia," Rena melempar senyum mengejek ke arahku. Sial*an juga Rena ini, bisa-bisanya perasaanku dibuat becandaan.
"Oh, oke-oke. Yuk cuss kita berangkat," James merangkul Rena.
Dasar pasangan somplak! bisa-bisanya mereka menunjukkan kemesraan di depan temannya yang sedang patah hati seperti aku! kan nyesek!
"Hei, Sri. Jangan cemberut aja, ayo makan nih jeruk. Cukup jeruk ini aja yang masem, mukamu jangan! he-he-he," Rena lagi-lagi meledekku saat kami sudah berada di dalam mobil.
"Huh, apaan sih, Ren? lagi ga lapar," aku mencebik.
"Ya, Sri merajuk, James. Ya udah, sini aku suapin kamu aja, Sayang," Rena dengan mesranya menyiapkan jeruk ke mulut James yang saat itu sedang fokus menyetir.
Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela. Jalanan padat kendaraan dengan suara bising yang cukup memekakkan telinga.
"Hmmh," rasanya ada sesuatu yang mengganjal di dadaku, hingga sulit bagiku untuk menghirup udara bebas seperti biasa.
__ADS_1
"Sri, jangan dipikirin terus. Cowok itu kalau terlalu di kejar, besar kepala, Sri," celoteh Rena.
"Oh, jadi menurutmu aku besar kepala, dong. Habisnya kamu ngejar-ngejar aku dulu," James melempar senyum sinis ke arah Rena, Rena tersentak dan memelototkan matanya, marah.
"Mm, itu sebuah kesalahan," Rena mencebik.
"Jadi...!"
"Heh, kok kalian malah jadi berantem, sih. Fokus aja, James. Aku dah ga sabar ketemu Gio,"
Seketika keadaan menjadi hening. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
Netraku tak lepas dari jalanan yang kini sudah memasuki hutan larangan Uwentira.
"Kita ga bisa pergi sekarang. Portal belum terbuka. Menjelang subuh baru bisa kita menyeberang,"
"Jadi? untuk apa kita pergi sekarang?" tanya Rena.
"He-he-he, lupa. Tadi keburu-buru," James mesam-mesem.
"Huh, kebiasaan kamu!" omel Rena.
"Ya sudah, kita nginep di sekitar sini aja," sahut James.
"Ja--James? kalau aku tak segera pulang, Nenek pasti akan marah," ucapku ragu.
"Apa, Ren?" tanyaku penasaran.
"Ada, deh. Kamu diem aja. Nanti malam kita lanjut perjalanan. Sekarang kita cari penginapan," titah Rena.
Aku melirik James. Wajahnya yang amat serupa dengan Gio membuat hatiku bertambah kangen padanya. Pak Dosen, tunggu aku ya, Pak. Aku akan datang dan memperbaiki hubungan kita.
***
Malam begitu hening, angin semilir menyibak rambut pendek Sri. Udara dingin menyengat sehabis guyuran hujan sesorean, seolah mendukung suasana hati Sri yang dingin dan diliputi kesedihan.
Ia melangkah gontai mengikuti Rena dan James yang sudah lebih dahulu masuk ke dalam mobil. Seharian ia dan Rena hanya berada di kamar, makan dan nonton, sedangkan James di kamar yang lain.
Sri sempat menghentikan langkahnya dan matanya menatap ke arah langit.
Langit mulai terang dan mendung perlahan sirna terbawa angin, meninggal kerlipan bintang.
Ia menahan nafasnya beberapa detik dan menghembuskannya perlahan. Merangkai kata yang akan ia ucapkan kala dirinya berhadapan dengan Pak Dosen nantinya.
"Ayo, Sri. Jangan buang waktu! portal nanti ketutup!" sentak Rena.
Sri terhenyak dan menatap Rena dengan sendu. Gadis yang diliputi lara itu mengangguk dan melangkah pelan memasuki mobil.
__ADS_1
Rena dan James masih saling melempar candaan, tapi Sri tetap bergeming, seolah hanya ia makhluk di muka bumi ini. Sepi dan sunyi.
Brakkk!
"Wei, apaan tu?" Sri tersentak saat mobil menghentak cukup keras, mulutnya menganga saat ia melihat sinar amat terang di tengah jalan. Ia langsung mencengkeram bahu sahabatnya itu.
"Tenang, Sri. Kita masuk portal. Bentar lagi kita sampai ke kota Uwentira," Rena berusaha menenangkan Sri yang ketakutan.
Sri terdiam, mengelus dadanya yang saat ini berdetak kencang.
Lama-lama sinar terang itu meredup dan...
Brakkk!
Mobil kembali menghentak dan Sri kembali terguncang. Belum sempat ia bertanya, manik coklatnya membesar.
Pemandangan indah di depan matanya membuat ia tak sanggup berkata-kata.
Jalanan yang super mulus dan diterangi lampu berwarna kuning menyambut kedatangan kami.
Jembatan indah terhampar di depan mata. Berpadu dengan lampu yang tergantung. Sri berdecak kagum karena lampu yang menggantung tak ada pengait ataupun kabel yang menyalurkan listrik.
Ia memalingkan wajah ke arah jalan. Ia kembali terheran-heran saat melihat kendaraan berlalu lalang tak ada yang menyentuh aspal. Begitupun mereka.
Mobil-mobil mewah dan motor mahal. Belum sempat ia bertanya, netranya kembali menangkap pemandangan menakjubkan saat mobil mereka memasuki kota yang penuh dengan gedung pencakar langit .
Dominan gedung-gedung tinggi itu berwarna emas dan silver. Sri semakin terpukau saat ia melihat gedung-gedung tinggi itu bersinar dan sangat padat layaknya New York, kota metropolitan yang sibuk.
"Rena ... waw!"
"Biasa aja, Sri. Kamu pasti merasa kita seperti berada di luar negeri, 'kan?"
"Ya, memang sangat menakjubkan, Ren. Ini benar-benar, fantastis!" Sri berdecak kagum.
"Ya,ya, nanti kita lanjutkan. Sekarang pegangan yang kuat, aku mau ngebut!" seru James.
Swinggg!
Rena dan Sri berpegangan dengan kuat sembari mengomel tak tentu arah. Mereka mengumpat James yang mengendarai mobil begitu cepat, hingga...
Ckittt!
"Dah, sampai. Selamat datang di rumah,"
Rena dan Sri sama-sama tercengang. Mereka saling beradu pandang, seolah tak percaya dengan pemandangan di depan mata. Rumah James...
****
__ADS_1