SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_38


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#part_38


#by: Ratna Dewi Lestari.


Tiba-tiba tubuh Indri menggelinjang hebat. Mata nya menutup seperti menahan sakit. Mulutnya terkatup dengan gemeretak suara gigi yang beradu. Indri nampak amat kesakitan.


Bima yang melihat kondisi Indri dengan sigap mendekat dan memeluk tubuh Indri. Airmatanya tumpah melihat wanita yang amat ia cinta kini sedang bertaruh nyawa. Ia tahu benar efek dari darah yang di minum dua kali. Jika beruntung Indri sadar dan ingat semuanya, tapi jika nasib sial menimpa, maka Indri bisa lumpuh dan hilang ingatan bahkan meninggal dalam beberapa hari saja. Begitu kuat racun dan juga penawar di dalam satu tetesan darah hingga membuat manusia kadang tak mampu menerima kondisi itu dalam tubuh nya yang rapuh.


Bima ikut merasakan getaran tubuh Indri yang semakin lama semakin kuat, tubuh Indri memanas melawan reaksi racun yang kini menjalar dalam organ dan darah.


"Sayang ... bertahanlah, kamu pasti bisa!" isak Bima tepat di telinga kekasih hatinya itu.


Indri tak jua menjawab. Hanya terdengar gemeretuk giginya yang menahan sakit.


"Aaaaa!"


Suara teriakan Indri yang menahan sakit terdengar lantang memenuhi ruangan. Bima menyeka airmatanya dan melepas pelukannya.


Netra Bima membesar begitu melihat Indri yang tak bergerak. Tubuh itu duduk terdiam dengan kepala tertunduk. Bima mengulurkan tangannya takut, takut jika Indri dalam keadaan tak bernyawa.


Baru saja tangan Bima menyentuh pundak Indri, tiba-tiba ...


"Aaaaaaa!"



Indri kembali berteriak kesakitan. Matanya menutup dengan wajah yang mendongak ke atas.



Krettttt! Kreeeeeet!



Baju Indri di bagian belakang terkoyak karena sesuatu dari punggungnya memaksa keluar, perlahan benda itu semakin besar yang diiringi teriakan menyayat hati Indri.

__ADS_1


"Sa--Sayap? In--Indri?"


Bima tergagap melihat sepasang sayap berwarna putih kini mengepak keras dan Indri terengah mengatur napasnya.


Mata Indri terbuka dan menatap sendu suaminya. Mata yang semula berwarna coklat kini menjadi berwarna merah, semerah darah.


"Indri?" ucap Bima lirih. Tangannya dengan lembut mengusap pipi Indri yang masih menatapnya.



"Bima ... Kak Bima,"


"Sayang ... kamu sudah ingat?" Bima seperti kehabisan kata mendengar Indri mengucap namanya.


Tanpa menunggu jawaban Indri, Bima meraih tubuh istrinya itu dan mengusap kedua sayap yang kini kembali masuk ke dalam tubuh Indri.


Ia memeluk tubuh Indri erat. Setelah puas menangis di pelukan Indri, ia melepas pelukannya dan menatap kedua bola mata Indri yang sudah kembali ke warna semula.


"Kakak, kenapa kamu menangis?" Indri menatap sepasang mata biru Bima bergantian. Ia heran melihat suaminya itu menangis terguguk di hadapannya.


Indri menyentuh wajah Bima yang kini basah, ia menyeka sisa airmata itu dengan jari jemari lentiknya.




Bima meraih kedua tangan Indri dan menciumnya bergantian. Ia amat bahagia melihat istrinya selamat dan kembali mengingatnya.


"Kakak ...," wajah Indri mendekat, ia benar-benar heran melihat tingkah suaminya.


Cup!



Bima meraih wajah Indri dan menciumnya mesra. Mereka saling berpagutan melepas rindu. Manis, perlahan sesak di dalam dada menghilang berganti rasa bahagia yang teramat sangat.


Moment yang amat mereka tunggu setelah sekian lama. Indri dan Bima tak ingin terpisah. Bima dengan kasih sayang membawa Indri hingga ke awang-awang. Memadu kasih dan menyempurnakan Indri menjadi mahkluk seperti Bima seutuhnya.


***

__ADS_1


"Aaaaaaaaa!"



"Ibu! itu suara Indri!"


Ayah seketika beranjak dari duduknya dan berdiri hendak menemui Indri dan Bima di kamarnya begitu mendengar suara Indri yang amat menyayat hati.


"Tunggu dulu, Pak. Sabar. Biarkan Bima sendiri yang menyampaikan kabar tentang Indri, ritual jangan diganggu karena nyawa Indri bisa dalam bahaya," cegah Ibu Bima seraya menenangkan Ayah Indri yang tampak gelisah.


Ayah akhirnya mengangguk dan kembali duduk bersama Ibu. Tak dapat dipungkiri wanita tua itu pun sangat amat mengkhawatirkan anak semata wayang mereka.


Pipi Ibu sedari tadi basah dan terdengar sesekali lenguhan panjang dari nya. Setiap detik bagi Ibu berasa satu jam lamanya, menanti kepastian atas kondisi putri tercintanya.



"Bapak, Ibu... ritual ini amat sangat berbahaya bagi manusia seperti anda. Darah kami bisa menjadi penawar dan juga bisa menjadi racun yang amat berbahaya, semua tergantung dari tubuh masing-masing. Maka dari itu persiapkan diri anda untuk hal yang terburuk. Kita tak tau nasib malang ataupun nasib baik yang menimpa putri kalian. Lebih baik banyak berdoa agar putri kalian selamat," jelas Ibu Bima panjang lebar.



Ibu dan Ayah tercengang mendengar penjelasan dari wanita cantik di hadapan mereka. Ibu kembali terisak dan memeluk tubuh tua suaminya erat.



Krettttttt!



Drap-drap-drap!



Terdengar bunyi pintu kamar yang terbuka dan derap langkah kaki bersahutan. Ibu segera menyeka airmatanya dan menatap ke arah suara kaki penuh harap. Matanya membulat sempurna melihat dua sosok yang kini tersenyum manis menatapnya.



"Ibu ... Ayah ...," ucapnya lirih sembari mengulurkan tangannya .


__ADS_1


"Indriiiii!"


Bersambung....


__ADS_2