
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_7
#by: R.D.Lestari.
"Indri ...," suara seseorang membuatku seketika menoleh.
"Kak Bima?" aku menatap takjub pria di hadapanku. Ia Bima? tapi mengapa ia tampak amat berbeda?
Ia memakai kemeja putih dengan kancing yang dibiarkan terbuka, dadanya yang putih, dan berkotak-kotak membuat mataku tak ingin berpaling darinya.
Dan itu, apa? sayap. Ya, sepasang sayap berwarna putih yang amat cantik. Apakah dia seorang malaikat?
Wajah tampannya bersinar dan mata birunya memancarkan pesona yang amat indah. Rambutnya berkibar di terpa angin sepoi yang menenangkan, dan sepasang sayapnya mengepak manja.
Ia berjalan perlahan menuju ke arahku. Diriku hanya terdiam mematung. Pesona lelaki itu bukan sekedar memanjakan mata, tapi juga semua indraku. Ingin rasanya kupeluk dan mengusap setiap lekuk keindahan pada dirinya. Tapi, aku siapa? aku bukan siapa-siapa baginya.
"Indri ...," ia menyentuh tanganku dan membawanya ke tengah dadanya, menyentuh dadanya yang bidang.
Degup jantung Bima terasa amat kencang. Sama seperti degub jantungku. Sayapnya tetap mengepak,menimbulkan bunyi yang cukup kuat di telinga.
"Indri, apa kau merasa betapa kerasnya degup jantungku bila dekat denganmu?" tangan kanannya mengangkat wajahku pelan sehingga mata kami saling bertemu. Mata birunya menatapku sendu.
"Indri, kau tahu jika temanmu sedang dalam bahaya?" ucapan Bima membuatku terhenyak. Temanku? maksudnya Rena?
"Ren-- Rena, maksud Kakak?" bibirku bergetar menyebut namanya.
"Iya, Rena," Bima menarik tanganku pelan dan membawaku menuju danau di antara riuh suara angin dan ilalang yang bergesekan. Hamparan bunga beraneka ragam membuat suasana amat romantis.
__ADS_1
"Kamu harus menolong Rena secepatnya atau dia akan di jadikan budak di duniaku karena perbuatan kotornya," ucap Bima.
Hatiku berdesir mendengar ucapan Bima. Apa yang sudah di perbuat Rena hingga ia mengalami penyakit aneh seperti itu?
"Rena mencuri salah satu barang di dunia kami. Kami sangat benci pencuri. Dan dia akan menjadi bagian dari kami secara tidak hormat, asal...," Bima menghentikan ucapannya.
"Asal apa, Kak?" aku bertanya sembari menatap dalam ke matanya. Bagaimana pun Rena adalah sahabatku. Aku tak mungkin membiarkannya berada dalam bahaya.
"Asal kau datang membawa kembali barang itu, sebuah tas cantik keluaran terbaru yang membuat Rena gelap mata. Aku akan memaafkan semua perbuatannya dan bala tentaraku akan kupanggil kembali pulang ke duniaku," terangnya panjang lebar.
"Kenapa harus aku?" gumamku.
"Karena kamu telah memikat hatiku," ia menjawab pelan.
"Maksud Kakak?" wajahku langsung panas mendengar ucapannya.
"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Segera lakukan apa yang aku katakan tadi. Ingat! antarkan sendiri. Jangan bawa siapapun. Aku akan menunggu di ujung hutan Uwentira, janji kamu harus datang jika ingin temanmu selamat. Janji?" jari tangannya menjawiil hidungku.
"Ya, aku janji," jawabku pasti. Ada rona bahagia tersirat di wajah tampannya. Ia kemudian menggendong tubuhku dan mengepakkan sayapnya kencang.
Aku sempat tersentak takut dan refleks melingkarkan tanganku di lehernya hingga wajah kami sangat dekat.
Kepakan sayap semakin kencang, perlahan kaki Bima semakin terangkat dan mengambang. Ia terbang! ya, pemuda tampan itu terbang. Ia melesat di udara membawaku bersamanya.
Aku semakin mempererat peganganku hingga wajah kami semakin dekat. Aku merunduk dan kepalaku kini berada di dada Bima. Kurasakan kulit dadanya amat halus dan tubuhnya amat wangi.
Sekarang kami terbang melintasi danau yang amat jernih dan meninggalkan padang ilalang dan bukit penuh bunga warna-warni.
Bima membawaku terbang ke atas bukit yang penuh pepohonan pinus dan cemara. Dengan hati-hati ia menurunkan tubuhku dan menarik tanganku pelan.
__ADS_1
"Mau kemana kita, Kak?" lirihku.
"Kamu lihat di ujung sana, Indri?" Ia menunjuk seberkas cahaya yang amat terang. Aku mengangguk dan berjalan bersamanya menuju cahaya itu.
"Itu gerbang antara duniaku dan duniamu. Sekarang kamu pulang dan ingat semua kata-kataku, jangan di tunda dan aku akan menunggu kedatanganmu," ucapnya lemah lembut.
"Masuklah, dan jangan lupa janjimu ," ia menyuruhku masuk. Aku sempat ragu, tapi ia memaksaku.
Cahaya itu amat silau. Perlahan aku masuk ke sana dan cahayanya menyakiti mataku hingga ...
***
Kringgg! Kringgg!
Suara ponsel yang berdering yang berada tepat di pinggir ranjangku menyentak tidurku . Aku terpaksa bangun dan membuka mata.
Mataku terbelalak. Di kamar? aku sekarang di dalam kamar? terus tadi? apakah itu cuma mimpi.
Kringgg! Kringgg!
Lagi. Ponsel itu berdering kembali. Segera kuraih benda pipih itu, melihat nama siapa yang tertera di layar ponselku . Sri. Ternyata Sri yang menelfonku berkali-kali.
\[Ya, Sri. Ada apa?\]
[Rena, In.Rena]
[Kenapa Rena?]
__ADS_1
\[Rena ...\]
bersambung 😊