
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#Part_40
# by: R.D. Lestari.
Angin malam berhembus pelan, menyibak rambut hitam Indri yang tergerai, bulu matanya yang lentik ikut bergoyang, Bima menatap Indri dengan penuh pesona. Istrinya nampak amat cantik di bawah pendar cahaya bulan.
"Akhhh," rintih Indri pelan, tubuh nya bergetar hebat. Matanya tetap menutup sempurna.
Dari balik punggungnya keluar sayap berwarna putih, ia terengah saat sayap itu mengepak pelan. Perlahan ia membuka matanya, manik coklat itu berubah biru dan rambut hitamnya berganti pirang. Wajah Indri bersinar tanpa noda.
"Sayang, kamu nampak amat menakjubkan," Bima memandang Indri dengan berdecak kagum. Indri tersipu malu saat suami tampannya itu melingkarkan tangan kanannya di pinggang. Manik biru itu saling beradu pandang.
Cup!
Satu kecupan mendarat di kening mulusnya. Bima menggenggam jari jemari Indri mesra, memandang wajah istrinya penuh cinta.
"Tunggu sebentar sayang," Bima melepas genggaman tangannya. Melepas satu persatu kancing kemeja putihnya.
"Mau apa, Sayang?" Indri mengernyitkan dahinya.
"He-he-he, mau terbang bareng kamu lah, Sayang," Bima terkekeh. Ia terdiam sejenak dan tak lama dari punggungnya keluar sayap berwarna putih.
"Ayo, kita terbang," ajak Bima.
"Bagaimana caranya?" Indri bingung karena sayapnya tak juga bergerak.
Bima merapatkan tubuhnya, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Indri.
"Awww," Indri terperanjat saat sayap Bima mengepak keras dan perlahan kaki mereka melayang di atas permukaan tanah.
"Bayangkan sesuatu yang membuatmu bahagia, Sayang," ucap Bima, senyum manisnya membuat Indri merasa berada di awang-awang.
Pak! Pak! Pak!
Perlahan sayap putih Indri mengepak. Manik biru itu berbinar indah.
"Sayang! aku bisa terbang!" dengan histeris Indri kembali mengepakkan sayapnya. Sayap indah bagai peri itu berkilauan di terpa sinar rembulan.
"Iya, Sayang. Sekarang ikuti Kakak, ya," Bima menggenggam tangan Indri, membawanya terbang melesat membelah langit malam.
Krakk! Krakk!
Beberapa gerombolan burung yang sedang terbang, berhamburan saat Bima dan Indri terbang melewatinya.
__ADS_1
"Ha-ha-ha, Sayang, kita nakal banget ini! lihat tu burung-burung pada ngacir," Indri terkekeh melihat para burung yang terbang tak beraturan karena ulah mereka.
"Biarin, Sayang," Bima mengulas senyum dan tetap membawa Indri melesat melewati jajaran pohon di kiri dan kanan, melewati danau yang memantulkan sinar bulan. Sesekali Bima membawa Indri terbang menukik, membuat jantung Indri berdesir. Antara takut dan bahagia jadi satu.
Samar di kejauhan mata Indri menangkap sinar di ujung jalan. Sinar kekuningan yang amat menakjubkan.
Sinar itu perlahan nampak jelas dan membentuk bangunan-bangunan indah berwarna keemasan. Interior indah dengan aksen seperti bangunan di seribu satu malam.
"Kita di mana?" seru Indri saat kaki mereka menjejak di atap bangunan yang penuh dengan orang bersayap sedang berdansa, bercengkrama dan makan.
"Kita ...,"
"Hai ... Bima, kau di sini juga?" seseorang memotong ucapan Bima. Serentak Indri dan Bima menoleh ke asal suara.
Seseorang itu tersenyum saat Bima mengucapkan sebuah nama. Bima menyipitkan matanya. Ia seperti pernah melihat pemuda tampan bermata sendu itu, tapi ia lupa di mana.
"Hai, Indri, kamu tampak menakjubkan malam ini," lelaki itu tersenyum ramah menatap Indri yang masih tercengang.
"Kamu kenal aku?" ujar Indri pelan.
"Iya, tentu saja. Apa kamu lupa di mana kita berjumpa?" jawabnya.
Indri mengangguk pelan. Maniknya melirik ke arah Bima. Bima pun mengangkat bahu tanda tak tahu.
"Aku dulu pernah datang menolong Indri saat ia terkurung di menara, aku memberinya susu murni dan beberapa roti," lelaki itu menjelaskan saat pertama pertemuan mereka.
"Jadi, anda lelaki yang datang menolong ku malam itu?" mata Indri berkaca-kaca mengingat kebaikan Deren , lelaki yang malam itu datang menghapus dahaga dan menghilangkan rasa lapar.
__ADS_1
Lelaki itu mengangguk pelan.
"Terima kasih Tuan," Indri menunduk.
"Ah, sudahlah. Jangan sungkan. Ayo, kita duduk di sana," Deren menunjuk sofa kosong di sudut ruangan.
Bima melingkarkan tangannya di pinggang Indri, Indri menurut saat lelaki tampannya itu membawanya mengikuti Deren dan duduk bersama.
Makanan lezat dan buah-buah segar tersedia di meja. Lilin-lilin menyala dan bergelas-gelas minuman warna-warni dengan berbagai rasa menggugah selera. Indri menatap dengan takjub.
"Kita di mana?" Indri berbisik pada Bima.
"Pertunangan Silva, Kakak di undang kemarin,"
"Silva? siapa?"
"Dia, mantan pacarku dan dia wanita yang menculikmu dahulu," jelas Bima.
"Oh, wanita jahat itu!" tangan Indri mengepal, menahan rasa geram.
"Sudah, lupa kan kejadian itu, aku pastikan dia tak akan pernah menyentuh dirimu lagi, Sayang. Aku pastikan itu," Bima menatap Indri tajam. Biru mata nya menyirat rasa cinta yang amat dalam.
"Sayang ...," lirihnya.
"Ya ...,"
"Mengapa semua lelaki bertelanjang dada?"
"Ya, kalau memakai baju, tentu semua bajunya akan robek , Sayang," Bima menahan tawa mendengar ucapan istrinya. Indri tersenyum simpul, malu pada ucapannya sendiri.
Dan memang, malam itu semua pria bersayap bertelanjang dada, memang tak semua berdada bidang dengan perut kotak-kotak, ada pula yang bertubuh gempal dengan perut berlipat.
Sedangkan wanita, menggunakan gaun panjang dan gaun selutut dengan warna dominan hitam, dan tentu sayap dengan berbagai bentuk dan ukuran.
"Selamat datang, Bima,"
Suara merdu seorang wanita membuyarkan lamunan Indri , seketika ia menoleh dan ...
__ADS_1