SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_32


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#Part_32


#by: R.D. Lestari.


"Ayo, In. Tunjukkan senyummu, mereka sudah tiba dan menunggumu. Ibu yakin kau akan melupakan suami gaibmu itu. Anak teman Ibu tak kalah tampan,"


Ibu menarik tangan Indri kencang, hingga gadis itu tersentak dan mengikuti langkah ibunya menuju ruang tamu di mana calon besan dan putranya menunggu.


Semua yang sedang berkumpul di ruangan itu tersenyum lebar melihat kedatangan Indri, begitupun calon suami Indri yang duduk di tengah-tengah orang tuanya. Pemuda itu mengulas senyum manisnya saat berhadapan dengan Indri. Namun, Indri tak membalasnya dan bersikap cuek padanya.


Si Pemuda pun mengulurkan tangannya, tapi Indri tetap diam mematung. Membuat semua orang yang ada di sana menjadi canggung.



"Indri, jangan bikin malu Ibu," Ibu berbisik seraya menjawil lengan Indri. Membuat wanita itu terpaksa menerima uluran lelaki pilihan ibunya.


Setelah perkenalan itu, Indri dan Si Pemuda yang bernama Dahlan itu duduk berhadapan.


Dahlan bukan lelaki jelek. Ia terbilang cukup tampan untuk ukuran pria Indonesia asli. Tubuhnya lumayan tinggi dengan kulit eksotik khas kulit orang Indonesia, tidak putih dan juga tidak hitam, sawo matang lebih tepatnya.


Alis matanya tebal dengan godek tipis menghiasi wajahnya. Namun, kemaskulinan Dahlan yang usianya hanya berbeda empat tahun dengan Indri itu tak mampu menggoyahkan perasaan Indri dari pesona Bima. Gadis itu hanya memikirkan suaminya saja.


Prosesi perkenalan itu berlangsung singkat dan berujung pada penentuan tanggal pernikahan. Dahlan nampak antusias karena sudah merasa amat cocok dengan pesona Indri. Indri hanya terdiam tak sepatah katapun terucap dari bibir mungilnya.


Saat tanggal sudah di tentukan, tiba-tiba pandangan Indri buram dan ...


Brukkk!


"Indri ...!"


Gadis itu terjatuh dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


***


"Akhhh," Bima mencengkram dadanya. Ia merasakan sakit yang teramat sangat.


"Ke-kenapa, Kak?" Anima menatap Kakaknya khawatir. Ia amat yakin Bima merasakan kesakitan, terlihat dari wajahnya yang merah padam.


"Sa--sakit, An. Tolong bantu Kakak masuk ke dalam kamar," pinta Bima yang langsung di sambut anggukan Anima. Gadis belia itu dengan sabar memapah Kakaknya masuk ke dalam kamar.


"Terimakasih, Anima," ucap Bima saat tubuhnya ia baringkan pelan di kasur.


" Kamu kenapa tiba-tiba merasa sakit, Kak?" selidik Anima. Ia merasa curiga dengan kondisi Kakaknya itu.


"Entah, tapi Kakak rasa sesuatu terjadi pada Indri. Karena apa yang ia rasa sekarang Kakak juga rasa, itu semua karena darah abadi Kakak yang bercampur dengannya," Bima berusaha mencari apa penyebab sakitnya itu.


"Lantas kenapa Kakak masih di sini! ayo, Kak, temui Indri. Mungkin ia berada dalam bahaya," desak Anima.


"Kakak takut kehadiran Kakak akan jadi pengganggu, karena ...,"


"Karena apa, Kak?"


"Karena Indri memutuskan untuk mengikuti kehendak ibunya, ia akan menikah dengan pilihan orang tuanya,"



"Ya, dan satu yang bisa menyembuhkan nya, ia harus kembali ke dunia kita,"


"Dan kamu tega melihat istrimu itu gila?"


"Kakak tak kuasa menolak, An. Ini sudah keputusan Indri. Dengan begitu ibunya akan lebih siap kehilangan Indri dan rela melepas Indri untuk hidup bersama kita, di sini. Itu tujuan utama Indri," Bima membalikkan tubuhnya. Ia tak ingin adiknya tau jika saat ini hatinya amat rapuh karena memikirkan nasib istri yang di cintai nya akan menikah dengan laki-laki lain.


"Kak, di mana Kakak yang ku kenal dulu? selalu optimis dan tak pernah menyerah. Bukankah kalian saling mencintai? jika memang itu yang terbaik demi cinta kalian, setidaknya beri dukungan untuk Indri agar ia siap menerima kenyataan yang pahit nantinya," Animasi berusaha menghibur Kakaknya.



"Aku tak sanggup melihatnya menikah dengan orang lain. Aku takut dengan tanganku bisa membunuh manusia yang tak berdosa yaitu calon suami Indri nantinya," Bima menghela napas dalam.

__ADS_1


"Baiklah jika itu keputusanmu, Kak. Berdoalah kepada Yang Maha Kuasa agar kau bisa segera bersanding tanpa penghalang bersama istri manusiamu itu," Anima melangkah pergi meninggalkan kakaknya. Ia tak tau harus berbicara apa lagi. Ia hanya bisa berdoa agar kakaknya menemukan jalan yang terbaik.


***


Tubuh Indri panas. Mata nya lekat tak bisa di buka. Wanita langsing itu mendadak lemas dan susah bergerak. Bibirnya pun seolah bisu tak dapat berbicara.



Ibu yang mendapati anaknya seperti itu kalang kabut. Ia merasa amat menyesal memaksakan kehendaknya kepada anak semata wayangnya itu.



"Indri ... maafkan Ibu, Nak," wanita tua itu menangis sesenggukan menatap anaknya yang kini diam tak bergerak.



"Sudah, Bu. Biarkan Indri istirahat dulu," Ayah berusaha menenangkan Ibu yang sejak tadi terus menangis histeris.



"Jadi, bagaimana dengan pernikahan kami, Bu, jika Indri seperti ini? sebenarnya Indri sakit apa?"



Dahlan tiba-tiba muncul di dalam kamar. Semua yang berada di sana hanya menelan ludah. Bingung mau jawab apa.



"Setahuku Indri tidak punya penyakit apa-apa," jawab Ibu asal.



"Tidak mungkin jika ia tak punya riwayat penyakit, bisa tiba-tiba seperti ini," Dahlan berdecak pinggang. Ia merasa ada yang aneh dengan calon istrinya itu.


__ADS_1


"Kalau begitu kita batalkan saja pernikahan ini, aku tak sudi punya istri penyakitan seperti ini!"


***


__ADS_2