
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_68
#by: R.D.Lestari.
"Bu, sampai kapan aku harus menunggu Kak Bima siuman dan sehat? aku sudah menunggu sebulan lebih, dan jujur aku tak betah tinggal di sini, aku kangen sama Ibu dan Ayah di rumah. Mungkin cuma merekalah yang bisa menghapus kerinduanku pada Kak Bima," Indri menghela napasnya yang terasa tercekat. Sesak menyelusup relung hatinya.
"In, kamu boleh pulang ke rumahmu, Ayah yang akan mengantarmu. Kamu benar, kami di sini tak akan bisa mengobati rasa sedihmu. Kamu harus berada dalam rengkuhan keluargamu," Ibu membelai kepala Indri dengan sayang.
"Bolehkah, Ibu ... nanti setelah Kak Bima sadar, aku akan kembali pulang ke sini," janji Indri.
"Ya, tentu saja, In. Di sana rumahmu, di sini juga rumahmu," senyum manis tersungging di wajah Ibu.
Hati Indri seketika berbunga saat mendengar izin Ibu. Ia harus mengakui jika dalam pelukan ibunya sendiri ia bisa sedikit mengobati luka dalam hatinya.
***
Malam tepat jam tiga, Indri di bawa pulang kembali ke dunianya bersama Ayah dan juga bayi Stella yang anteng berada di gendongan.
Pria yang sekilas amat mirip perawakannya dengan Bima itu terlihat sendu. Ia sepertinya sedih berpisah dengan cucu kesayangannya.
"Kakek akan sering mengunjungimu , gadis kesayangan Kakek," ucap ayahnya Bima saat ia mengantar Indri sampai muka rumah.
Tentu saja kedatangan Indri yang tiba-tiba membuat keluarganya terkejut bukan kepalang. Kedatangannya yang tengah malam beserta bayi di gendongannya dan juga ayah mertuanya.
"Ya Allah, Indri, Ibu kangen sekali," Ibu mencium pipi anaknya.
"Pak, Ibu, saya titip Indri dan cucu saya dulu di di sini. Kebetulan anak saya sedang menderita sakit, nanti Indri akan menjelaskan semuanya dengan Bapak dan Ibu," ayah Bima membuka suara.
"Iya, Pak. Terima kasih sudah mengantar anak saya," Ayah membungkukkan diri sebagai rasa hormat.
"Iya, Pak. Sama-sama, sudah kewajiban saya sebagai Kakek menjaga anak menantu dan cucu saya. Saya permisi dulu, Pak. Maaf saya tidak bisa mampir, takut portalnya tertutup," Ayah berpamintan.
"Indri, Ayah pulang, ya. Baik-baik di sini. Jaga perasaanmu, jangan sampai berpaling. Setialah menunggu hingga Bima datang menjemputmu," Ayah menyodorkan tangannya kepada Indri, dan disambut Indri dengan ciuman di punggung tangannya.
__ADS_1
"Iya, Ayah. Segera telepati jika Kak Bima sudah sehat. Indri akan setia menunggu," janji Indri. Matanya mulai berkaca-kaca menahan hati di hatinya. Entah sampai kapan ia harus menunggu kedatangan Bima kembali dalam hidupnya . Pelukan rindu pasti akan menyiksa batinnya.
Setelah mengucap perpisahan, Ayah mengulas senyuman getir dan beranjak menjauhi Indri dan keluarganya menuju mobil mewah miliknya.
Indri masih tertegun di muka pintu sampai mobil mertuanya benar-benar hilang dari pandangan.
"Ayo, Nak, masuk. Kasihan cucu Nenek kedinginan," Ibu mengambil bayi mungil dalam gendongan anaknya dan memeluk bayi itu dengan erat.
Indri menurut dan masuk ke dalam rumah karena udara di luar semakin menusuk di kulit.
"Bu, Indri mau langsung tidur. Besok Indri ceritakan semuanya," ucap Indri. Ibunya mengangguk dan mengantar Indri ke kamarnya. Ia kemudian meletakkan bayi mungil yang sejak tadi anteng di atas ranjang milik Indri.
"In, anakmu cantik sekali. Mirip sama Bima," Ibu tersenyum melihat wajah cucunya yang amat cantik dan imut menurutnya.
"Iya, Bu. Sayangnya...," tanpa sadar air mata Indri mulai berjatuhan.
"Sudah, sudah, In. Besok lagi kita bicarakan. Istirahatlah, Nak. Ibu tau apa yang menimpamu, walau bibirmu tak mampu menceritakannya pada Ibu," Ibu melangkah mendekati Indri dan membelai ubun-ubun Ibu muda itu.
"Ibu janji, kita akan bahagia. Ibu yakin Ayah akan segera sehat dan berkumpul bersama kita kembali," ujarnya, tak lama mata Indri terpejam. Ia amat lelah setelah bertarung dengan hatinya yang terluka. Indri patah hati.
***
Sosok itu sebenarnya masih berdiri tak jauh dari ranjang Rena, di mana Rena masih tergugu dengan guyuran airmata membanjiri pipinya yang merah. Ia memeluk lututnya sembari mengucap kata 'maaf' berulang kali, membuat sosok tak kasat mata itu iba.
Ia ingin menjadi jiwa yang tega. Karena menurutnya Rena sudah melakukan kesalahan yang fatal. Namun, melihat Rena yang tertekan dan di rundung kesedihan terus menerus membuat James ikut tersayat hatinya.
"James... di mana kamu? dasar kamu lelaki yang tak punya hati! tega! tega!"
ceracau Rena di sela tangisannya. Saat ini Rena benar-benar bucin.
Semenjak James pergi, ia merasa sendiri, sepi. Dunianya menjadi sunyi. James benar-benar telah merenggut hatinya. Wajah tampannya selalu menari dalam pikiran nya.
__ADS_1
James dalam tubuh tranparannya mendekati Rena dari belakang. Tangannya yang kekar memeluk tubuh ramping Rena dan mendekapnya erat.
Rena tersentak. Matanya membeliak. Ia menyisir sudut kamarnya dan kepalanya mencari keberadaan James, kosong. Namun, ia yakin jika tubuhnya sedang dalam pelukan seseorang dan ia tidak sedang berhalusinasi.
"James... it's that you?" lirihnya.
"Shutttt, aku masih marah padamu, cewek cerewet. Sampai reda marahku, aku tak akan menunjukkan wajah tampanku padamu," lirih suara tepat di telinga Rena.
Rena geram. Ia ingin segera mencabik-cabik wajah mulus James. Sialnya, tangannya seolah menepuk angin. Tak ada apa pun selain udara kosong.
"Heh, James! keluar kamu! jangan bisanya memainkan hatiku saja!" serunya marah.
Brukkk!
Tiba-tiba tubuh Rena terbanting pelan ke belakang. Dalam kondisi terlentang Rena merasakan tubuhnya seperti tertindih seseorang. Tangannya hendak berontak tapi ia tak dapat menggerakkan tangannya. Seolah tangannya terkunci begitu juga dengan kakinya.
"James! ini pasti ulahmu! James! lepaskan a ....,"
Mata Rena terbelalak saat bibirnya seperti bersentuhan dengan benda lunak dan basah yang wanginya amat ia hapal. Wangi mint yang menguar dari tubuh James tentunya.
Benda itu memikat bibirnya dengan lembut dan penuh kehangatan. Terus dan konsisten membuat Rena yang awalnya menolak menjadi hanyut dalam pagutan yang penuh gelora.
Aroma yang memikat dan permainan yang indah membuat Rena memejamkan matanya. Ia benar-benar terbuai dan jatuh cinta pada sosok tak kasat mata yang kini tengah menggerayangi bibirnya.
Napas Rena terengah-engah saat sosok itu perlahan melepas kecupannya dan juga ikatan tangan serta kaki Rena.
Rena tersenyum penuh arti. Menggigit bibirnya yang terasa hangat. Seumur hidupnya baru kali ini ia merasakan kecupan yang begitu dahsyat.
James pun sama halnya dengan Rena. Ia sangat ingin kembali memadu kasih bersama Rena, tapi belum waktunya. Setelah mendaratkan ciuman di kening Rena , James pun melesat pergi setara dengan kecepatan cahaya. Ia takut jika berlama-lama di kamar Rena, ia menjadi khilaf .
Rena terduduk sembari memegangi dadanya yang berdetak amat kencang. Bisa-bisanya James mempermainkan hati dan pikirannya seperti ini. Membuatnya berada di awang-awang dan menjatuhkannya dalam sekejap.
"James, kau memang amat menyebalkan, tapi aku sangat mencintaimu,"lirih Rena di sela senyuman yang tersungging di wajahnya.
***
Terima kasih sudah mampir di Cerita saya
__ADS_1