SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_70


__ADS_3

Bismillah


         SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_70


#by: R.D.Lestari.


    Rena mematut diri di depan cermin. Berlenggak-lenggok di depan kaca yang memantulkan tubuh indahnya yang di balut dress pink dengan motif bunga mawar di beberapa sisi. Rambutnya yang sebahu ia biarkan tergerai indah dengan jepit berhiaskan mutiara.


   Sepatu kets putih dan tas punggung hitam menambah kesan girly dan juga feminim, polesan make up tipis menjadikan Rena siap tebar pesona pagi ini.


   Rena melangkah cepat menuju motor maticnya, dengan sigap ia naik ke kuda besi itu dan memacunya dengan kencang menuju rumah Sri, sahabatnya. Hari ini Rena lebih bersemangat dari biasanya. Ia yakin jika Pak Dosen ganteng itu memang James. Pria dingin yang selama ini menjerat hatinya, walaupun ia beralibi dan mengganti nama menjadi Giorgino, tapi itu tak bisa menipu Rena. Hati Rena bicara, dialah James. 


   Sembari tersenyum dan bersenandung riang, Rena membelah jalan yang ramai kendaraan, menjemput Sri yang katanya sudah siap sedari tadi.


   Ckitttt!


   Motor matic merah miliknya akhirnya berhenti di halaman rumah Sri yang cukup luas dan di tumbuhi rumput gajah dan bunga aster berwarna-warni. Rumah model lama yang di wariskan turun temurun.


    Baru saja kaki Rena menjejak di atas rerumputan, Sri sudah muncul di ambang pintunya. Kali ini dandanan Sri pun nampak berbeda. Ia pun terlihat feminim dengan rok levis lima senti di bawah lutut dan kaos putih ketat dengan merk Kremez  yang di balut blazzer merah maroon.


Sepatu ketz putih merek Nikki juga menambah kesan cantik. Dan tak lupa lipstik nude dan pipi yang sedikit meronta jadi pilihan.


   "Hai, Ren. Udah nunggu lama?" Sri terlihat girang menyambut kedatangan sahabatnya itu.


   "Baru aja, Sri. Loe cakep banget hari ini, mau pergi?" Rena berbasa-basi.


   "Hooh, tadi malam PakDos kita nelepon, katanya buat ngerayain kesehatan gue, Dia mau traktir makan, gitu," sahut Sri dengan wajah sumringah.


   "Oh, gitu. Ya, deh. Yuk, kita berangkat sekarang," wajah Rena yang semula sumringah berubah masam. Rasa cemburu menghinggapi hatinya kala Sri menyebut Pak Dosen tampannya itu.


   Sepanjang jalan Sri berceloteh ria tentang betapa baiknya dosen tampan yang jadi incarannya itu. Rena hanya berdehem dan menjawab singkat semua omongan Sri. Sri seolah tak perduli. Ia ingin Rena tau betapa ia amat terpesona dengan ketampanan dan kebaikan Pak Dosen. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan, ya karena Sri ingin Rena jangan sampai merebut kebahagiaannya saat ini. Ia yakin Pak Dosen akan jatuh cinta padanya. Dan Sri akan segera memilikinya.


   Setelah motor di parkir. Rena dan Sri berjalan beriringan menuju kelas. Mata Sri jelalatan mencari sosok Dosen yang amat ia sukai itu. Ternyata bukan hanya Sri yang menaruh hati. Rata-rata mahasiswi di kampusnya jatuh cinta pada ketampanan Pak Dosen ganteng yang wajahnya mirip orang bule itu.


   Di sepanjang koridor menuju kelas, mereka mendengar nama Giorgino yang jadi bahan perbincangan para gadis yang duduk berkelompok.


    "Gil*, saingan gue banyak," sungut Sri memandang geram beberapa gadis yang menyebut nama pria incarannya itu.


   "Termasuk aku, Sri,"batin Rena.


  Sri menghentikan langkahnya dan menatap sinis ke arah Rena.


   "Loe juga saingan gue, ya, Ren?"


   Degh!


   Ucapan Sri kali ini kontan membuat jantung Rena seolah berhenti berdetak. Sri seolah mampu membaca pikiran Rena. Apa Sri sudah ketularan Indri? bisa membaca semua pikiran orang?


   "Apaan, sih, Sri. Nuduh aja, Loe. Loe bisa baca pikiran gue apa? Rena menjawab dengan gelagapan.


  "Ga, sih. Feeling aja," ia terkekeh.


  "Dah ah, yuk, lanjut," Sri kembali melangkah cepat menuju kelasnya.  Mereka lalu duduk di tempat masing-masing begitu sampai di dalam kelas.


    Hati Rena deg-degan menanti datangnya Sang Dosen yang di gilai banyak gadis di kampusnya.


   Tettttt!


   Bel berbunyi. Tanda kelas sebentar lagi akan di mulai. Jantung Sri dan Rena mulai memacu kencang dengan bunyi yang dug-dug tak beraturan.


   Tap-tap-tap!


   Suara langkah kaki membelah kesunyian di dalam kelas. Semua mahasiswi menatap ke arah pintu secara bersamaan tanpa kedip. Mereka menunggu makhluk tampan dan paling seksi di muka bumi ini untuk muncul di hadapan mereka sesegera mungkin.

__ADS_1


   Wajah tampan nan mempesona itu akhirnya muncul di ambang pintu. Semua yang melihat langsung terpana dan beberapa ada yang mulut nya ternganga. Demi apa , Dosen itu menebarkan aura ketampanan yang luar biasa. Rambut pirangnya tertata rapi dengan kata biru dan senyum angkuh serta kulit putihnya yang bersinar. Ia memakai kemeja maroon dengan celana bahan dan sepatu yang mengkilat. Jam tangan merek Younglex yang harganya jutaan bahkan puluhan juta bertengger di tangan kekarnya.


   Siapa yang tak terpesona dengannya? paket lengkap. Gagah dan ber-uang. Idaman setiap ciwi-ciwi di belahan dunia manapun.


"Morning class, are you ready?"


"Ready, Ser!"


"Terima kasih semua. Mari kita mulai kelas kita hari ini,"


"Selamat datang buat Sri, sudah baikan, Sri?"



Seketika seluruh murid dalam kelas , terutama yang wanita menatap Sri dengan pandangan iri, begitu juga Rena. Gadis itu berubah masam melihat sahabatnya di sapa dengan ramah, sedangkan dirinya? melihatnya saja tidak. Padahal Rena sudah memasang senyum semanis mungkin, beruntung semut ga berdatangan, saking manis nya senyum Rena saat itu.



Boro-boro di sapa, di tolehpun enggak. Rena menelan salivanya yang terasa pahit, sepahit hidup nya saat ini.



"Su-sudah, Pak, terima kasih," wajah Sri bersemu merah mendapat perhatian dari Pak Dosen.



Tap-tap-tap!



Pak Dosen berjalan mendekati Sri yang duduknya tepat di belakang Rena. Wangi parfum Cassabianka semerbak menguar dari tubuh Pak Dosen. Wangi yang sama seperti wangi James. Rena hapal sekali dengan wanginya yang menggoda.



Namun, Pak Dosen tetap berlalu melewatinya, menuju ke meja Sri. Ia menundukkan tubuhnya dan berbisik di telinga Sri yang suaranya lirih terdengar hingga ke telinga Rena.


"Nanti kita makan di kantin, ya. Aku tunggu,"


Sri mengangguk seraya menggigit bibirnya. Rasa bahagia tersirat di wajah manis nya. Rena menggeram marah.


Krakkk!



Tanpa ia sadari, tangan nya menggenggam kuat pensilnya hingga benda panjang itu patah.



"Dasar menyebalkan, kau James. Apa ini suatu kesengajaan? kau sengaja membuat ku sakit hati dan terbakar cemburu?" batin Rena.



Setelah berbisik, Pak Dosen kembali ke mejanya dan mengajar hingga kelasnya usai. Selama itu pula Rena menundukkan wajahnya, ia tak ingin menatap sosok yang di rindukannya.


Tetttt!


Bel tanda istirahat berbunyi. Rena asik dengan bolpoint dan bukunya. Mencorat-coret sembarang.


"Ren, gue duluan, ya," ucap Sri sembari menepuk pelan punggung Sri.



"Iya, Sri," sahut Rena pelan. Ia tahu jika Sri akan ke kantin dan makan bersama Pak Dosen. Rena enggan melihat kemesraan mereka. Ia memilih tetap berada di kelas hingga istirahat usai.


__ADS_1


Sayangnya, kandung kemih Rena terasa sesak dan penuh. Memaksa Rena untuk segera stor ke toilet saat itu juga. Rena ingin menolak tapi sesak membuatnya sakit. Ia pun akhirnya beranjak dan berjalan tergesa menuju toilet kampus.



Sialnya, toilet itu melewati kantin, dan netra Rena tak sengaja melihat Sri dan Pak Dosen yang berbincang dengan akrab, di selingi tawa. Sri tampak amat bahagia. Rena tertegun.


Bulir bening itu jatuh begitu saja. Tersadar, Rena menyeka dengan segera dan berlalu menuju toilet.


Brakkk!



Serrrr!



Setelah menunaikan hajatnya, Rena keluar dari toilet dan merapikan wajahnya di kaca yang tertempel di toilet. Saat itu Rena hanya seorang diri.


Tiba-tiba ....


Brakkk!


Wuzzzhh!


Pintu toilet tertutup dengan kencang. Rena terjingkat dan menatap takut ke arah pintu. Hembusan angin cukup kencang menerpa Rena hingga Rena terseret dan membentur dinding pelan.


Saat akan bergerak tiba-tiba tangan Rena terangkat ke atas. Seperti terkunci. Rena merasakan tubuhnya seperti di tekan hingga ia tak mampu bergerak.


"Kau pasti James! lepaskan! mau sampai kapan kau mempermainkan hatiku, James!" Rena berontak di selingi tangisan yang memilukan.


"Sampai kamu berubah jadi gadis manis, tidak cerewet dan tidak suka mengumpat," suara lirih menghembuskan wangi mint menyeruak di indra penciuman Rena.


"Jangan siksa aku seperti ini, James. Tunjukkan dirimu, atau memang kamu yang menyamar jadi Pak Dos...,"



Cup!



Lagi, sesuatu yang lembut dan lunak \*\*\*\*\*\*\* bibir merah Rena. Membawa Rena pada kenikmatan cinta. Cukup lama sosok tak kasat mata itu bermain dan mencumbu Rena dengan ciuman dahsyatnya.



"Aku akan membuatmu memcintaiku, Rena. Kesendirian akan membuat mu merindukan kehadiranku,"



Wuzzzhh!



Setelah berucap angin kencang kembali datang, dan pintu terbuka dengan pelan. Rena kembali merapikan rambutnya yang berantakan.


Rena tersenyum simpul. Makhluk aneh itu memang sudah mengobrak-abrik hatinya.


Rena kemudian melangkahkan kaki menuju kelasnya, ia kembali tertegun saat melihat Sri dan Pak Dosen masih berbincang. Kalau Dosen itu memang James, lantas, siapa yang menciumnya tadi?


***


...


...


  

__ADS_1


__ADS_2