
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_48
#by: R.D.Lestari.
"A--apa, ini, Bu?" Ibu dengan tangan gemetar merasa ragu untuk menerima pemberian ibunya Bima.
"Nanti Ibu buka sesampainya di rumah, ya. Semoga Ibu suka," senyum terluas di wajah cantik orang tua Kak Bima.
"Terima kasih, Bu. Saya permisi dulu," Ibu pun menjabat tangan ibunya Bima. Dengan ramah ibunya Kak Bima membawa Ibu dalam pelukannya. Orang tuaku terlihat canggung tapi tak dapat menyembunyikan kebahagiaan dan juga kesedihannya.
"Ibu, Indri permisi anter orang tua Indri dulu, ya, Bu," ucapku sopan yang diiringi anggukan pelan ibunya Bima.
Kami akhirnya melangkah meninggalkan rumah Kak Bima yang bagai istana , menuju mobil alpard putih punya Kak Bima.
Mobil menderu pelan saat Ibu, Ayah, aku dan Kak Bima sudah aman di dalamnya. Kondisi jalan amat lenggang tapi lampu-lampu jalan masih bersinar terang.
Saat mobil memasuki persimpangan, Ayah tak henti melihat sisi sebelah kanannya yang amat gelap, hanya terlihat siluet-siluet pepohonan tinggi menjulang. Kelebatan kelelawar terlihat sampai di dalam mobil. Melihatnya saja Ayah bergidik ngeri. Kota ini seperti punya dua sisi, sisi gelap dan sisi terang yang penuh misteri.
"Ayah, kenapa? kok ngelihat kesana terus?"
"Eh, itu, In. Kok di sebelah sana gelap sekali, ya? Ayah merinding ngeliatnya," Ayah kembali bergidik.
"Itu, sisi gelap dari kota kami, Yah. Di sana tempat jin kafir dengan bentuk-bentuk menyeramkan. Mereka bisa berubah wujud menjadi berbagai makhluk seperti, pocong, kuntilanak, genderuwo dan semua makhluk mengerikan lainnya,"
"Jika manusia masuk ke situ, bisa di pastikan tersesat dan jadi kaum mereka, Yah," jelas Kak Bima.
Ayah dan Ibu manggut-manggut. Sedangkan aku kembali mengalihkan pandanganku ke arah jalan, menikmati pemandangan indah gedung-gedung tinggi menjulang dengan gemerlap lampu yang menyala terang.
Bibirku tak henti berdecak kagum walaupun berulang kali melewati jalan yang sama. Suasana malam menjelang subuh seperti ini sangat mengagumkan, apalagi saat mobil mulai memasuki jembatan panjang yang lurus tanpa belokan. Lagi, lampu-lampu berwarna kuning keemasan melayang di antara jembatan tanpa listrik dan alat penyangga. Rasanya sedikit aneh untuk orang sepertiku, tapi itulah keistimewaan kota Uwentira yang tak di miliki kota lainnya.
Sesekali Kak Bima mengelus rambutku sayang, aku menoleh dan menyunggingkan senyum manis untuknya.
__ADS_1
"Mmmmmh, Kak Bima, semakin di pandang semakin aku cinta. Kamu memang amat tampan," batinku.
"Ya, aku tau, Sayang, Aku juga cinta padamu,"
Degh !
Padahal Kak Bima sedang fokus menyetir mobil dan mulutnya terkatup.
Siapa yang berbicara barusan? mengapa terdengar jelas?
"Itu suaraku , Sayang. Kamu kan sudah jadi makhluk seperti aku. Jadi, kamu bisa denger semua pikiranku,"
Dari kejauhan mulai samar kilau cahaya yang merupakan portal penghubung antara duniaku dan dunia Kak Bima.
Perlahan cahaya itu semakin jelas berbentuk seperti pusaran air yang besar. Mobil semakin mendekat dan ...
Duk!
Mobil menghentak saat memasuki portal, silau di dalam sana hingga membuatku menutup mata karena tak tahan oleh cahayanya.
__ADS_1
Duk !
Dalam hitungan detik mobil kembali menghentak dan kami sedikit terguncang. Saat mata kembali terbuka kami sudah berada di tengah jalan bersisikan hutan Uwentira yang saat itu sepi tanpa lalu lalang kendaraan. Hanya pepohonan yang tinggi menjulang dengan setia menemani perjalanan kami.
Mobil semakin melambat saat sudah dekat di sekitar rumah. Dengan sabar Bima menurunkan semua buah tangan pemberian ibunda tercinta.
Kami sempat menangis haru saat perpisahan, dan aku berjanji akan sering menemui ibu walau hanya dalam mimpi.
Mereka melepas kepergian kami dengan lambaian tangan dan senyum getir yang terulas di bibir tuanya. Airmataku tetap tumpah walau laju mobil semakin kencang dan mengauhi rumah. Bima menggenggam tanganku dan menatap wajahku teduh.
" Aku janji, kita akan sering menemui mereka, karena aku tak ingin kamu bersedih sepanjang waktu,"
Aku menggelayut mesra di bahunya. " Terima kasih Kak, kamu memang sangat pengertian,"
***
" Di buka toh, Buk. Itu isinya apa?"
Suamiku yang penasaran berulang kali memintaku untuk membuka kotak merah pemberian Ibu Bima. Aku merogoh tas dan mengeluarkan kotak merah yang berukuran lumayan besar itu dan ternyata isinya...
Bongkahan berlian dan batangan emas juga koin-koin emas, membuatku dan suamiku melotot karenanya. "Bu, kita kaya!"
__ADS_1