
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#Part_66
#by: Ratna Dewi Lestari
Indri mengikuti langkah kedua orang tua Bima menuju kamar mereka. Benar saja, kondisi Bima memang sangat memprihatikan. Seketika netra Indri basah, mengucur hingga ke dada. Dingin menyergap hatinya yang di liput cemas akan nasib rumah tangganya.
Indri luruh tepat di samping Bima yang saat ini sedang menutup matanya. Napasnya satu-satu, terkadang napasnya terdengar tercekat dan nampak Bima amat susah payah mengambil udara sekitar.
"Kak ... bangun, Kak. Ayo, buka matamu, apa kamu tak ingin melihat anak kita? seorang gadis mungil yang amat cantik, ia punya mata indah dan bulu mata yang lentik,kulitnya putih bersih dan bersinar dengan bibir merah yang menawan,"
"Bangun, Kak. Kamu harus memberi nama anak kita, Stella, Friska, Diana... mana nama yang cocok kira-kira, Kak?" Indri terus mengoceh tanpa henti, membuat Ibu, Ayah juga Anima yang berdiri di sana, menjadi ikut sesak dan tak bisa menahan air mata. Mereka amat tau jika saat ini Indri sedang terluka dan amat hancur hatinya.
Ibu mendekat dan merangkul Indri dari samping, membelai rambut hitam Indri yang tergerai panjang dengan lembut.
"Kuatlah, Nak. Berpisah beberapa tahun tak akan membuat cinta kalian luntur. Relakan Bima pergi untuk sementara waktu," ucap Ibu.
"Tapi, Bu. Kak Bima begini karena aku. Ini semua karena aku, Bu ...," Indri tergugu. Wajahnya basah. Airmatanya tumpah bak hujan deras.
"Bukan salahmu, Sayang. Bima hanya ingin menyelamatkan kamu dan juga anaknya. Kalian adalah harta terindah baginya, apa pun akan ia berikan, termasuk nyawanya," Ibu membawa Indri dalam dekapan. Dunia Indri rasanya hancur. Melihat Bima dalam kondisi tak sadarkan diri membuat jiwanya rapuh.
Indri tak mengucap sepatah katapun. Kehilangan Bima tak pernah ia pikirkan sedikitpun. Sesak dan perih hingga membuat tenaganya hilang dari tubuh, Indri luruh ke lantai, dan pandangannya menggelap. Pingsan.
***
Menggunakan mobil ambulance mewah Bima di bawa menuju rumah sakit kota Uwentira. Rumah sakit yang khusus mengobati warga Uwentira dengan kasus-kasus tertentu, seperti Bima contohnya.
Di lihat sekilas, kota indah Uwentira tak beda dengan kota di dunia pada umumnya. Warga Uwentira juga bersekolah, kuliah, bekerja, dan juga mengasuh anaknya.
__ADS_1
Yang membedakan hanya teknologi mereka amat hebat dan maju, serta umur mereka yang abadi. Kota di Indonesia, kota metropolitan yang amat mirip dengan New York, Los Angeles dan juga Itali di beberapa sudut kotanya. Ornamen indah terukir dengan hiasan emas dan permata yang mendominasi. Perpaduan yang menawan dalam satu kota dengan pemandangan alam bak surga.
Kota yang amat tenang dan penduduknya semua kaya raya. Tak ada kata miskin dalam kamus hidup mereka.
***
Indri ikut mengantar Bima hingga sampai di sebuah ruangan serba putih, dan langkah Indri akhirnya terhenti. Ia tak di perbolehkan masuk.
Setelah Bima masuk, semua prosedur sudah di jalankan. Ibu, Ayah dan Indri di haruskan pulang saat itu juga. Mereka tak boleh berada di tempat sampai waktu yang di tentukan.
Dengan langkah gontai akhirnya Indri pulang mengikuti kedua mertuanya. Ibu tak henti-hentinya memberi semangat pada Indri untuk terus berpikir positif jika Bima akan segera sembuh, walaupun ia harus menunggu hingga bertahun lamanya. Indri...
***
Sri menatap Dosen ganteng yang setia menemaninya beberapa hari ini. Entah perasaan geer atau apa, tapi Sri merasa jika perhatian Pak Dosen ganteng ini memang berbeda.
Sri tak menampik lelaki tampan dan rupawan di hadapannya ini amat berkharisma. Tinggi sekitar 180 cm, tubuh atletis dan rahang yang tegas, juga sorot mata yang terbilang tajam.
Tak membutuhkan waktu yang lama untuk Sri jatuh cinta.
Sudah seminggu lamanya Sri di rawat di rumah sakit. Dan selama itu, Nenek hanya beberapa kali mampir menjenguk. Sri selalu punya alasan untuk membuat neneknya menunggu di rumah seperti pesan Pak Dosen, karena Sri masuk ke kamar yang di jaga suster khusus,permintaan Pak Dosen tentunya.
Sri merasa bak putri raja yang semua di layani oleh suster Rumah Sakit.
Entah apa motif di balik kebaikan hati Sang Dosen, Sri tak pernah berpikiran buruk sedikitpun, itu karena ia merasa kebaikan Sang Dosen benar-benar tulus. Ia dapat merasakannya dari sorot matanya dan ucapannya yang lemah lembut.
Di satu sisi, dalam lubuk hati Sri mulai tumbuh benih-benih asmara yang kini sudah mulai berakar. Sri selalu menikmati waktu saat Sang Dosen datang menjenguk. Terkadang ia menyuapi Sri walaupun keadaan Sri sudah membaik dan siap pulang kerumah.
"Saya sudah boleh pulang, Pak. Kata dokter kondisi saya sudah membaik ," ucap Sri saat Pak Dosen gantengnya datang.
"Nanti saja, tunggu beberapa hari lagi, biar kondisimu benar-benar fit," sahutnya.
__ADS_1
"Tapi, Pak. Semakin lama biaya pasti semakin mahal, saya ....,"
"Ckckck, jangan mikirin biaya. Pikirin kesehatanmu dulu, soal biaya itu mudah. Aku yang bayar, sebab karena ingin masuk ke kelasku tepat waktu, kamu harus mengalami kejadian buruk seperti itu,"
"Saya amat berterima kasih, Pak. Atas kebaikan Bapak," Sri menunduk saat mata nya bersitatap dengan bola mata indah milik Pak Dosen.
"Itu sudah tanggung jawabku, anggap saja kita impas," lelaki itu mengulurkan tangannya dan membelai rambut hitam Sri yang dipotong pendek.
Degh!
Apa ini? wajah Sri seketika merona merah mendapat perlakuan manis dan romantis dari Sang Dosen. Seumur hidup ia belum pernah merasakan hal seperti ini. Rasa hangat yang menjalari dan getar-getar asmara yang menghinggapi jantung juga hati.
***
Dengan langkah tergesa Rena keluar dari rumahnya, menuju motor yang terparkir di teras rumah. Ia segera mengendarai motor matic merah kesayangannya, melesat membelah padatnya jalan raya yang penuh sesak kendaraan.
Rena amat khawatir dengan keadaan Sri yang kata mamanya sudah seminggu berada di rumah sakit sebab penyakit yang di deritanya kambuh saat ia berada di kampus.
Setelah sampai di prakiraan rumah sakit, Rena memarkir motor merah nya dan ia bergegas menuju ruangan tempat Sri, sahabatnya di rawat.
Rena bergegas ke ruangan Sri yang sudah ia ketahui dari Mama. Ia berjalan bergegas, sesekali matanya melirik ke tempat lain dan terkadang membuat kakinya tersandung. Beruntung tak sampai terjatuh dan membuatnya cedera.
Napas Rena tersengal saat ia akhirnya menemukan ruangan di mana Sri di rawat. Rena menyentuh hatinya yang tiba-tiba terasa sakit dan perih. Ada keraguan menelisik hatinya saat tangan mulusnya menyentuh gagang pintu dan ingin membukanya, serasa ada aura yang membuatnya enggan untuk mendekat.
Rena sempat mundur beberapa langkah saat keraguan kian menyergapnya.
Namun, rasa kangennya pada Sri mengalahkan semua rasa.
Klek!
Krietttt!
Rena menekan gagang pintu dan membukanya perlahan. Wajahnya menyembul di balik pintu. Ia bermaksud memberikan surprise kepada Sri. Rena tertegun saat ia melihat punggung lelaki membelakanginya sedang bercengkrama dengan Sri. Punggung itu ...
__ADS_1