
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_41
# by: R.D. Lestari.
"Silva?"
Netra Indri membulat sempurna. Wanita yang dulu pernah menculiknya kini hadir di hadapannya. Dengan tatapan nyalang, ia melirik Indri yang saat itu terdiam menatapnya.
"Kamu datang juga, Bima?"
"Ya, aku rasa tak ada gunanya menyimpan dendam. Benarkan, Sayang?" Bima menatap Indri dengan senyum yang terkembang. Ia ingin menunjukkan pada semua orang betapa ia amat mencintai istrinya itu.
Indri mengangguk pelan. Silva melirik sinis ke arah Indri. Menunjukkan ketidak sukaan pada rivalnya itu.
"Hai, Sayang. Kamu di sini rupanya?" seorang lelaki jangkung dengan brewok yang lumayan tebal menghampiri Silvia, ia menatap Wanita berpostur ramping itu dengan mesra.
"Hai, Sayang. Iya, aku menemui teman lamaku ini," Silva bergelayut manja di tangan lelaki bermata sipit itu.
"Oh, salam kenal. Aku Pierre, tunangan Silva," ia sedikit membungkukkan badannya dan tersenyum manis kepada Indri dan Bima.
Indri dan Bima juga menyambut dengan senyuman ramah, kecuali Silva. Gadis itu menatap tajam ke arah Indri. Seolah sakit hatinya belum terobati.
"Ayo, kita temui tamu-tamu yang lain," Silva berbalik dan menarik tangan Pierre menjauhi kedua pasangan suami istri yang sedang di mabuk cinta. Hatinya menggelegak. Seolah tak rela akan kebahagiaan mereka.
***
Sepeninggal Silva, Indri bisa menikmati pesta dengan lebih leluasa. Melihat beberapa orang berpasangan menari diiringi musik romantis, di bawah lampu berwarna-warni. Ada beberapa yang terbang rendah sambil tertawa gembira, ada juga yang menikmati makanan dan bercengkrama.
"Sayang, mau menari?" Bima mengulurkan tangannya.
Indri mengangguk dan menggapai tangan Bima dengan cinta. Ia di bawa menuju lantai dansa dan menari berdansa sambil menikmati musik. Aneh, karena mungkin di dunianya dengan adat istiadat yang berbeda, tak pernah berdansa. Indri merasa berada di luar negeri, di mana ia bisa menari dengan latar belakang gedung tinggi dengan terang benderang lampu berwarna-warni.
__ADS_1
Indri sangat menikmati lantunan musik yang amat indah dan menyejukkan hati. Malam semakin larut, udara dingin semakin menyengat hingga ke tulang, tapi anehnya Indri tak merasa kedinginan. Tubuh berotot Bima menjadi penghangat dan penenang baginya.
Sedang asyik berdansa, tiba-tiba ...
Dor!!!
Brukkkk!
Bima menyentuh dadanya dan menatap tangannya yang berlumuran darah. Mulut Indri ternganga. Seolah tak percaya dan tak berdaya saat tubuh kekar Bima terjatuh ke lantai dengan dada yang mengeluarkan darah segar bewarna merah kehitaman.
"Kak Bima!"
Indri luruh ke lantai, tubuh nya melemas tanpa tenaga. Terguguk di depan tubuh suaminya yang meringis kesakitan.
Semua orang menatap penuh takut. Mengerumuni Bima yang terus memegangi dadanya sembari menahan sakit.
"Akhhh," cuma itu yang bisa Bima ucapkan. Dadanya terasa amat sesak, hingga susah berucap dan bernapas.
"Minggir-- minggir," diantara kerumunan suara seseorang terdengar menggelegar dan menyibak kerumunan.
Deren, lelaki bertubuh tinggi dengan tubuh atletis itu menatap nanar tubuh Bima yang lemah tak bertenaga kini terkapar di lantai, di samping wanita yang dicintainya. Wanita itu tersedu meratapi keadaan suaminya.
"Bima!"
"Kenapa, Bima!" Deren menatap Indri khawatir.
"A--aku, tak tau! tubuh Bima tiba-tiba terluka,"
"Ayo kita bawa Bima pergi dari sini, ia kemungkinan tertembak peluru emas,"
" Pengawal ! tolong bawa orang ini!"
__ADS_1
Drap ! drap ! drap!
Suara hentakan kaki membahana memecah keheningan. Beberapa orang berbadan tinggi dan tegap bergegas mendekati Bima dan mengangkat tubuh lemah Bima.
Indri dengan berderai airmata mengikuti dari belakang. Beruntung, Deren selalu menemani dan selalu memberi semangat.
Mereka melewati ruangan serba putih. Deru langkah bersahutan mengejar waktu untuk menyelamatkan Bima yang di ujung kematian.
Mati? Apakah makhluk abadi bisa mati? bukankah mereka bisa menyembuhkan diri sendiri?
Brakkk!
Pintu ruangan di tutup dan Indri berdiri mematung di depan pintu. Ia luruh ke lantai dengan bulir bening yang tak juga berhenti berjatuhan. Dadanya sesak melihat orang yang dicintainya kini menderita.
Krietttt!
Pintu terbuka perlahan, Indri mengangkat wajahnya. Ia berusaha bangkit walau dengan tubuh gemetar.
Deren dengan sigap meraih tubuh Indri saat tubuh lemahnya hampir saja limbung dan terjatuh.
"Ba--bagaimana Bima?"
"Tenang, In. Ayo, kita duduk dulu," Deren mengiring Indri ke sebuah sofa tak jauh dari ruangan putih.
"Bima ...,"
***
__ADS_1
Bagaimana keadaan Bima, ya?