SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part _45


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#part_45


#by: R.D.Lestari.


Ku tarik kepala Deren hingga lelaki berparas lumayan tampan itu tersentak karenanya. Masih di dalam cengkeraman tanganku, ku hempasan begitu saja kepala nya hingga ia limbung dan jatuh ke lantai dengan kepala yang membentur lantai marmer mengkilat dan kepalanya mengeluarkan darah segar.



"Akhhh, sialan kau!"


"Ha-ha-ha, kenapa? kau salah mencintai wanita, hah? kau yang memulai, Der. Kebaikanmu kuanggap impas karena aku tak akan membunuhmu!"


"Tapi, tidak dengan adikmu ini ! Dia harus membayar mahal karena perbuatannya ! sudah dua kali ia membuatku dan Bima di ujung kematian! tidak akan kubiarkan ketiga kalinya!s suaraku menggema membuat siapa pun yang mendengar merinding ketakutan.



"Kau tak akan bisa membunuhku ! Aku makhluk abadi!" Silva mencemoohku. Darahku berdesir deras karenanya.



Sialan! wanita ini benar-benar menguji kesabaranku.



"Apa kau bisa tetap hidup walau sudah kupisahkan seluruh tubuhmu? hah? mau?"


"Ja--jangan, In. Jangan lakukan itu! itu akan membuatku cacat seumur hidup!" Silva memohon ampunanku.


Ku lirik Deren yang bersiap mengarahkan pistol peraknya ke arahku. Ia kira aku tak tau akal bulus dua kakak beradik ini yang ingin mengecoh perhatianku.


Dor!



Bersimbah darah ... darah muncrat bersamaan dengan bunyi ledakan senjata. Nanar ketika mataku bersitatap dengan Deren. Tentu saja itu bukan darahku, melainkan darah Silva, adiknya.


Silva menggelinjang hebat. Darahnya mengucur deras dari dadanya.


Brukkk!


Ku hempaskan begitu saja Silva ke lantai. Darah berceceran di lantai , matanya melotot dan tangannya menyentuh dadanya. Ia ingin berucap tapi sepertinya suaranya tercekat. Aku menatapnya tajam dan bibirku tersenyum sinis melihat Silva di ujung kematian.


"Silva!"


Dengan merangkak Deren mendekati Silva yang tubuhnya masih bergetar hebat. Ia menunduk dan menangis di sebelah tubuh adiknya.


"Silva!"


Aku tak membuang waktu. Ku lihat senjata Deren tergeletak di lantai tak jauh dariku. Secepat kilat kuambil senjata itu dan mengarahkannya tepat di kepala Deren.


"In ... apa yang kau ...,"



"Kau salah menilai kebaikanku, Der! tadinya aku ingin mengampuni kejahatanmu, tapi ternyata aku begitu naif. Kau memang berhati iblis, Der! sekarang kau bisa hidup abadi di neraka!"


__ADS_1


"Maafkan aku, In. Aku janji ...,"



Dor!



Brakkk!



Deren terjatuh dengan darah mengucur deras dari kepalanya. Peluru perak menembus kepalanya dalam hitungan detik. Aku mengulas senyum puas.



Setelah kupastikan kedua baj\*ngan itu tak bernyawa, kutinggalkan mereka tergeletak begitu saja. Pikiranku masih tertuju pada suamiku, Bima.



Dengan tertatih ku langkahkan kaki menuju tempat di mana Bima terbaring. Suamiku kini terbaring kaku tanpa pergerakan. Dadanya yang sejak tadi naik turun kini diam.



Rembulan di atas kepala perlahan hilang di selimuti mendung. Aku menatap pilu kekasih hatiku. Apakah sudah habis waktuku?



"Bi ....Bima ... suamiku ...," jemari lentikku bergetar menyentuh setiap senti tubuh suamiku . Kepalaku menempel di dadanya dan ...



Tak ada tanda kehidupan di sana. Airmataku tumpah. Percuma ... percuma perjuanganku selama ini jika Bima tiada. Aku tak rela kehilangannya . Seandainya ... seandainya saja aku menolak untuk pergi dan mencegahnya... pasti ...




"Bima ....,"


***


Pov Bima.


Dimana aku? mengapa semua gelap? dan hanya ada secercah cahaya terang di ujung jalan?


"Indri ... Sayang ... kamu di mana?" panggilku.



Sunyi, senyap. Tak ada sedikitpun suara. Dingin. Hanya dingin yang mencekam.



Aku terpaksa mengikuti jalan datar lurus yang ada di hadapanku. Perlahan mulai kulangkahkan kaki menuju cahaya terang di ujung jalan. Mungkin ini adalah portal. Dan Indri ada di dalam sana.



Entah kenapa, hatiku enggan untuk meneruskan langkah. Berat rasanya. Tapi, cahaya itu seolah memanggil agar aku segera mendekat.


__ADS_1


"Bima ....!"



Lirih kudengar suara seseorang memanggil namaku. Suara itu ... suara Indri, istriku . Ku hentikan langkahku dan membalikkan badan. Suara itu ku yakin berasal dari belakang tubuhku.


"Indri ....!"


Lagi-lagi sunyi dan senyap. Namun, anehnya di ujung jalan di belakangku muncul percikan cahaya yang sama seperti cahaya yang tadi ingin ku dekati.


Aku semakin bingung. Harus melangkah maju ataukah mundur.



"Bima ....!"



Suara itu ... lagi- lagi terdengar walau hanya sayup-sayup dari sinar itu. Aku semakin yakin untuk masuk ke sana. Mungkinkah itu memang suara Indri? istriku?



"Bima!"



Entah sejak kapan datangnya, kulihat Silva dan Deren berdiri di sampingku. Mereka menatapku sedih.



"Deren? Silva ? apa yang kalian lakukan di sini?"



"Bima, maafkan segala kesalahanku ... aku sangat mencintaimu, Bima," Silva mendekati ku. Jari jemarinya yang dingin menyentuh wajahku. Untuk pertama kalinya kulihat ketulusan di wajah Silva.



"Silva, aku memaafkanmu, kamu sebenarnya punya hati yang baik, tapi maafkan aku tak bisa mencintaimu secara tulus," sahutku .



"Ya, aku tau. Cintamu hanya untuk Indri seorang. Sekarang aku permisi dulu, aku ingin pergi bersama Deren. Kamu jaga diri ya, kamu pasti bisa. Dan kamu kuat,"


Silva berbalik dan menggandenga tangan Deren . Mereka melayangkan senyum padaku.


"Kalian mau kemana? aku ikut !" ucapku seraya melangkah mengejar mereka..



Silva menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.



"Belum saatnya, Bim . Waktumu belum sampai, pergilah. Jangan ikuti kami. Kita punya jalan yang berbeda. Pulanglah , Bim,"



"Maksudmu?"


__ADS_1


\*\*\*


__ADS_2