SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_72


__ADS_3

Bismillah


         SUAMI DARI ALAM LAIN


#Part_72


#by: R.D.Lestari.


   


"Aku akan membuatmu memcintaiku, Rena. Kesendirian akan membuat mu merindukan kehadiranku,"


Wuzzzhh!


Setelah berucap angin kencang kembali datang, dan pintu terbuka dengan pelan. Rena kembali merapikan rambutnya yang berantakan.


Rena tersenyum simpul. Makhluk aneh itu memang sudah mengobrak-abrik hatinya.


Rena kemudian melangkahkan kaki menuju kelasnya, ia kembali tertegun saat melihat Sri dan Pak Dosen masih berbincang. Kalau Dosen itu memang James, lantas, siapa yang menciumnya tadi?


    Seketika kepala Rena pusing dengan pertanyaan-pertanyaan aneh yang mengelilinginya.


   Apa semudah itu James mempermainkan hati wanita? mengolok-olok perasaannya. Membuat ia melambung, tapi dalam sekejap menghempaskannya hingga ke dasar penderitaan?


   Rena mengusap pipinya yang basah ketika ia melihat Sri melambaikan tangan padanya. Sekuat tenaga ia berusaha menahan hati dan tersenyum melihat sahabatnya dan melangkah mendekati Sri yang melihatnya dengan raut wajah sumringah.


    Tap-tap-tap!


    Rena menatap ke arah Pak Dosen yang kala itu menyuap bakso ke dalam mulutnya. Memperhatikan lelaki itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Nyaris tak ada bedanya dengan James. Hanya warna rambut lelaki ini lebih pirang, selebihnya plek ketiplek sama seperti James.


    "Rena?" Sri menarik tangan Rena kasar hingga Rena tersentak. Sedikit tergagap Rena melempar pandangannya pada Sri.


    "I--iya, Sri,"


    "Duduk sini, Ren. Loe kenapa liatin Pak Dosen ?" Sri mulai menaruh curiga.


   "Rena? kamu mau makan apa?" Pak Dosen melempar senyum padanya, Rena menjadi kikuk.


   "Ah, ga usah, Pak. Saya sudah kenyang," sahut Rena. Ia berbohong, sebenarnya perutnya amat lapar, tapi ia tak ingin mengganggu acara makan Pak Dosen dan juga Sri.


   "Aku duluan masuk kelas, Sri," Rena mengulas senyum getir dan berbalik. Melangkah cepat meninggalkan Sri dan Pak Dosen yang masih di terpa kebingungan karena sikap Rena yang aneh.


***


    Netra Rena menangkap pemandangan yang membuat hatinya panas akibat terbakar cemburu. Ia melihat Sri naik ke mobil mewah Pak Dosen.


    Entah bisikan dari mana, Rena berniat mengikuti mobil Pak Dosen. Mobil melaju cukup kencang. Rena memacu motornya dengan kecepatan tinggi untuk bisa mengikuti mobil mewah Pak Dosen.


    Mobil akhirnya menepi di sebuah butik mewah. Sri terlihat bahagia ketika turun dari mobil yang diikuti Pak Dosen. Sesekali Sri melempar senyum menggoda untuk Dosennya itu.

__ADS_1


   Rena menatap dengan hati teriris. Hatinya terbakar cemburu. Menatap kemesraan itu dari jauh. James memang sudah meremuk redamkan hati Rena. Ternyata James sama seperti papanya, lelaki pendusta.


   Rena memutuskan memutar motornya. Mungkin benar, James hanya balas dendam karena Rena sudah menyakiti hatinya saat itu. Ia menyeka wajahnya kasar. Membuang paksa sisa cinta yang baru saja mekar. Memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Rena hilang arah. Separuh jiwanya hilang.


   Ckittt!


   Rena memarkirkan motornya di pinggir taman yang sepi pengunjung. Ia memilih duduk sendiri di bangku taman, menundukkan wajahnya. Menangis sepuasnya hingga matanya sembab.


   Tap-tap-tap!


   "Rena ... ngapain di sini?"


   Rena mendongakkan wajahnya, menatap seseorang yang tadi menyebut namanya.


   "Al--di?"


   Ternyata lelaki itu Aldi, teman satu kampusnya. Aldi yang kemarin sempat menjenguk Sri di rumah sakit.


   "Kok nangis, Rena?"


   "Ah, ga. Mataku kelilipan, Di," sanggah Rena seraya mengucek matanya.


   "Ren, jangan di kucek. Nanti iritasi," tangan Aldi mencegah tangan Rena yang asik mengucek.


    "Ren, jangan nangis lagi, ya. Loe bisa curhat sama gue, atau ga, kita bisa minum secangkir kopi di cafe seberang?" Aldi menunjuk cafe yang di maksud.


   Rena mengangguk setuju. Ia kemudian bangkit dan melangkah beriringan dengan Aldi menuju cafe sederhana di pinggir jalan.


  "Terserah, Di. Yang penting enak," Rena tersenyum simpul.


   "Oke,"


   "Pelayan! cappucino 2," serunya.


   "Ren, loe kalau lagi sedih gini, tambah cantik loh , Ren,"


   "Ah, gombal loe, Di," Rena melotot.


   "Ya, namanya jomblo, usaha dikit, Ren. Galak amat," Aldi terkekeh. Rena yang semula jutek menahan senyum karena ucapan Aldi.


    "Loe ngapain di taman tadi, Al? kok bisa kebetulan ketemu? atau jangan-jangan...," Rena mulai berasumsi.


    "Tuhan yang mempertemukan kita, Ren. Atau kita memang berjodoh?" ucapnya sok puitis.


    "Awww!" cubitan melayang di tubuh Aldi.


   "Rena... loe nakal sekali!" Aldi meringis kesakitan.


  "Makanya jangan gombal !" Rena mencebik sembari menahan senyum melihat Aldi yang kesakitan.

__ADS_1


   "Gue ga masalah loe cubit tiap hari demi melihat senyum loe kembali,"


   Rena terdiam mendengar ucapan Aldi. Rasa hangat menjalari hatinya.


    "Gadis cantik dan baik sepertimu tak pantas bersedih, tersenyumlah, Rena,"


    Rena akhirnya menyunggingkan senyumnya. Mereka tertawa bersama.  Tanpa Rena sadari, di seberang jalan berdiri lelaki berbadan tegap dan berdada bidang. Menggeram penuh amarah dengan tangan yang terkepal .


    Duarrrr!


   Langit tiba-tiba mendung dan awan hitam gelap seketika menyelimuti langit. Petir menggelegar bersahut-sahutan. Hujan turun dengan deras. Angin kencang hampir saja menumbangkan pohon-pohon tua.


   "Al...!" Rena tanpa sadar mencengkeram tangan Aldi saat ia mendengar suara petir yang menggelegar. Suara yang membuatnya trauma seumur hidup.


    "Kamu boleh mencengkeram tangan gue, Ren. Jangan cemas, ada gue di sini," Aldi menepuk-nepuk tangan Rena.


   Rena mengangguk pelan. Sekilas saat ia memandang ke arah luar, netranya menangkap sosok lelaki di seberang jalan dengan pakaian serba hitam. Kepalanya tertutup topi dari hoodienya. Berdiri di bawah guyuran hujan.


   Walau wajahnya tertutup, Rena amat yakin lelaki yang kini menatapnya dari jauh di bawah guyuran air hujan dan juga kilat yang menyambar-nyambar itu adalah James.


   "Ja-- James?"


   "Siapa, James, Ren? pacarmu?"


  Rena menggeleng pelan. "Hanya kepingan masa lalu, Di," sahutnya.


   "Jadi, loe jomblo?" Aldi menatap penuh harap. Kembali, Rena mengangguk pasti.


   Tiba-tiba hujan berhenti dan langit menjadi terang. Rena menarik tangannya.


   "Di, gue duluan, ya,"


   Rena bangkit dan berjalan tergesa meninggalkan Aldi yang saat itu kebingungan dengan sikap Rena. Gadis itu berlari secepatnya menuju sosok yang tadi berdiri di ujung jalan.


   Kriettt!


   Rena membuka pintu cafe. Pandangannya menyisir seluruh sudut. Tak ada. Lelaki itu hilang. Rena melangkah gontai. Berjalan menuju motornya di seberang jalan.


   "Rena ....!"


  Tinnn ! tinnnn!


   Brakkkk!


  


  


   

__ADS_1


   


__ADS_2