SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_62


__ADS_3

Bismillah


       


           SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_62


#by:R.D.Lestari.


     "Ibu, Ayah,Anima!"


     Suara Indri menggema membuat semua orang di rumah berlari serentak menuju kamarnya. Indri yang panik hanya bisa menangis histeris melihat suaminya yang tak berhenti mengeluarkan darah dari mulutnya.


    "Bima!" Ibu berlari menuju ke arah Bima, ia tampak sangat khawatir dengan keadaan Bima.


   "Bu ... Bima kenapa...," isak Indri memegangi lengan suaminya.


   Bima hampir saja jatuh, tubuh nya limbung. Beruntung saat itu ada Ayah yang dengan sigap memapah Bima menuju kamarnya.


    "Indri, kamu jangan memikirkan Bima. Ini konsekuensi untuknya karena darah keabadian di berikan pada orang yang sama,"


   "I--Ibu, apa Kak Bima bisa sembuh? atau dia akan ... mati?" bulir bening semakin deras mengalir di pelupuk matanya.


   "Hmmmh, nanti Ibu jelaskan secara detail. Saat ini Ibu dan Ayah akan merawat Bima dulu. Kamu akan di rawat dengan Anima. Jangan berpikiran buruk dan trus berdoalah untuk Bima, suamimu," Ibu membelai  kepala Indri sayang. Ia berbalik dan bergegas melangkah pergi meninggalkan Indri yang saat itu juga dalam keadaan lemah sehabis melahirkan.


    Indri terisak. Ibu muda itu tertunduk lesu memikirkan nasib Bima, suaminya. Sedetikpun tak mampu berpikiran baik, melihat Bima dalam keadaan seperti tadi. Ia meremas rambutnya frustasi.


   "Aaa!" teriaknya nyaring. Matanya yang semula coklat berubah merah semeriah darah. Ia marah. Ia kecewa.


Gara-gara menolongnya, Bima sekarang harus menanggung akibat nya.


     Drap-drap-drap!


     "Kak Indri!"


     Suara derap kaki Anima terdengar menggema di ruangan kamar Indri. Gadis muda itu berlari mendekati Indri seraya menggendong bayi mungil Indri yang saat itu sedang tertidur.


    "Kak ... sadar! Kakak ga boleh lemah seperti ini, kasihan bayimu, Kak,"


    Indri menatap Anima dengan sendu. Mata merahnya berubah kembali menjadi hitam seperti biasa.

__ADS_1


   Wajahnya lusuh dan rambutnya acak-acakan, menatap Anima dengan mata sembabnya.


   "Semua gara-gara Kakak, An. Kak Bima harus merasakan sakit dan terluka, Kakaklah penyebabnya," air mata Indri kembali mengalir deras.


   Anima iba melihat kondisi Indri yang begitu memprihatinkan. Ia mendekat dan menyodorkan bayi mungil yang saat itu masih tertidur dengan mengemut jempol tangannya.


Bayi berkulit putih dengan hidung yang mancung dan bibir yang merah.


    "Lihat anakmu ini, Kak. Bayi kecil  yang tak berdosa, apa kamu tega melihatnya terluka? dia butuh kamu, Kak. Butuh ASI dan cinta kasihmu,"


    "Doakan Kak Bima. Aku tau kamu sangat mencintainya. Begitupun dia, sangat mencintaimu, yakinlah dia akan baik-baik saja,"


     Indri mendongakkan wajahnya, menatap mata tulus Anima yang saat ini memandangnya iba.


   Ia mengulurkan tangannya meminta bayi yang kini berada di tangan Anima. Dengan senyum tulus Anima menyerahkan bayi itu dengan sangat hati-hati.


    Indri memandangi wajah bayi yang tertidur tenang dalam gendongannya. Bayi mungil yang amat lucu dan menggemaskan.


    "Maafin Ibu, Nak," lirihnya.


    Bayi itu menggeliat seolah mengerti ucapan ibunya. Mata nya mulai mengerjap. Bola mata bulat berwarna biru itu menatap ibunya sembari tersenyum manis. Hati Indri teriris.


   Indri mendekatkan bayi mungilnya pada dadanya, ia membuka beberapa kancing dan mulai menyusui. Tangan bayi menggapai dan menyentuh dada Indri, matanya merem-melek pertanda amat menikmati menyusu pada ibunya.


   "Ya, terima kasih Adek," Indri menganggukkan kepalanya. Senyum getir terluas di bibir pucatnya.


    Drap-drap-drap!


   Indri dan Anima serentak memalingkan wajahnya saat mendengar suara derap langkah kaki mendekati mereka.


   "Ibu?"


   Ibu berjalan pelan dengan raut wajah yang sulit di artikan. Ia menghela napas sebelum akhirnya bibir merahnya berucap.


   "Bima ....,"


***


   James dan Rena masih terdiam walaupun jarak mereka amat dekat saat ini. James seolah acuh dan tak sepatah katapun ke luar dari bibir tipisnya. Ia masih saja menekuk wajahnya dan sorot mata nya tajam .


   "Ayo, cepat ku antar pulang, aku tak ingin berlama-lama menculikmu,"

__ADS_1


   James menarik pelan tangan Rena dan membawanya bergegas keluar dari kamar. Rena hanya diam dan menuruti langkah James dari belakang. Ia salah tingkah melihat James yang berubah menjadi super dingin. Ia amat sangat menyesal akan ucapannya.


    "Masuk,"


    James membuka pintu mobil merahnya. Mobil mewah dengan desain terbaru yang mengkilat.


   Rena masuk ke mobil dengan wajah yang tertunduk. Sesekali ia melirik je arah James yang masih manyun.


   Wajahnya tertekuk. Rena tak berani mengucap sepatah kata pun. Ia lebih memilih melipat kedua tangannya di dada dan melempar pandangan matanya ke luar jendela mobil. Melihat pemandangan kota indah dengan gedung yang tinggi menjulang , beberapa gedung mempunyai desain menimalis dan moderen. Ada pula gedung-gedung tua nan eksotis dengan ukiran dan patung dewa yang mengundang decak kagum siapa pun yang melihat. Kota yang sekilas memiliki perpaduan kota italia dan juga turki. Sekilas pun tampak seperti negeri seribu satu malam. Susah di ungkapkan saking indahnya.


    Kendaraan yang berlalu lalang pun bukan kendaraan murah. Semua desain terbaru dan harga yang selangit. Gedung pencakar langit dan semua bangunan indah lainnya berwarna kuning keemasan.


   Untuk sejenak Rena melupakan perih di hatinya dan terpaku pada pemandangan kota dengan gedung indah yang memanjakan mata.


   "James ... bagus banget ya, bangunan di sini," tanpa sadar Rena membuka mulutnya dan bertanya pada James yang masih asik mengemudikan mobil merahnya.


    James cuek. Tak ada sahutan darinya, ia tetap fokus pada jalan. Tak sedikitpun menoleh pada Rena. Membuat Rena jadi keki dan malu sendiri.


   Rena mencebik. Ia menarik tubuhnya dan bersandar di kursi mobil. Kembali membuang mukanya menghadap arah jalan.


   James tetap saja diam, sampai akhirnya Rena berulang kali menguap dan tertidur di kursi dengan wajah yang tertekuk ke bawah.


   James melirik ke arah Rena dengan iba. Ia bukannya tega . Namun, ia harus memberi pelajaran pada Rena yang selalu berpikiran buruk padanya. Secinta-cintanya James pada Rena, ia tak ingin Rena kurang ajar dan semena-mena padanya. Basicnya sebagai prajurit membuat jiwa kelelakiannya meronta jika terlalu di injak-injak harga dirinya. Ia ingin melihat Rena jera dan bisa menghargai arti kehadiran nya.


   Melihat Rena yang tertidur dalam keadaan yang seperti itu, marahnya seketika reda. Tangannya bergetar saat ia mengulurkan tangannya hendak membelai rambut Rena dan memperbaiki posisi tidur Rena yang tampak tidak nyaman.


    "Emmhhh," Rena menggeliat saat tangan James hampir saja menyentuh kepala nya.


    Seketika itu pula James langsung menarik kembali tangannya. Dan berpura-pura kembali memfokuskan pandangannya pada jalan.


    "James...," mata Rena terpejam, tapi James sadar jika saat ini Rena mungkin sedang memimpikan dirinya.


   "Huh, kau menyebalkan, James!" James tersentak saat mendengar namanya di panggil oleh Rena. Ia memalingkan wajahnya dan menatap Rena marah. Ternyata gadis itu masih dalam keadaan tertidur.


   "Rena ... Rena, dalam keadaan tertidur pun kamu masih membenciku, apa aku sebegitu buruk di matamu?"


   Dan bening air meluncur pelan di sudut mata James. Bukti betapa pedihnya hati seorang James yang cintanya ternyata bertepuk sebelah tangan.


    "Aku akan pergi, Rena. Untuk selamanya dari hidupmu,"


***

__ADS_1


   


__ADS_2