SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_50


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


# Part_50


#by: R.D.Lestari.


"Indriiii!"


"Huekkkkk .... huekkkk!"


Dok!dok!dok!


Bima menggedor pintu kuat. Semua yang berada di ruangan menatap penuh khawatir.


Krietttttt!


Indri keluar dari kamar mandi dengan wajah yang pucat pasi. Tubuhnya limbung. Beruntung Bima dengan sigap memapahnya sampai ke peraduan. Ia di baringkan dengan segera.


"Kamu kenapa, In?" Bima menatap istrinya penuh khawatir. Indri menjawab pelan,"Entah, Kak, tiba-tiba kepalaku pusing dan mual,"


"Mungkinkah Indri hamil?" kening Ibu mengernyit melihat kondisi menantunya yang tiba-tiba sakit mual dan muntah-muntah.


"Benarkah, Bu?" mata Bima berbinar karena ucapan Ibu. Raut kebahagiaan terpancar di wajah gantengannya.


"Kalau begitu, apa kita bawa ke dokter saja?" sahut Ayah.


"Dokter? di sini ada dokter?" mata Indri terbelalak heran. Bagaimana ceritanya di tempat ini ada dokter? bukankah mereka makhluk abadi yang tak butuh dokter?


"Ha-ha-ha, kau lucu sekali, Nak. Tentu di sini ada dokter. Apa makhluk abadi tak bisa sakit? tentu bisa. Cuma kita susah mat*," jawab Ayah sembari terkekeh.


"Apa kita bisa mat*, Yah?" tanya Indri. Ia begitu penasaran dengan ucapan Ayah barusan.


"Kalau yang berdarah asli seperti kami, itu kemungkinan sulit. Kecuali dengan peluru emas, tapi jika berdarah campuran sepertimu, bisa. Karena bagaimana pun wujud aslimu adalah manusia sempurna pada umumnya,"


"Itulah mengapa kami tetap punya dokter, karena banyak manusia biasa yang tinggal di sini sama sepertimu , ada yang sudah sempurna, ada juga yang masih menjadi manusia seutuhnya. Ia hanya tinggal sebentar dan kembali pulang," jelas Ayah.


"Jadi, bagaimana, Yah? apa Ibu dulu ke dokter juga?" tanya Bima.


__ADS_1


Ibu mendekati Indri dan duduk di pinggir ranjangnya . Ia membelai rambut Indri penuh rasa sayang.


"Kalau makhluk seperti kita, Bima, melahirkan itu mudah dan tak perlu pertolongan siapa pun. Beda halnya dengan Indri,"


"Maksud, Ibu ...,"


"Kehamilannya ini akan banyak menguras tenaga. Apalagi saat lahiran, ia akan sangat kesakitan. Bisa-bisa nyawanya melayang, karena melahirkan makhluk seperti kita," Ibu menatap Bima yang berubah dari raut wajah bahagia menjadi murung.


"Tapi, Bu. Bukannya Indri sudah sempurna menjadi makhluk abadi seperti kita?" Bima seolah tak percaya pada pendengarannya barusan.


"Sesempurna apa, Bima? punya sayap dan bisa berubah tidak akan bisa mengubahnya dari manusia ke makhluk Jin. Kecuali jika ia benar-benar mat* dan melakukan persekutuan dengan kita, itu pun ia akan menjadi budak. Bukan menjadi istrimu,"


"Hakikatnya Indri masih separuh manusia dan ia masih hidup. Kita ini Jin yang punya power super. Bukan Jin kafir sembarangan di hutan terlarang, yang cuma bisa muncul terus hilang,"



"Tapi, Bu. Kenapa kita bisa menyentuh manusia?"



"Karena kita berbeda, Bima. Kita ini Jin yang punya kekuatan super. Susah untuk di jelaskan dengan logika,"



Bima terdiam mendengar ucapan Ayah. Ia memandang sendu wajah istrinya . Saat itu, entah mengapa Indri sudah terlelap. Mungkin saja Indri memang benar-benar lelah dan lemah.


Bima tak menyangka sebegitu susahnya untuk ia dan Indri hidup bahagia tanpa halangan. Apa ini memang rintangan yang harus di hadapi karena mempersatukan dua dunia?


***


Brakkkk!



Ckittttttt!



"Aaaaaa!"


__ADS_1


"Rena !"



Sebuah mobil putih melaju kencang dari arah kanan Rena, mata Rena membesar dan mulutnya ternganga kala mobil itu amat dekat dan hampir saja menabrak dirinya, hingga tiba-tiba ...



Entah sebuah keajaiban ataukah kebetulan, lelaki tampan bermata biru dengan brewok tipis itu datang dan menarik tubuhnya ke pinggir.



Sungguh di luar logika. Dalam sepersekian detik ia bisa menyelamatkan nyawa Rena dan orang dalam mobil secara bersamaan walau mobil sempat menabrak pohon pelan, tapi tak ada yang cedera dan mobil bisa kembali berjalan.


Napas Rena tersengal. Ia menyentuh dadanya yang berdetak amat kencang seperti genderang perang yang d tabuh bertalu-talu.


Semua orang menatap takjub akan kecepatan lelaki berparas tampan itu yang dengan sigap menyelamatkan Rena dari kecelakan.


Begitupun Sri yang saat itu melihat langsung kejadian yang membuat siapa pun menganga.


Saat itu Rena masih berada dalam pelukan lelaki misterius itu saat Sri berjalan mendekat. Tanpa banyak berucap lelaki itu melepaskan pelukannya dan berjalan pergi meninggalkan Rena yang masih shock di pinggir jalan.


" Ren, loe ga kenapa-kenapa? laki-laki yang tadi nolong kamu, mana? siapa namanya?" cecar Sri.


" Iya, gua ga kenapa-kenapa, Sri. Laki-laki tadi ...," Rena celingukan mencari lelaki tampan yang sudah dua kali menolongnya hari ini.


" Kok, ga ada ya Sri?" Rena menatap Sri heran. Sri yang di tatap malah ngangkat bahu, bingung.


"Cepet banget hilangnya, demit kali," Sri terkekeh.


" Mana ada demit siang bolong, Sri !" sanggahnya.


"Ganteng ya, Ren. Perawakannya kok mirip-mirip ...,"


Sri berpikir keras. Begitu juga Rena. Mereka sama-sama mengernyitkan dahi hingga ...


" Bima !" mereka serentak berucap.



"Lha?"

__ADS_1


***


__ADS_2