
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_29
#by: R.D. Lestari.
Brakkk!
"Ibu!"
"Tolong! tolong!"
Indri luruh memeluk tubuh ibunya yang seketika ambruk begitu melihat kehadirannya yang tiba-tiba. Dengan suara yang tercekat karena takut dan sedih yang teramat sangat, Indri berusaha meminta tolong.
Drap-drap-drap!
Beberapa langkah kaki terdengar serentak berirama datang mendekat. Mereka tak lain adalah Ayah, Nenek dan juga pamannya. Mereka pun tak kalah terkejutnya melihat Indri yang sedang memeluk ibunya erat.
Tanpa banyak bertanya mereka segera menolong Ibu dan membawanya ke dalam kamar. Indri mengekor dari belakang.
"Kamu tunggu di ruang tamu dulu, In. Ayah perlu bicara banyak padamu," Indri menghentikan langkahnya begitu mendapat perintah dari Ayah. Ia berbalik dan berjalan dengan gontai ke ruang tamu. Duduk dengan segala rasa sedih, sesal dan bersalah.
Sret-sret-sret!
Indri mendongak begitu mendengar suara sendal yang terseret, rupanya Ayah yang datang mendekat. Ia menatap wajah Indri seolah tak percaya, tak lama Paman pun menyusul dari belakang.
" Nak, ini benar dirimu? kemana saja kamu, Nak?" Ayah luruh di depan Indri sembari memeluk anaknya, ia terisak hingga terdengar raungan menyebut nama Indri berkali-kali.
"Indri ... maafin Indri, Yah. Indri belum bisa cerita untuk sekarang," Indri pun ikut terisak dan memilih bungkam perihal kepergiannya.
"In, kamu pergi hampir tiga bulan. Selama itu kami sudah lelah mencarimu kemana-mana. Tak ada sedikitpun jejak yang mengarah padamu, kamu seperti di telan bumi. Apa benar kamu sekarang tinggal di dunia gaib seperti cerita neneknya Sri?" Paman memberondong Indri dengan pertanyaan yang selama ini bersarang di kepala nya.
Indri terdiam. Ia bingung menjawab pertanyaan pamannya.
"Sudah, Man. Kamu jangan banyak bertanya. Kasihan Indri, ia mungkin shock sama seperti kita sekarang. Yang penting sekarang Indri sudah pulang,"
"In, kamu istirahat dulu sana. Kamu pasti lelah," Ayah membelai punggung Indri pelan. Ia mengangguk dan melangkah menuju kamarnya.
__ADS_1
***
"Nak ... Ini beneran kamu, Nak. Ya Allah ... terima kasih, Indri ku akhirnya kembali,"
Kurasakan tetesan membasahi pipiku, mataku mulai mengerjap. Apakah aku mimpi bertemu Ibu?
Ibu? ini benar Ibu? samar kulihat wanita paruh baya itu sedang tertunduk menangis menatap lekat wajahku. Tangannya yang mulai keriput tak henti menciumi punggung tanganku.
Ya Allah, Ibu. Maafkan aku yang egois ini. Rela meninggalkan Ibu demi cinta butaku pada seorang lelaki. Ibu ... maafkanlah anakmu ini.
"Ibu ...," perlahan kuusap wajah Ibu. Mata tua itu seketika menatap wajahku, mata yang berbinar penuh kebahagiaan.
"Nak, Ya Allah, Ibu tak menyangka bisa bertemu denganmu lagi, Nak. Ibu kira kamu sudah mat\*," kembali Ibu menciumi punggung tangan dan juga keningku.
"Maafin Indri Bu, Indri di culik," akhirnya aku mulai buka suara prihal kepergianku yang mendadak. Tak kuasa berbohong pada ibu, wanita yang selalu mencurahkan kasih sayang kepadaku.
"Di culik? di culik siapa, Nak?"
"Ya Allah, Nak. Pantas kamu hilang tanpa jejak. Dan bagaimana kamu bisa bebas dan bisa kembali pulang, Nak?" Ibu membelai rambutku.
"Semua berkat Kak Bima, Bu. Dia lah yang menolongku, suamiku,"
"Su--suami? kamu sudah menikah? bagaimana kamu bisa menikah tanpa ada Ibu dan Ayah yang merestuimu?" mata Ibu terbelalak ketika ku sebut Bima sebagai suamiku.
"Maafin Indri, Bu. Semua terjadi begitu cepat," aku menunduk melihat respon Ibu yang terlihat kecewa karena ulahku.
"Kalau memang kamu sudah menikah, mana suamimu! kenapa ia tak turut datang menemui Ibu dan Ayah di sini. Kamu jangan berbohong Indri!" Ibu semakin emosi.
__ADS_1
"Dia tak bisa datang, Ibu. Ada sesuatu hal yang membuatnya susah untuk bertemu dengan Ibu,"
"Berarti dia bukan pria baik karena ia tak mau bertemu dengan orang tuamu dan meminta restu,"
"Tidak, Bu. Kak Bima itu lelaki yang amat baik juga ...,"
"Kalau begitu bawa dia bertemu dengan Ibu besok, kalau tidak kamu akan Ibu jodohkan," Ibu langsung beranjak meninggalkan ku yang masih tertunduk lesu. Bagaimana caranya agar aku dapat menjelaskan siapa jati diri suamiku padanya?
***
"Aku rasa Indri memang dalam pengaruh makhluk gaib, Yah. Sama seperti yang di katakan neneknya Sri tempo hari,"
Ku dengar jelas suara Ibu yang sedang mengobrol dengan Ayah di ruang tamu.
"Jadi, apa yang harus kita perbuat, Bu?"
"Kita harus segera menikahkan Indri dengan manusia biasa, jika tidak kita akan kehilangan Indri selamanya!"
"Apa, Bu? menikah? Indri ga mau, Bu!"
"Kamu harus mau, Indri!"
Brakkkk!
__ADS_1
"Indri!"