SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_42


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#Part_42


#by: R.D.Lestari.


"Bima ... dalam keadaan koma," Deren menatap iba wajah Indri yang berubah pias karena ucapannya.


"Bagaimana bisa? bukankah Bima makhluk abadi? A--aku ...,"


Indri tak mampu meneruskan ucapannya. Ia shock. Baru saja merasakan indahnya restu orang tua, kini ia kembali berduka. Apa yang harus ia sampaikan? dan bagaimana cara memulangkan orang tuanya tanpa Bima?


"Ya, salah satu kelemahan kami adalah peluru emas yang menancap di dada, aku mohon maaf karena undanganku, Bima harus mengalami peristiwa tragis seperti ini," sesalnya.


"Aku ingin melihat Bima, Deren," pinta Indri.


"Saat ini Bima amat lemah. Kamu harus kuat dan sabar,"


Deren menatap manik biru Indri, matanya menelusuri lekak-lekuk tubuh Indri yang ramping dalam balutan dress panjang berwarna hitam pekat dengan aksesoris berlian berkilau di telinga nya. Sayapnya mengatup menambah kesan malaikat di wajah cantiknya.


Dalam hati Deren mengagumi kecantikan Indri yang amat sempurna. Wajar jika Bima jatuh cinta pada gadis polos nan manja sepertinya.


Indri berbalik tanpa memperdulikan Deren dan berjalan tergesa melihat keadaan Bima. Netranya membesar melihat sosok yang amat di dicintainya itu sedang tergolek lemah tak berdaya.


"Bima ... Bim...,"


Tak ada jawaban sedikitpun dari Bima. Ia terdiam, membisu. Hanya terdengar deru napasnya yang semakin tak beraturan.


Walau sudah di balut, dada Bima tetap basah, pertanda darahnya masih terus keluar. Seketika Indri mengingat cara Bima dulu menyelamatkan dirinya. Ya, Bima harus meminum darahnya. Bukankah Indri sudah menjadi makhluk abadi juga?


Indri tersenyum senang. Harapan pasti ada. Mengapa terpuruk jika belum mencobanya?


Prok! prok! prok!


Indri segera menoleh saat mendengar suara tepukan membahana memenuhi ruangan tempat Bima terbaring lemah.


"Selamat datang di neraka, Indri,"

__ADS_1


"Sil--Silva? jadi kau ...,"


"Em, em, em. Bukan aku pelakunya," Silva memainkan jari telunjuk nya kekanan dan ke kiri.


"Tapi ...,"


"Aku ,"


Indri melongo menatap Deren yang dengan bangga berjalan mendekat padanya sembari mengucap kata 'aku'.


"Pengawal bawa dia!" seru Deren seraya menyunggingkan senyum jahatnya. Matanya menatap tajam bagai elang ke arah Indri.


"Deren! kenapa kau ...,"


"Hustttt! jangan banyak bicara ! atau kau mau Bima tertembak untuk kedua kalinya?" Deren mendekati Indri yang gemetar menahan amarah. Jari jemari nakalnya menelusuri setiap inci wajah Indri.


"Lepaskan aku!" Indri mengeram marah. Indri tak dapat melawan saat tangan nya di cengkeraman paksa oleh pengawal Deren yang berbadan tegap bak raksasa.


"Em,em, em, gadis manis jangan banyak bicara! turuti perintah kami atau kau mau nyawa suamimu yang ganteng ini jadi taruhan?" Silva berjalan mendekati Bima dan mengelus tubuh Bima mesra.


"Jangan sentuh suamiku! wanita jal*ng!"


"Jangan sentuh gadisku! lebih baik kau cuci otak mantanmu itu! ingat, darah penawar aku letakkan di lemari kaca," titah Deren.


Silva beringsut mundur. Membuang tatapan matanya ke arah lain. Nampak jelas dendam yang membara dari mata birunya.



"Ikuti aku," seru Deren pada pengawalnya. Indri di seret paksa mengekor dari belakang.


Mulut Indri di bekap. Mereka menyusuri lorong yang cukup panjang. Deren berbelok ke kanan dan tangannya memainkan handel pintu.


Klak!


Krettttt!


Pintu perlahan terbuka. Deren masuk di sertai Indri dan pengawalnya.


Bukkk!

__ADS_1


Tubuh ramping Indri di lempar begitu saja di atas ranjang yang berukir naga berhias emas berkilau.


"Mulai hari ini, kau tinggal di tempat ini!"


"Jangan Deren ... aku mohon...," isak Indri. Hatinya kalut memikirkan nasib Bima.


"Kau jangan banyak membantah! jika kau menurut, aku pastikan Bima akan selamat. Semua tergantung padamu!"


"Deren ! mengapa kamu berubah seperti ini?" ucap Indri saat Deren berbalik hendak meninggalkannya.


Ia menghela napas dalam. Deren membalikkan badannya dan menatap tajam.ke arah Indri.



"Karena aku mencintaimu, In. Malam itu saat aku membantumu, sinar mata dan wajahmu selalu terngiang dalam mimpiku,"



"Dan Silva tak henti memikirkan Bima. Bima cinta pertamanya, itulah sebabnya kami membuat sandiwara pertunangan untuk menjebakmu dan Bima. Dan sekarang kalian masuk perangkap. Ha-ha-ha," tawa Deren menggema memenuhi ruangan.


"Jahat kamu Der!" Indri bangkit dan memukul dada Deren yang bidang.


Lelaki bertubuh tinggi itu mencengkram tangan Indri dan mendorong tubuh Indri ke arah ranjang , hingga wanita itu terjungkal kebelakang dan terjatuh di atas kasur empuknya.



"Jangan macam-macam ! aku bisa lebih jahat dari ini!" Deren tersenyum sinis dan berjalan meninggalkan Indri yang menangis sesenggukan di atas kasur.



Brakkkk!



Pintu di tutup keras.



Indri, gadis itu terus menangis memikirkan nasib cintanya yang berubah hanya dalam waktu semalam. Mampukah Indri keluar dan bebas bersama Bima? atau cinta Indri dan Bima harus berakhir secara terpaksa?

__ADS_1


__ADS_2