
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_126
#by:R.D.Lestari.
Pov Rena.
Silau. Mataku mengerjap beberapa kali saat retinaku menangkap sinar yang amat menyilaukan. Kepalaku pusing dan seluruh tubuh teras nyeri juga sakit.
Aku sebenarnya teramat lelah. Susah untuk membuka mata. Kelopak mata seakan di lem dan menempel.
Namun, suara orang-orang berbincang riuh di telingaku. Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?
Perlahan ku buka mata dan membiasakan diri dengan cahaya. Ruangan serba putih. Tempat apa ini?
"Rena! alhamdulillah kamu sudah sadar!"
Aku sedikit menggeliat saat tubuhku yang terasa amat sakit tertindih oleh tubuh lain yang membuatku sesak dan sulit bernapas.
Bulir air menetes di pipiku. Wanita ini menangis?
Ia kemudian mengangkat tubuhnya dan kini wajahnya terlihat jelas di depan mataku. Ia menatapku khawatir dan tangisan yang tak henti mengalir.
"Mama ...," lirihku.
Wanita yang mendekati paruh baya itu mengangguk dan menciumi pipiku dengan sayang.
Setelah itu bergantian Reno , Indri dan juga Bima, serta seorang gadis yang sepertinya aku pernah melihatnya, tapi entah di mana.
"Indri? kamu ada di sini?" tanyaku heran. Sangat susah untuk bertemu dengan sahabatku ini. Semenjak ia tinggal di Uwentira, kami sangat sulit berjumpa walau hanya bertukar kabar.
"Iya, Ren. Kebetulan aku sedang berkunjung ke rumah Ibu. Begitu mendengar kabarmu, aku langsung kemari," Indri menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Memang aku kenapa, In?"
"Kamu di tusuk orang, Ren," aku menoleh saat suara seseorang menyahuti dari samping.
"Sri? kamu juga ada di sini?" Bibirku bergetar saat melihat sahabat karibku ini ternyata juga turut hadir di ruangan serba putih yang kurasa adalah rumah sakit. Selang infus masih menempel di pergelangan tanganku dan tubuhku di penuhi perban.
"Tentu saja, Sri selalu ada menemanimu, Rena. Sri jugalah yang menjagamu saat kau berada dalam fase kritis," terang Mama seraya menyentuh bahu Sri.
"Kenapa kamu bisa tertusuk dan berada di permukiman kumuh itu, Rena?" selidik Sri. Matanya memancarkan tanya yang sulit aq jawab.
__ADS_1
Akupun merasa heran. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? kenapa bisa banyak sekali tusukan di tubuhku?
"Entahlah, aku tak ingat apa pun," desahku.
Sekilas netraku menangkap senyum tipis dari gadis misterius berjilbab mocca di balik tubuh Indri. Entah apa arti dari senyuman tipisnya itu. Apa dia senang saat aku berada dalam keadaan sakit seperti ini? siapa dia? kenapa dia ada di antara kami?
"Rena ... apa kau tak ingat sedikitpun ?" cecar Sri seolah tak percaya.
"Rena tak berbohong, Sri ... ia memang tak mengingat kejadian itu," Indri menatap Sri seraya mengedikkan bahu.
"Tapi, In ...,"
Krekkk!
"Assalamualaikum,"
Sri terpaksa menghentikan ucapannya saat suara serak lelaki mengucap salam ketika memasuki kamarku.
Aku terkesiap melihat lelaki berparas tampan yang menyerupai pria bule bermata biru sebiru samudra. Rambutnya hitam dengan tubuh tinggi juga ideal. Benar-benar tipeku.
"Rena ....!"
Pemuda gagah itu begitu berbinar melihatku. Dari pancaran matanya menyiratkan kerinduan yang teramat dalam.
Darahku berdesir begitu netra kami saling terpaut. Tubuhku serasa memanas pun wajahku yang kurasa memerah.
"Kau siapa?" lirihku.
Kontan saja ucapanku membuat binar kebahagiaan diwajahnya berubah jadi kesedihan. Ia mundur dan membuat jarak antara kami semakin lebar.
Mendadak ruangan menjadi hening seiring kulihat mata Si Pemuda yang berembun.
"Ada apa denganmu, Ren? aku tau sangat bersalah padamu, tapi haruskah aku menanggung malu karena kau seolah lupa padaku?"
Pemuda tampan itu mengulirkan bening jernih yang berkilau di sudut matanya. Ia terisak.
Aku bingung. Hatiku ikut sakit saat melihat air mata jatuh di pelupuk matanya. Rasanya aku tak rela melihat kesedihan dalam dirinya.
Namun, aku tak berbohong. Aku benar-benar tak tau dia siapa!utkan pengguna
"Rena ... dia James! calon tunanganmu, pacarmu!" sentak Sri.
'Pacar? yang benar saja! aku punya pacar setampan ini? jangankan untuk kenyataan, bermimpipun aku tak berani,' batinku.
Lelaki yang bernama James itu luruh di lantai. Meremas ranbutnya dan kudengar sesenggukan. Aku ingin mendekatinya dan menarik tubuhnya, tapi untuk bergeserpun tubuhku ngilu dan sakit. Bekas luka itu membuatku bagai lumpuh.
__ADS_1
"Kak James! tahan dirimu!" lagi-lagi gadis berhijab mocca itu melirik sembari tersenyum sinis padaku. Ia hanya sekilas menatapku, setelah itu dengan gaya pongahnya menarik lelaki tampan yang kini bersimpuh di lantai di lantai untuk berdiri dan membawanya keluar dari ruangan.
Hening. Tak ada yang mengucap sepatah katapun. Hanya tatapan penuh tanda tanya tertuju padaku. Salah apa aku?
"Rena benar-benar lupa dengan James! aku bisa membaca pikirannya," Indri mendenatiku dan membelai pucuk kepalaku.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Ren? aku tak melihat benturan di kepalamu, tapi kenapa hanya James yang tak ada dalam memori otakmu?" Indri masih saja berucap seolah tak percaya dengan keadaanku.
"Apa Rena mengalami trauma pada otaknya, In?" Sri pun mendekati ranjangku.
"Entahlah, Sri. Yang kutahu Rena sekarang masih dalam keadaan sakit. Besok-besok kita tanya dia lagi,"
Indri pun pamit. Sedangkan Sri masih di sini menungguku dan berbincang hangat. Kami melupakan kejadian tadi yang sempat membuat batinku sedikit terguncang. Sebenarnya siapa lelaki tampan itu? mengapa ia sepertinya amat shock mendengar ucapanku?
***
Indri menatap Anima nyalang, begitupun Bima. Sangat kentara jika adiknya itu punya rasa yang lebih pada mantan prajuritnya itu.
"Anima, ayo kita pulang!" ajak Bima saat melihat Anima masih saja duduk di sebelah James dengan tatapan penuh perhatian.
"Aku ingin di sini sebentar, Kak. Nanti aku pulang bersama Kak James," tolak Anima.
"An, Kakak minta kamu ikut Kakak sekarang juga," suara Bima semakin meninggi. Ia kesal melihat adiknya yang mencari kesempatan saat James berada dalam masalah bersama Rena.
"Tapi, Kak ...,"
"Tak apa, Anima. Kamu pulanglah. Aku masih ingin menunggu di sini," timpal James. Ia tak ingin terjadi pertengkaran di antara dua Kakak beradik ini.
"Anima ...!"
"Sudah, biarkan Anima untuk sejenak bersama James, kasihan mungkin dia berniat untuk menghiburnya," Indri membelai dada suaminya. Berharap agar Bima bisa menurunkan sedikit egonya.
Anima tersenyum puas mendengar pembelaan Indri, sedangkan Bima, kakaknya melengos dan melenggang pergi bersama Indri, istrinya.
Kembali Anima berusaha menenangkan James yang masih sangat terpuruk dengan keadaan Rena.
Bagaimana ia harus menjalani hari tanpa Rena? bagaimana ia bisa membuat ingatan Rena kembali?
"Sudah, jangan di pikirin. Rena pasti bisa sembuh. Asal ...,"
"Asal apa, An? kau membuatku bertanya-tanya," sungut James.
"Asal kau menikah denganku," ucapan Anima sontak membuat James ternganga.
"Menikah?"
__ADS_1
***