
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_127
#by: R.D.Lestari.
"Sudah, jangan di pikirin. Rena pasti bisa sembuh. Asal ...,"
"Asal apa, An? kau membuatku bertanya-tanya," sungut James.
"Asal kau menikah denganku," ucapan Anima sontak membuat James ternganga.
"Menikah?"
"Ya, karena aku yang membuang semua ingatan Rena, dan hanya aku yang bisa mengembalikannya," jawab Anima santai tanpa beban.
"Apa?"
Brakkk!
James menggebrak kursi tunggu dan menatap Anima garang. Giginya bergemeretuk menahan geram.
"Apa maksud dari perbuatanmu, Anima? salah apa Rena padamu, hah?"
James yang tak habis pikir dengan ulah Anima langsung berdiri dan menjauhinya. Gadis itu terhenyak dengan sikap James yang berubah.
"Dia tak salah. Yang salah itu kamu, Kak!" Anima menunjuk ke arah James.
"Aku?" kali ini James menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, karena pesonamu yang mengalihkan duniaku. Aku jatuh cinta padamu, Kak James," secara gamblang Anima berucap tanpa beban.
"Tapi, aku punya Rena. Hatiku hanya untuk Rena," sentak James. Ia mengusap wajahnya frustasi.
"Rena itu manusia, dan aku sebangsa denganmu! dia tak bisa menerimamu apa adanya, sedangkan aku bisa!" Anima tak mau kalah.
"Aku tak mungkin mendua, An. Aku mencintainya walau kami berbeda dunia," desah James sembari melempar pandangan pada koridor rumah sakit.
"Percuma .... ingatan Rena ada dalam genggamanku, sampai kapanpun dia tak akan mengingatmu, James!"
__ADS_1
"Hanya aku yang bisa mengembalikan ingatannya," Anima bangkit dan melangkah mendekati James. Saat ia hendak menyentuh tangan James, lelaki itu dengan sigap menepis tangan putih mulusnya itu.
"Akkhh! apa maunya kau, Anima? kenapa kau haris jadi duri diantara kami? padahal aku kira kau orang baik," James beringsut menjauh. Sikap James ini semakin membuat Anima bersemangat untuk mendapatkannya. Ia yakin suatu hari nanti James akan mencintai dirinya seperti ia mencintai Rena.
"Kau dan Rena berbeda, Anima!" sanggah James saat membaca pikiran Anima.
"Apa bedanya? Rena dan aku sama-sama pencuri! bedanya dia mencuri barang dan aku mencuri hatimu," Anima menyungging senyum penuh kemenangan.
"Itu dulu! Rena sudah banyak berubah,"sesal James.
"Sudahlah, Kak James. Untuk apa terlalu banyak berpikir? bukankah mudah saja? selama Rena tak tau dan semua orang bisa menjaga rahasia, semua akan berjalan lancar,"
"Aku dan Rena bisa bahagia asal kau bisa adil terhadap kami berdua,"
"Maksud kamu apa, An? aku sungguh tak mengerti," James semakin gusar. Anima penuh teka-teki.
"Aku mau jadi jika Rena menjadi maduku. Aku berjanji tak akan banyak menuntut. Kau bisa bersama Rena di sini dan saat di Uwentira kau milikku, dan aku akan mengembalikan ingatan Rena asal kita bisa bersatu,"
"Ingat! hanya aku yang bisa mengembalikan ingatan Rena, dan jika Rena tak bisa menikah denganmu, gadis itu akan jadi gil*. Sekarang tentukan pilihanmu, James!"
Tanpa Aroma sadari, sejak tadi Sri mendengar percakapan mereka dari balik pintu ruangan Rena. Suara mereka terdengar jelas.
Sri menggeram marah. Darahnya seakan mendidih mendengar pernyataan Anima. Jika bukan karena Anima adalah ipar dari sahabatnya, Indri, mungkin saat ini gadis itu sudah tersungkur dengan luka lebam di wajah dan tercabik-cabik.
Kriettt!
Pintu terbuka, membuat James dan Anima serentak menatap ke arah Sri dengan kikuk.
"Tega sekali kau, Anima. Aku tak mengira kau bermain kotor demi memuluskan keinginanmu hingga membuat orang lain menderita," sesak, dada Sri terasa sesak. Ia memikirkan Rena, sahabatnya yang akan menjadi gila jika tak menikah dengan James, dan bila James mendua, Rena pun akan terluka.
"Cinta butuh pengorbanan, bukan?" jawab Anima dengan nada mengejek.
"Dan Rena tak akan menderita jika kau, Sri, tak buka suara! ini akan menjadi rahasiaku, kau, James, Indri juga Bima,"
"Namun, jika kau berani buka suara, berarti kau ingin sahabatmu hancur lebih dalam," ancam Anima.
"Huffft, terserah! yang penting sahabatku bisa kembali sehat. Aku tak ingin Rena menderita. Ia pantas bahagia," Sri menatap James penuh arti.
"Lakukan apa mau gadis itu, James. Aku tak ingin Rena jadi gil* karena ulah kalian, dan aku berjanji akan menjaga rahasia ini sampai mat*,"
Sembari mengucurkan bulir bening, James akhirnya mengangguk dan berjanji akan menikah dengan Anima setelah ia memberikan ingatan Rena kembali.
__ADS_1
Anima melangkah dengan riang masuk ke dalam ruangan Rena. Kebetulan gadis itu sedang tertidur karena masih lelah. Tangan Anima menempel di pucuk kepalanya. Sembari memejamkan mata ia kerahkan energi yang ada dan menstransfer kembali ingatan Rena yang ia curi.
Rena sempat bergerak, tapi ia tak bangun. Walau lelah, Anima senang karena ia akan bersanding dengan James di dunianya. Tak masalah jadi yang kedua, asal ia bisa bersama dengan lelaki yang ia cinta.
***
"Apa kau sudah gila, Anima? James itu cintanya dengan Rena, bukan denganmu!" mata Bima menyorot tajam dan memerah saat Anima mengutarakan maksudnya untuk menikah dengan James. Lelaki itu hanya terdiam tak ikut bicara. Ia tertekan dan frustasi dengan keadaannya saat ini.
"Tapi, James sudah berjanji padaku, Kak. Persetan dengan cinta. Perasaan itu akan datang seiring berjalannya waktu. Aku yakin James akan mencintaiku," jawabnya dengan jumawa.
"Kau, James! kenapa kau mau mengikuti keinginan Anima, adikku? kau masih bisa menolak, James. Kau berhak memilih," seru Bima iba melihat James yang tampak pasrah.
"Aku tak punya pilihan, Pak. Aku hanya ingin Rena bahagia," kawan James lesu.
"Biarkan James bahagia bersama Rena, An. Mereka saling mencinta," timpal Indri.
Rena mendengus kesal. "Kalian tak mengerti perasaanku! lagian, selama kalian bisa menutup rahasia ini rapat-rapat, Rena tak akan terluka dan aku tak akan pernah menemuinya," janji Anima.
"Terserah kau saja! ingat! mengambil kebahagiaan orang lain tak akan membuat hidupmu bahagia," sentak Bima marah. Lelaki matang itu berbalik dan meninggalkan Anima, James dan Indri di ruang tamu.
Suasana mendadak hening. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing.
James ... lelaki tampan itu masih memikirkan Rena. Sedangkan Anima menatap dengan raut penuh kemarahan.
Indri pun merasa sesak memikirkan nasib Rena. Ia akhirnya pasrah dan berlalu mengikuti Bima menuju kamar untuk beristirahat, sedangkan Anima masih terus mengomel tak tentu arah.
"Aku pamit pulang dulu," ucap James seraya bangkit dan melangkah menjauhi Anima.
"Ingat janjimu, Kak. Jangan mencoba ingkar atau aku bisa melakukan hal yang lebih gila lagi," ancamnya.
James hanya mengangguk pelan dan melangkah gontai meninggalkan Anima yang tersenyum penuh kemenangan.
***
Sri terhenyak saat melihat Rena berulang kali mengerjapkan matanya. Sahabatnya itu menatapnya dengan linglung.
"Mana James?"
Kata-kata yang baru saja keluar dari bibir pucat Rena membuat Sri tersentak. Ingatan Rena sudah pulih?
****
__ADS_1
To be continued