
Bismillah
"SUAMI DARI ALAM LAIN"
#part_46
#by: R.D.Lestari.
"Sayang ....," kurasa airmataku ini tak akan pernah kering. Ku peluk tubuh kaku itu tanpa henti. Berharap ada ke ajaiban yang akan datang. Aku luruh dengan bersimbah bulir bening yang sulit di bandung.
"Bangun ! bangunlah, Sayang !" berulang kali ku goyang tubuh itu, berharap ia segera bangun, tapi nihil. Ia tetap terdiam membisu.
Pandanganku mengarah ke atas langit, bulan kembali menampakkan pesonanya. Kabut mendung berangsur lenyap menyisakan bulan penuh dengan sinar yang berpendar indah.
Ku seka bulir bening yang masih menyisa di pipi, aku yakin akan adanya keajaiban. Jika memang sudah habis waktunya, aku ingin ikut pergi bersamanya. Biarlah cinta kami kekal di surga.
Di bawah pendar cahaya bulan berwarna kuning keemasan, ku angkat tangan kiriku tinggi-tinggi, di samping suamiku yang tertidur abadi, ku sayat pergelangan tanganku dengan kuku tajamku .
Tes! tes! tes!
Tetesan darah mulai mengalir. Sakit dan perih tak lagi kurasa, terkalahkan dengan perihnya hatiku yang rindu pada kekasih sejatiku.
Tetesan darah itu memenuhi bibir Bima, suamiku. Sedikit ku buka mulutnya agar darahku bisa masuk lebih banyak.
Nihil, Bima tak jua bergerak. Aku pasrah. Semua sudah kulakukan untuknya... aku menyerah, mungkin inilah perjuangan terakhir kami.
Aku luruh. Darah terus mengalir deras dari pergelangan tanganku. Mereka bilang aku makhluk abadi, tapi mengapa darah itu tak jua berhenti? apa karena aku menyerah dan juga berharap mat* bersama dengan kekasihku? atau aku belum sesempurna itu menjadi makhluk abadi? kenapa aku masih merasakan sakit?
Aku luruh. Kepalaku pusing. Kini tubuhku terbaring lemah di lantai dingin. Sering in hatiku saat ini. Sunyi dan juga sepi. Aku lelah, tubuhku terasa lemah. Aku berharap jika nanti membuka mata, ini hanya mimpi dan aku bisa bersamamu lagi, Bimaku. Perlahan ku pejamkan mata dan gelap kurasa.
__ADS_1
***
Deren dan Silva melambai sebelum akhirnya mereka benar-benar masuk ke dalam cahaya di ujung jalan. Dalam sekejap sinar itu mengecil dan semakin hilang, menyisakan kegelapan.
Aku memilih mundur dan berjalan perlahan menuju sinar di belakang ku. Semua tanya tentu saja bermain di kepalaku, tapi aku berusaha mengikuti kata hatiku. Dan kurasa ini jalan yang paling benar untuk kembali dan bertemu istri tercintaku, Indri.
Berulangkali kudengar suara lirih memanggil namaku dari cahaya itu. Cahaya yang semula kecil kini membesar dan membentuk pusaran.
Tanpa ragu kulangkahkan kaki dan masuk ke dalam cahaya yang penuh misteri. Silau, cahaya itu amat menyilaukan mata, aku sempat menyipitkan mata dan ...
Kurasakan sakit dan pegal di seluruh tubuhku. Seperti tidur berabad-abad lamanya.
Ku rentangkan kedua tanganku dan mulai mengerjapkan mataku.
"Akh,"
Ting!
Ku gerakkan kakiku dan turun dari tempat yang seperti ranjang besi ini. Kakiku menjejak di lantai marmer dan tiba-tiba ...
Duk!
Aku terjatuh dan menyandung sesuatu. Mataku membelalak kala ku tahu benda apa yang tadi menyandungku. Mulutku menganga saat melihat seonggok tubuh tak berdaya berbaring membelakangiku. Wajahnya tertutup rambut panjang dan aku seperti amat hapal pemilik tubuh langsing itu.
Setengah merangkak kudekati tubuh tak berdaya itu. Menyentuh tubuh yang masih hangat dan membalikkan tubuh ramping itu.
"Indri! Sayang!" netraku membesar saat kulihat wajah yang amat sangat ku kenal itu memudar dengan tangan yang penuh darah.
Beruntung, setelah kuteliti ternyata luka di tangan nya sudah menutup sempurna . Itu berarti saat ini Indri hanya pingsan.
Ku angkat tubuh lemah itu. Sayapnya pun sepertinya sudah kembali masuk ke dalam tubuhnya. Saat tubuhnya lemah seperti ini, sayap akan kembali masuk.
__ADS_1
Kulihat guratan kesedihan di wajah istri tercintaku . Entah apa yang kami lalui, tapi begitu kulihat di sekitar banyak darah dan tubuh yang tak bergerak, aku yakin telah terjadi pertumpahan darah di sini.
Ku hentikan langkahku saat netraku menangkap dua sosok yang terbujur kaku tak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Sosok yang tadi sempat berbincang kepadaku dan melambai ke arahku.
Mereka... Deren dan Silva!
Kenapa mereka bisa?
Ku dekati mereka seraya menggendong Indri dalam dekapanku . Ku perhatikan dengan seksama. Dada Silva bersimbah darah dengan mata melotot menahan sakit. Sedangkan Deren kepalanya mengucurkan darah segar berwarna merah kehitaman. Mereka tewas mengenaskan. Kenapa bisa? apa mereka tertembak peluru emas? benar-benar membingungkan.
Plak! plak! plak!
Sayapku mengepak pelan, membawa istriku terbang rendah dan kemudian melesat secepat kilat menembus awan dan langit luas terbentang. Melewati jajaran pepohonan tinggi menjulang dan bukit hijau serta danau yang jernih sejernih cintaku.
Dalam dekapanku , kurasakan hembusan hangat dan terkadang lirihan dari bibir Indri, kekasihku . Aku bersyukur masih ada tanda kehidupan di sana.
Sesekali ku kecup keningnya mesra. Berharap ia segera bangun dan menatapku dengan mata nya yang bersinar.
Sayapku terus mengepak hingga kami tiba di rumahku. Begitu ku ketuk , pintu terbuka lebar dan semua orang di dalam rumah menatapku dengan tatapan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Mereka ..