
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#Part_115
#by: R.D.Lestari.
"Kalian malam ini istirahat di sini, 'kan?" tanya Indri kepada dua sahabatnya saat sudah selesai makan dan bersantai di ruang keluarga.
"Aku mau, In, tapi bagaimana dengan nenekku?" Sri terlihat galau menjawab ajakan Indri untuk menginap di rumahnya.
"Tenang, Sri. James pasti punya solusinya. Seperti dulu, kamu lupa kan kejadian waktu aku di culik James? itu semua ulah James," Rena menyunggingkan senyumnya pada Sri.
"Hilang ingatan? diculik?" tanya Sri heran.
"Ya, dan aku sempat beberapa jam yang setara dua hari di dunia kita, itu kata James,"
"Mereka bisa menghilangkan ingatan kita dan membawa kita kembali ke masa lalu dan masa depan, hebat kan mereka?"
"Mereka? mereka siapa, Ren?" Sri semakin dilanda kebingungan.
"Ya warga Uwentira, lah, Sri," mata Rena memutar jengah. Sri pintar tapi terlalu lemot baginya.
"Dan jangan lupa, Ren, ga bisa ada rahasia karena mereka bisa baca pikiran kita," Indri tersenyum simpul menyela ucapan Rena.
"Ehem, dan mereka amat tampan juga kaya," lagi, Rena menimpali dengan semangat.
Mereka bertiga akhirnya tergelak bersama. Merasa amat beruntung dicintai pemuda-pemuda tampan berparas sempurna yang sebagian dari mereka tak tau wajah asli para prianya jika dalam wujud asli sesungguhnya.
Hanya Indri yang pernah melihat dan bisa menerima Bima, suaminya. Dalam keadaan apa pun, tampan maupun dalam wujudnya yang mengerikan.
Dibalik gelak tawa Indri tersimpan kekalutan yang teramat sangat. Ia takut akhirnya kedua temannya tau wujud asli calon suami mereka, dan tak sanggup melihatnya, hingga pergi.
Apalagi jika mereka sudah menikah, dan memilih berselingkuh dengan orang lain, maka menjadi gil* itu sudah pasti. Karena itulah konsekuensi dari pernikahan beda dunia yang dijalani.
Indri sempat membuang napasnya berkali-kali. Sedikit sesak karena ia punya beban tersendiri untuk kedua sahabatnya itu.
Ia ingin bercerita, tapi kalau ia cerita, pasti kebahagiaan yang baru saja tercipta akan sirna. Sedangkan ia amat bahagia melihat binar di mata kedua gadis yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Rena melihat gelagat Indri yang berbeda ingin sekali melontarkan beberapa pertanyaan, tapi, ia urungkan.
Gio akhirnya pamit sebelum waktu tengah malam tiba. Indri pun mengajak kedua temannya untuk istirahat di kamar yang khusus tamu, atau kenalan yang singgah dan ingin beristirahat.
__ADS_1
Kamar luas dan juga indah, dengan selimut dan kasur serta seprei yang lembut juga halus.
Rena dan Sri menatap kagum kamar di rumah Indri. Temannya itu kini jadi luar biasa. Cantik, putih, dan juga langsing.
Bima telah merubah Indri dan memberi kehidupan yang lebih dari kata layak untuk istrinya.
Setelah berpamitan, Indri melangkah gontai menuju kamarnya, di mana Bima dan Stella sudah beristirahat.
Kriettt!
Wajah Indri menyembul dari balik pintu dan menyisir sekitar. Ternyata Bima, suaminya belum tertidur dan masih duduk sembari membaca buku.
"Hai, Sayang. Teman-temanmu sudah tidur?" Bima merentangkan tangannya menyambut kedatangan Indri.
Ibu muda itu mempercepat langkahnya dan berangsur masuk dalam pelukan suaminya.
Ia bersandar di dada bidang yang selalu membuatnya nyaman selama ini.
"Isi pikiranmu rumit sekali, Sayang. Coba katakan apa yang kamu pikirkan, aku sukar membacanya saat ini," jemari Bima menari di pucuk kepala Indri.
"Hmmh," Indri menghela napas.
"Ya, kamu benar, Sayang. Banyak sekali yang kupikirkan saat ini," Indri meraih tangan Bima dan mengecupnya pelan.
Bima terdiam. Pikirannya menerawang jauh. Apa yang diucapkan istrinya tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Benar kata Indri, apa mereka bisa bertahan jika melihat wujud asli kedua pemuda tampan itu?
Mata merah, semerah darah dengan tanduk di kepala mereka? serta guratan-guratan biru yang mencuat di antara wajah tampan yang mereka banggakan?
"Sayang?"
"Oh, ya, Sayang. Kamu benar. Aku sedang berpikir bagaimana solusi untuk mereka," sahut Bima.
"Apa kita jujur saja?"
"Jangan, itu bukan urusan kita. Biar nanti aku yang bicara langsung dengan James," cegah Bima.
"Aku cuma tak mau mereka jadi gila, itu aja. Cukup aku, dan itu yang membuatmu hampir pergi meninggalkanku untuk selamanya," Indri membenamkan wajahnya di dada bidang Bima. Matanya mulai berembun.
Bima merasakan helaan napas Indri dan degup jantungnya yang berdebar kencang. Ia tahu istrinya itu punya hati yang teramat baik hingga ia tak sanggup jika teman-temannya merasakan apa yang ia rasakan dulu. Sebegitu cintanya dan pedulinya Indri pada mereka.
"Sudah, jangan menangis. Semua ini pasti ada solusinya. Lihat aku. Karena cintamu, aku masih ada di sini, menemani dan menjagamu,"
__ADS_1
"Aku yakin, teman-temanmu juga begitu, mereka adalah wanita-wanita hebat dan juga tulus, sama seperti dirimu,"
"Bima ... Sayangku, kamu memang selalu bisa menenangkanku,"
"Sayang, aku akan selalu ada untukmu, kamu jangan khawatir, Sayang,"
Indri dengan manja berbaring di dada Bima. Benar saja, jika berada dalam pelukan Bima, perasaannya menjadi menjadi tenang.
Ia amat berharap kedua temannya bisa bahagia seperti dirinya. Bahagia bersama orang yang dicinta dan juga mencintainya apa adanya.
***
"Ren, kalau misalnya Gio ngelamar aq gimana?" ungkap Sri pelan.
"Ya, ga gimana-gimana, kamu terima lah," Rena mengulum senyum sembari menatap Sri yang sepertinya salah tingkah. Ia berulang kali menghela nafas gusar.
"Tapi... kita ga tinggal di sini, kan, Ren? walaupun di sini sangat indah, aku merasa tak betah. Ingat Nenek terus," Sri menatap langit-langit kamar yang terlukis gambar awan biru dan burung merpati.
"Kalau aku ga, Sri. Sudah ada perjanjian antara aku dan James. Aku pun tak mungkin meninggalkan Reno dan Mama,"
"Sebelum kamu menikah, baiknya kamu tanya sama Gio dulu,"
"Ren? pernah ga kamu merasa ragu. Aku seneng lihat Indri, sepertinya bahagia, tapi, kenapa rasanya Indri menyembunyikan sesuatu dari kita?"
Sri menolehkan pandangannya pada Rena. Keningnya mengernyit, begitu juga Rena.
"Kamu ngerasain hal yang sama juga? aku juga merasa sedari tadi Indri seperti menyimpan sesuatu,"
"Ya, Ren. Apa itu menyangkut Bima?" terka Sri.
"Aku rasa bukan, dia dan Bima baik-baik saja, apa kamu ga perhatiin kalau Bima itu tulus dan benar-benar sayang dengan Indri, pun sebaliknya,"
"Ya, aku setuju. Tapi, kadang-kadang Indri menatap kita bergantian, tatapannya itu sendu dan syarat akan kesedihan. Sebenarnya aku ingin bertanya langsung, tapi takut Indri tersinggung,"
"Apa Indri tau sesuatu tentang James dan Gio?" Rena mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung jari. Sementara Sri mengedikkan bahunya.
"Kau tak tahu, Ren?"
"Memang kamu tahu, Sri?"
"Aku ...,"
****
__ADS_1