SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_87


__ADS_3

Bismillah


SUAMI DARI ALAM LAIN


#part_87


#by: R.D.Lestari.


"Sri, em, kau masih marah denganku?"


Aku menatap Rena, sahabatku yang saat ini berdiri tepat di sampingku. Seketika hatiku ras terbakar ketika melihatnya. Seumur berteman akrab dengannya, aku tak pernah semarah ini padanya.


Hmm, tahan-- tahan, aku tak mungkin menampakkan rasa kesalku padanya. Ini bukan sepenuhnya salah Rena.


"Marah? aku tak pernah marah padamu, Ren," sahutku. Setengah kupaksa bibirku untuk mengulas senyum semanis mungkin.


"Sri, aku tau perasaanmu, aku tak mungkin ...,"


"Ah, sudahlah, Ren. Mungkin aku yang tak tau diri,"


"Maksudmu, Sri,"


"Yah, Pak Dosen hanya menganggap diriku teman. Tak lebih. Jadi, dia bebas untuk dekat dengan siapa pun termasuk dirimu, Ren," mati-matian kutahan airmata yang sudah siap tumpah. Si*lan, hati dan bibirku tak sinkron. Bertolak belakang.


"Sri, aku dan Pak Dosen...,"


Tetttt! tetttt!


Bel berbunyi bertepatan dengan Rena yang sepertinya ingin menjelaskan sesuatu. Mau tak mau Rena harus menghentikan ucapannya.


Drap-drap-drap


Suara derap kaki itu ..., itu pasti Pak Dosen! hmm, tahan-tahan, aku tak boleh klepek-klepek lagi padanya. Stop!


Ayo, Sri. Ayo ... buang perasaan itu. Sudah cukup. Cukup. Aku tak boleh membiarkan dirinya mempermainkan perasaanku lagi.


"Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita mulai pelajaran bla-bla-bla,"


Entah apa yang di ucapkan Pak Dosen, tak satupun ucapannya yang masuk dalam otakku. Benar-benar menyiksa. Untuk menatap wajahnya saja aku sudah jengah. Sudah cukup. Aku tak ingin kembali terluka.


"Sri, apa ada yang ingin di tanyakan?"


Degh!


Apa-apaan ini? aku sama sekali tak menunjuk tangan atau apapun. Sedari tadi aku diam dan hanya menunduk. Memalingkan tatapan dan berusaha keras tak memandang wajahnya.


"Ah, ti--tidak ada, Pak," jawabku sedikit tergagap. Owh, akhirnya aku menatap mata itu. Mata yang amat kurindukan dan ... harus aku lupakan.


"Saya tunggu di ruangan setelah pulang, ada yang mau saya bicarakan. Ini menyangkut tentang beasiswa," Aku termangu mendengar ucapannya. Ke ruangannya? bagaimana aku bisa melupakannya jika ada saja sebab aku dan dia harus dekat? ini memang soal beasiswa atau akal-akalannya saja?

__ADS_1


"Sri? Sri! kamu dengar ucapan saya?" kali ini suara Pak Gio meninggi hingga membuatku tersentak kaget, begitupun teman-temanku hingga tatapan mereka semua tertuju ke arahku. Apa dia marah? cih, seharusnya aku yang marah dengannya? bisa-bisanya dia...,


"Sri!"


"Oh, ya-ya, Pak... Saya dengar,"


"Baik. Saya tunggu nanti siang. Dan anak-anak, kelas kita sudah usai, terima kasih dan jangan lupa kerjakan tugas,"


Tap-tap-tap!


Lelaki tampan itu berjalan maskulin keluar kelas menimbulkan decak kagum di bibir para cewek di kelasku, dan mungkin di kelas lain juga. Ya, pesona Pak Gio memang tak bisa di ragukan.


Siapa yang tak ingin berada dalam dekapan hangatnya? mata birunya yang meneduhkan saat bersitatap, rambut pirangnya yang berkilau jika terkena sinar matahari, hembusan napasnya yang berbau mint, wangi segar tubuhnya yang beraroma parfum paris, prancis. Ah, apa kiranya yang bisa aku benci darinya?


"Sri, ayo ke kantin. Aku ingin melanjutkan cerita tadi," Rena menepuk pundakku pelan.


"Hmmh," aku menghela nafas dalam. Masih sangat kecewa pada dirinya. Apa memang sebenarnya aku cemburu buta?


"Aku ada urusan, Ren. Nanti saja," tolakku halus. Bersamaan dengan itu, aku bangkit dari dudukku dan beranjak pergi meninggalkan Rena yang masih berdiri mematung. "Maaf, Ren. Aku sedang tak ingin di ganggu,"


batinku.


Rasa sedih sebenarnya menyelusup relung hatiku, aku tak pernah menghindari Rena seperti ini. Kuyakin Rena pun bersedih karena ulahku. Maafkan aku, Ren ....


***


Sengaja aku duduk seorang diri di bangku taman kampus. Menikmati semilir angin yang terkadang menerpa rambut pendekku yang melambai indah. Berulang kali kuhela nafas, membuang sesak yang menghimpit sedari beberapa hari yang lalu.


"Ayo, fokus, Sri. Sebentar lagi menuju sarjana. Aku harus kuat. Setelah ini, aku bisa bebas keluar dari kampus ini dan tak akan pernah bertemu dengan Pak Gio lagi," lirihku berusaha menyemangati diri sendiri. Ya, aku harus fokus. Ini bukanlah akhir tapi awal perjuanganku untuk merubah nasib.


"Sri, Rena itu muridku. Mana mungkin aku mencintai seorang murid?"


Kata-kata Pak Dosen ganteng selalu menemani hari-hariku, dan setiap langkahku. Ya, setelah ucapan dia hanya menganggapku seorang teman dan tak mungkin mencintai seorang murid, aku tak ingin membenamkan diriku terlalu dalam memikirkan dirinya.


Dengan langkah gontai aku kembali ke kelas, dan terpaksa melewati ruangan Pak Gio yang berada tak jauh dari taman.


Akh, aku menekan dadaku yang tiba-tiba terasa sakit. Langkahku terhenti saat tak sengaja netraku menangkap sosok Rena yang sedang memasuki ruangan Pak Dosen. Benar dugaanku, Rena dan Pak Dosen punya hubungan khusus. Tak mungkin Rena bisa begitu saja masuk ke ruangannya jika tak ada sesuatu di antara mereka.


Gegas aku berlari menjauhi ruangan Pak Dosen. Jangan tanya gimana remuk redamnya hatiku, tapi aku berjanji tak akan meneteskan airmata setitikpun. Aku akan menahan luka dan perih di hati.


***


Tettt-tettt-tettt!


Bunyi bel pulang. Pertanda aku harus menemui Dosen menyebalkan itu saat ini juga.


"Huffft!" aku menghela nafas dalam dan membuangnya kasar. Seperti di himpit batu berton-ton beratnya.


"Sri, kamu mau keruangan Gio, eh Pak Gio, ya?"

__ADS_1


"Gio? sebegitu dekatnyakah mereka saat ini hingga Rena bisa menyebut namanya saja?" batinku.


"Ya, aku harus ke sana," sahutku tanpa menatap Rena sedikit pun. Melangkah cepat meninggalkan Rena di kelas.


Langkahku terasa berat, semakin mendekat ke ruangannya, semakin terasa kakiku bagai di gantungi bongkahan batu.


Tok-tok-tok!


"Ya, silahkan masuk, Sri," ucap seseorang dari dalam ruangan.


Klek!


Susah payah ku tekan gagang pintu. Gemuruh dalam dadaku tak tertahankan.


Ku tundukkan wajahku saat mataku terpaksa bersitatap dengan mata birunya.


Lelaki itu menatapku tajam dengan sorot wajah yang mencekam, bagiku.


Aku melangkah perlahan mendekati meja kerjanya. Ia masih saja menatapku dengan tatapan seperti ingin memangsa.


Srettt!


Ku geser perlahan kursi di depan mejanya. Masih tertunduk dan jantungku semakin berdebar kencang.


Bught!


Aku duduk perlahan dan mengangkat wajahku takut-takut.


"Sri, mengenai beasiswa, saya akan mengajukan beasiswa untukmu melangkah ke jenjang lebih tinggi lagi, apa kamu berminat?"


Bak tertimpa durian runtuh, tentu saja aku menangguk dengan tawaran Pak Dosen gantengku ini, tapi sejurus kemudian ucapan menyakitkannya kembali terngiang di benakku.


"Terima kasih, Pak. Saya akan belajar lebih giat lagi, dan saya akan menuruti syarat-syaratnya," ucapku.


"Dan tentang kita, saya ...,"


"Maaf, Pak. Saya rasa tidak ada yang perlu di bicarakan tentang kita, saya bukan siapa-siapa, dan juga saya tidak ingin memikirkan tentang hal yang tidak penting. Pendidikan bagi saya lebih penting," entah kekuatan dari mana, aku bisa lancar mengucap kalimat demi kalimat.


Srettt!


Aku menggeser kursi dan beranjak dari meja kerja Pak Gio. Melangkah menuju pintu dan ...


Tap!


Pintu yang hendak ku buka di dorong paksa dengan Pak Gio. Aku tertegun. Tubuh kekarnya berada di belakangku. Bisa kurasakan hangatnya tubuh bagian belakangku karena tubuh kami hampir saja menempel.


Settt!


Pak Gio menarik tubuhku hingga kini posisiku berhadapan dengannya. Tubuhnya yang lebih tinggi dariku membuat mataku kini tertuju pada dada bidangnya yang sangat memukau, aku ...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2