SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_19


__ADS_3

Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#Part_19


#by: R.D. Lestari.


Sirat keraguan terpancar di wajah Indri yang cantik. Ia berada di jurang pilihan, bertahan atau pergi. Tatapan dari bola mata biru web itu air laut itu membawa Indri pada keraguan yang mendalam. Haruskah ia terbuai bujuk rayuan pemuda tampan dari dimensi berbeda ini?


"Indri ...," lagi, pria tampan itu seolah enggan begitu saja pergi melepas cinta yang sejatinya sudah ia genggam. Keyakinan akan sosok wanita di hadapannya ini membunuh prasangka buruk yang mungkin mereka temui di kemudian hari nanti.


"Indri ...," ucapannya kali ini menyadarkan Indri dari lamunan yang panjang. Bola mata hitamnya menatap tajam lelaki di hadapannya.


Untuk sesaat Indri mundur beberapa senti ke belakang. Ia menatap takut pemuda yang masih mengulurkan tangannya itu. Sayapnya yang terbentang kini menutup dengan sempurna.


"Kamu sebenarnya apa, Kak Bima? mengapa kamu punya sayap?" akhirnya kata itu terucap dari bibir mungil Indri.



"A--aku ..., aku tak bisa menjelaskan siapa diriku untuk saat ini, tapi , percayalah In. Aku tak mungkin menyakitimu," bibir Bima bergetar. Ia tak menyangka Indri bisa meragukan dirinya.


"Aku tak ingin ikut denganmu! kau-- kau pasti ingin berbuat buruk padaku!" Indri menolak tegas ajakan Bima.


"Ayolah, In. Aku hanya ingin kamu bahagia," gurat kesedihan muncul di wajah Bima. Hatinya sakit melihat penolakan Indri, wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta.


"Pergi! pergiiii!" hardik Indri. Matanya mulai berkaca-kaca. Saat ini Indri memilih menjauh dari Bima. Ia tak ingin lepas dari keluarganya.


"Baiklah, aku pergi. Maaf aku telah membuatmu tak nyaman," Bima memilih menurun kan tangannya dan berbalik. Ia berjalan pelan menjauhi Indri, pujaan hatinya. Perlahan sayap kokohnya terbentang dan mengepak kencang, ia melesat terbang meninggalkan Indri seorang diri di dalam kamar. Hatinya sakit dan perih.


Brukkk!

__ADS_1


Indri terduduk di pinggir ranjangnya. Bulir bening menganak sungai di pelupuk matanya. Pipinya basah. Ia sesenggukan. Menyesal, ia menyesal menolak ajakan Bima. Dalam lubuk hatinya, ia amat yakin Bima tak mungkin menyakitinya.


"Bima ... aku mencintaimu," lirihnya.


***


"Silva, kau serius ingin menculik manusia itu?" Deren mengernyitkan dahi seolah tak percaya. Adiknya memang sedang terbakar cemburu, tapi ia tak menyangka ia punya ide sejahat itu.



"Ya, beberapa pesuruhku sedang menuju rumahnya. Aku ingin malam ini juga ia di bawa ke gedung terkutuk itu. Hingga mat\* membusuk di sana," bibir Silva tertarik keatas, mengulas senyum jahat khas wanita antagonis pada umumnya.


"Tapi, dia tak punya salah padamu. Hanya karena Bima tak lagi mencintaimu, kau rela melenyapkan nyawa manusia tak berdosa," Deren berusaha menghalangi niat jahat adiknya.


"Dia bersalah! siapa suruh mencuri calon suamiku ," Silva tetep kekeh dengan niatnya.



"Kakak jangan ikut campur! ini urusanku!" mata Silva membelalak marah.


Brakkkk!



Ia membanting pintu dengan keras. Deren menghela napas berkali-kali. Sikap keras adiknya tak mungkin bisa ia cegah.



Pikirannya menerawang. Walaupun ia tak mengenal dan sama sekali belum pernah bertemu dengan Indri, ia tak ingin nyawa gadis itu terancam dan berniat menolong gadis itu, entah bagaimana caranya.


***

__ADS_1


Wuzzzzhhhh!


Terpaan angin kencang berkali-kali melambaikan tirai jendela di kamar Indri hingga kain itu mengibar tak tentu arah.


Indri mengerang pelan. Merenggangkan tangan dan kakinya. Mengucek mata sebentar untuk menghilangkan kantuknya .


Mata mengerjap . Entah berapa lama ia tertidur. Kepala nya masih amat pusing dan matanya pun sembab akibat menangis terlalu lama. Indri memegangi kepalanya sebelum akhirnya ia bangun dari tempat tidurnya. Kaki nya baru saja menyentuh lantai saat sesuatu tiba-tiba menghempas daun jendela dan ...


Brakkkkk!


Indri tersentak kaget. Jantung nya berdegup kencang. Belum hilang keterkejutannya tiba-tiba ...


Klekkk!



Lampu padam seketika dan ruangan menjadi gelap gulita. Hanya seberkas sinar yang memantul dari luar jendela.



Mata Indri terbeliak. Netranya serasa ingin keluar saat itu juga. Berpasang-pasang mata menatap tajam padanya di sekitar tempat tidurnya. Mata merah itu menatap tajam dengan seringaian mengerikan . Tubuh tinggi dengan bulu dan moncong dengan otot-otot kekar seolah siap menerkamnya .


Indri beringsut mundur. Tubuhnya gemetar hebat. Peluhnya mengucur deras.


Rrrrrrrr! Rrrrrrr!



Makhluk-makhluk itu mengeram. Mereka menjulurkan tangan hendak menangkap Indri. Tubuh Indri kaku tak dapat bergerak . Matanya berair menahan ketakutan.


__ADS_1


"Aaaaaaaaaaa!" teriakan terakhir yang terdengar sebelum akhirnya Indri berhasil di tangkap dan di bawa pergi entah kemana.


__ADS_2