SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_124


__ADS_3

Bismillah


         SUAMI DARI ALAM LAIN


#Part_124


#by: R.D.Lestari.


Tubuh itu limbung dan ambruk dengan darah yang mengalir deras dari perut, dada dan pinggang.


Gadis itu menahan nyeri dan pedih di seluruh tubuhnya, tapi ia masih dalam keadaan sadar. Matanya menatap sayu kearah para penjahat yang lari tunggang langgang.


Manik coklat itu berembun dan berkabut. Meneteskan bulir bening di ujung sudut matanya yang seakan lelah dan ingin terpejam.


Ia mulai sesak dan sulit bernapas. Dalam pikirannya hanya bayangan James yang jadi kekuatan.


"Tolong... tolong...," dalam kelemahan dan ketidakberdayaannya, Rena masih berusaha mengeluarkan asa untuk bisa selamat dari kematian yang kini ada di depan mata.


Ia masih berharap bisa berjumpa kembali dengan pujaan hatinya sekedar untuk mengucap selamat tinggal yang terakhir kalinya.


Srek-srek-srek!


"Ya, ampun. Apa yang terjadi padamu, Mbak? tolong-- tolong!"


Suara itu yang terakhir Rena dengar sebelum akhirnya dunia Rena menjadi gelap dan ia tak merasakan apapun dalam dirinya.


***


Drap-drap-drap!


Anima mengikuti langkah kaki James dan Sri yang begitu cepat dan bergegas menelusuri koridor Rumah Sakit di mana Rena berada.


Nampak wajah James yang begitu pias begitupun Sri, sahabatnya. Sesekali Anima juga melirik James yang berulang kali menyeka peluh di wajahnya. Pemuda tampan itu gusar. Pandangan terakhir berupa darah yang menyelimuti tubuh Rena membuat hatinya sakit dan bimbang.


Tap!


Mereka akhirnya berhenti di sebuah ruangan serba putih yang tak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya.


James dan Sri masuk bersamaan sedangkan Anima menunggu di luar. Menatap dari kaca segiempat.


"Rena...," Sri menyentuh tubuh temannya pelan. Tangisnya pecah saat itu juga melihat keadaan Rena yang begitu mengkhawatirkan.


Wajahnya penuh memar dan tubuhnya berselimut perban. Untuk bernafaspun Rena harus menggunakan bantuan. Selang menyatu di tubuh rampingnya. Matanya tertutup dan nafasnya satu-satu.

__ADS_1


James menatap nanar gadis yang amat ia cintai. Ia sangat menyesal sudah membuat Rena terluka dan membiarkannya berada dalam bahaya dan nyawanya terancam.


Rena kini bertarung dengan maut. Dunia James rasa runtuh melihat kondisi Rena yang amat mengenaskan. Tangannya mengepal geram.


"Aku akan balas dendam dan buat perhitungan untuk mereka yang telah membuat gadisku terluka seperti ini!" desis James dengan berurai air mata.


"James... tak ada gunanya kita memikirkan mereka, sekarang pikirkan bagaimana nasib Rena selanjutnya," Sri menatap James dengan sendu.


Tittt-tittt!


Detak jantung Rena pada monitor semakin menurun. James semakin gusar. Sri menatap dengan tatapan khawatir.


"James! panggil Dokter!" teriak Sri saat melihat jantung Rena yang semakin melemah.


James serta merta berlari dan mencari ruangan Dokter untuk  meminta bantuan.


Dokter dan para perawat bergegas menemui Rena yang berada di ambang kematian.


Sri dan James menunggu di luar. Di satu sisi Anima berharap jika Rena bisa selamat, tapi di sisi lain tak dapat ia pungkiri, ia ingin Rena mat* agar James bisa jatuh hati dan jadi miliknya untuk selamanya.


Dokter keluar dari ruangan dengan wajah sayu begitu pun para perawat yang turut di belakangnya.


"Kita hanya bisa berharap mukjizat dari Sang Pencipta. Bekas tusukan terlampau banyak, saya sudah berusaha semampu mungkin," ucap Dokter sembari menepuk pelan pundak Sri dan melangkah pergi.


"Argghh!" James menjambak rambutnya frustasi. Ia merasa jadi orang paling bod*h di dunia. Bagaimana bisa ia melukai gadis yang selama ini mengisi hari-harinya?


Tap-tap-tap!


"Rena! bagaimana keadaan Rena, Sri?" suara lantang menggema berasal dari mamanya Rena yang berjarak beberapa meter dari Sri. Raut wajah khawatir terpancar di sana.


Sama seperti Sri, begitu James menjelaskan kondisi anaknya, tubuh wanita paruh baya itu limbung dan langsung tak sadarkan diri.


"Sri, kau bawa mamanya Rena ke ruangan lain. Aku akan mengurus Rena, Sri," perintah James dengan wajah datarnya.


"Kau mau apa, James?" ujar Sri curiga.


"Kau tak perlu tau. Yang harus kau tahu aku hanya ingin menyelamatkan Rena," jawab James dan melangkah masuk.


"Tunggu, Kak," tangan Anima mencengkeram lengan James, ia menghentikan langkahnya dan menatap Animasi heran.


"Kau pasti ingin memberinya darah abadi, 'kan?" terka Anima dengan wajah tak suka.


"Jika iya, memang kenapa? cuma itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan Rena," sergah James. Ia mulai merasa jengah dengan sikap Anima yang seperti tak suka.

__ADS_1


"Kalau Kakak memberikan darah itu, bagaimana pun caranya Rena harus menikah dengan Kakak. Atau dia bisa jadi gila," Anima masih bersikukuh melarang James untuk masuk.


Mereka hanya berdua di depan ruangan Rena, sedangkan Sri sudah membawa mamanya Rena bersama perawat lain untuk membantunya.


"Aku lebih memilih Rena jadi gil* daripada ia mat*! aku akan setia merawatnya. Lagi pula aku berniat untuk menikah dengannya. Walau pun ia menolak, aku akan berusaha membuatnya kembali cinta padaku," James berusaha melepaskan genggaman Anima di lengannya.


"Tapi, Rena tak suka wajah burukmu!" Anima tak menyerah begitu saja dan terus membuat mental James down. Ia tak ingin James menolong Rena, karena ia ingin memiliki James seutuhnya.


" Aku yakin cinta akan membuka mata hati Rena. Ia tak seharusnya terluka karena aku...,"


James meninggalkan Anima yang terpaku di depan pintu. Gadis itu menggigit bibir kesal.


Apa sih hebatnya Rena? dia bukan wanita solehah, dari wajah pun Anima berada di atasnya. Tidak lemah lembut dan terkesan matre. Namun, kenapa James sangat tergila-gila padanya?


"Akh!" Anima menghentak kakinya. Kalau sempat James memberi darah abadi, maka pupus sudah harapannya untuk bisa mendapatkan James.


James mendekati kekasihnya yang kini sedang berbaring dengan kondisi yang amat lemah di atas ranjang rumah sakit. Kakinya dingin seperti es baru dengan nafas satu-satu.


James tak dapat menahan air mata yang sejak tadi ingin tumpah. Ia meraih pelan tangan lemah itu dan mencium punggung tangan milik kekasihnya dengan penuh cinta.


"Maafkan aku, Sayang. Aku terpaksa melakukan ini,"


Srettt!


Tes-tes!


Darah James mulai menetes saat ia menggigit sendiri pergelangan tangannya.


Ia meraih tengkuk Rena pelan dan melepas alat pernapasan Rena. Meneteskan darah abadinya pada bibir Rena yang pucat.


Setelah memastikan Rena baik-baik saja, James melangkah keluar ruangan. Ia yakin Rena akan segera siuman.


"James...," lirih Sri saat melihat James keluar dari ruangan.


"Sri, Rena akan baik-baik saja. Maaf aku tak bisa tinggal, aku harus mengantar Anima pulang,"


Sri mengangguk pelan. Sedang Anima dengan senyum sumringah menyambut kedatangan James dan berjalan beriringan dengannya.


Sri menatap kepergian James dan Anima dengan gusar, sepertinya gadis itu amat menyukai James. Jika itu terjadi, bagaimana nasib Rena, sahabatnya?


****


TBC

__ADS_1


__ADS_2