SUAMI DARI ALAM LAIN

SUAMI DARI ALAM LAIN
part_13


__ADS_3

Assalamualaikum, jangan lupa like, subscribe dan komennya ya, semoga suka dengan cerita receh saya


Bismillah


"SUAMI DARI ALAM LAIN"


#part_13


#by: R.D.Lestari.


Duk!



"Awww!"



Tak sengaja kaki kananku di injak Kak Bima. Ia melotot ke arahku karena aku sejak tadi hanya melamun.



"Ada apa, In?" Ibu menatapku serius, seolah tau ada yang tak beres denganku.



"Ta--tak apa, Bu," sahutku pelan. Aku langsung merunduk dan berusaha mengambil makanan yang ada di hadapanku.


"Bima! kamu apain calon mantu Ibu!" seolah tau apa yang di lakukan Kak Bima, wajah Ibu berubah ketus dan menatap tajam ke arah nya.


"Uhuk... uhuk!" aku seketika terbatuk mendengar ucapan Ibu. Mantu? aku calon mantu?


"Maaf, Bu. Abis Indri sedari tadi cuma ngelamun aja, pasti di otaknya yang kecil itu bilang kalau kita ini hantu," Bima terkekeh dan menyindir diriku. Aku hanya diam karena memang pikiranku di lucuti kata 'hantu '.


"Oh, pantesan dari tadi Ibu lihat Indri ragu untuk makan masakan Ibu," Ibu tersenyum manis melihatku.



"Makanlah, In. Ibu tak mungkin meracunimu. Kali ini sama sepertimu, hanya ...," Ibu menghentikan ucapannya,kulihat ada raut keraguan di wajah cantiknya.


__ADS_1


"Jangan di bilangi dulu, Bu. Ia belum resmi jadi pacarku, nanti ia keburu takut," Bima menyela ucapan ibunya. Ibu hanya tersenyum simpul melihatku.



"Makanlah In, nanti kamu sakit kalau kelaparan. Setelah makan Bima akan mengajakmu kembali pulang ke rumah dengan selamat. Jangan lupa lihat temanmu, Rena. Berkat dirimu dia sekarang sudah dalam keadaan sehat," papar Ibu.



"Rena? Ibu tau tentang Rena?" tanyaku ragu.


"Ya, tentu saja. Karena barang yang di bawa Rena adalah barang mewah milik pejabat kami yang sengaja ditinggal. Beliau amat marah ketika kembali ke tempat persinggahan, barangnya sudah raib, itu sebabnya...,"


"Sudah Bu, jangan di ceritakan semua. Nanti misiku bisa gagal karena dia keburu takut," lagi-lagi Kak Bima menyela ucapan ibunya. Huh, menyebalkan!



Sebenarnya apa maksud Bima ini? kenapa sedikit-sedikit takut. Apa mereka memang han...


"Ckckck, udah di bilang kami ini bukan hantu, masih juga ngeyel," Bima melotot ke arahku.


Degh!


"Ayo, In. Sekarang sudah waktunya kamu pulang. Pasti orang tuamu sangat mengkhawatirkan keadaanmu," Bima tiba-tiba berdiri dari kursi ukirnya.



Kretttt!


Tanpa menunggu dua kali, aku pun langsung beranjak dan berpamitan kepada keluarga Kak Bima.


"Terima kasih jamuannya , Ibu, Ayah. Saya permisi pulang dulu," ucapku sembari sedikit membungkuk, menunjukkan rasa hormat untuk mereka.



"Sama-sama. Ibu tunggu kedatanganmu kembali, Nak," Ibu tersenyum padaku. Aku membalas senyuman itu dan tak lupa menyalami mereka.


***


Brummm!


__ADS_1


Laju mobil kali ini terbilang amat cepat. Bima sepertinya sangat terburu-buru. Aku yang sedari tadi duduk di kursi penumpang terkadang menahan napas saking takutnya. Anehnya, semua kendaraan yang berlalu lalang semua berasa dalam kecepatan amat tinggi, tapi tak ada satupun yang bertabrakan.



"In, apa kamu berani pulang sendiri?" Bima menatapku dengan pandangan ragu.



"Be--berani , lah," sahutku .



"Saat ini di duniamu hampir menjelang subuh dan kamu itu sudah seminggu hilang," jelas Bima.



"A--apa? kenapa bisa begitu?" bibirku bergetar mendengar penjelasan Bima. Tak masuk di akal.



"Kita berbeda dimensi, In. Tapi, tetap bisa bersama jika kamu mau," ia menatapku tajam. Aku yakin apa yang di katakan nya itu benar dan ini tidak main-main.



"Berbeda dimensi? berbeda alam? atau bagaimana? akh, kepalaku seketika pusing karena ucapannya. Terserahlah, yang penting aku bisa sampai rumah secepatnya .



Perjalanan pulang dan pergi amat sangat berbeda , jika pada saat kami pergi, hutan dan pepohonan sangat mendominasi, tapi kali ini tak ada hutan. Yang ada hanya tol dan jembatan serta laut yang amat luas.



Jalanan pun tak berbelok, tapi hanya lurus dan tak ada hambatan sedikit pun. Samar kulihat benda bulat seperti pusaran air yang amat besar membentang di hadapan kami. Seketika aku mencengkeram lengan Bima yang tampak fokus mengemudikan mobil lamborgini nya.



"Jangan takut, In. Itu adalah portal penghubung antara duniaku dan duniamu . Bersiaplah, akan ada hentakan kecil ketika melewatinya ," Bima berusaha menenangkan ku.



Pusaran itu semakin dekat. Aku menutup mataku karena takut hingga...

__ADS_1


__ADS_2