
Bismillah
SUAMI DARI ALAM LAIN
#part_118
#by: R.D.Lestari.
Semua memandang iri, terutama Anima. Gadis itu memandang tanpa berkedip. Kharisma James yang selain tampan, membuat hati Anima berdegup kencang. Ia merasakan getaran dalam hatinya hingga sulit bernafas.
Setelah makan malam usai, mereka berpisah. Indri dan keluarga pulang terlebih dahulu sedangkan James dan Rena juga Gio beserta Sri memilih menikmati suasana Restoran lebih lama.
"Ayok, ikut," Gio menarik pelan tangan Sri agar mengikutinya.
"Mau kemana?" tanya Sri heran, begitupun Rena.
"Udah, ikut aja," James pun menarik tangan Rena. Rena sedikit tersentak karena James yang tak sabaran.
"James! pelan-pelan!" omel Rena.
"Iya, Rena," James memperlambat langkahnya.
Saat berada di mobil, lagi-lagi James tak banyak bicara. Sesekali saja ia menanggapi ocehan Rena dan juga Sri.
Mobil melaju cukup kencang. Sri dan Rena terlihat amat menikmati suasana malam di Kota Uwentira. Sangat menakjubkan di taburi sinar lampu di manapun mata memandang.
Berkerlap-kerlip dengan berbagai warna.
Rena dan Sri seolah larut dalam pesonanya, hingga perubahan sikap James dan Gio tak mereka indahkan. Padahal sedari pergi wajah mereka menyimpan banyak rahasia.
"Kita mau ke mana, Gi? kenapa melewati hutan saat malam begini?" tanya Rena, ia terpaksa bertanya pada Gio karena sedari tadi James tak menggubris ucapannya.
"Kau tenang aja, Ren. Kami tak akan berbuat macam-macam pada kalian. Akan ada rahasia besar yang terungkap. Kuharap kalian bisa terima," ujar Gio dengan sedikit nada penekanan.
"Rahasia?"
"Ya, rahasia,"
James tampak semakin gusar. Pandangannya tak pernah lepas dari jalan sembari menggigit jarinya. Ia benar-benar frustasi. Semakin dekat dengan lokasi, semakin ia merasa deg-degan.
"James? kamu kenapa?" Rena tak dapat menyembunyikan rasa penasaran yang membuncah dalam hatinya.
__ADS_1
"Ah, aku tak apa. Nanti juga kamu tau jawabannya," sahut James tanpa ekspresi.
Rena yakin sekali ada yang tidak beres dengan James. Namun, ia tak ingin memperkeruh suasana. Cukuplah semua ada di dalam pikirannya.
"Sudahlah, Ren! jangan banyak bertanya. Isi otakmu semakin membuatku pusing!" sentak James yang membuat Rena beserta Sri dan Gio tercengang.
"Apa?"
"Sudahlah, James. Tahan emosimu. Kamu hanya akan memperkeruh suasana," Gio memukul pelan bahu James.
"Kakakmu kenapa, Pak Dosen? sungguh aneh, tadi ia baik, sekarang marah-marah!" Rena mencebik.
"Sabar, Ren... mungkin lagi PMS," Sri terkekeh.
"Ya, bisa jadi," Rena buang muka.
Sepanjang perjalanan Rena dan James saling terdiam. Sri dan Gio jadi salah tingkah. Berada dalam situasi yang tak nyaman.
Mobil akhirnya menepi di sebuah padang rumput luas dengan taburan bunga beraneka warna.
Di bawah pendar sinar bulan yang bersinar terang, dengan background bukit hijau dan pohon yang berjajar. Diapit danau yang airnya jernih dan juga tenang.
Sungguh panorama alam yang amat mempesona. James perlahan mendekati Rena yang masih dalam keadaan marah dan kesal. Sedangkan Gio dan Sri sudah terlebih dahulu bermain dan berlarian kecil ke tengah padang rumput.
"Ayo, turun, Ren. Aku mau menunjukkan sesuatu padamu," James mengulurkan tangannya, tapi Rena menepisnya.
"Aku tak tau apa yang terjadi padamu hari ini, James! aku hanya tau kau sekarang menyimpan banyak rahasia," ketus Rena.
James menghela nafas dalam. Ia semakin mengurai jarak dan membiarkan Rena turun dengan amarahnya.
Berbeda dengan Gio yang nampak biasa, karena Gio yakin akan cinta Sri padanya. Ia amat yakin Sri bisa menerima keadaannya, termasuk dengan wujud aslinya.
Gio dan James membawa para gadisnya ke tengah padang rumput. Gio berhadapan dengan Sri dan James berdiri di depan Rena.
"Nah...Sri, Rena, kami akan menunjukkan sesuatu pada kalian. Kami harap apapun yang terjadi kalian jangan sampai melarikan diri. Cukup katakan ya atau tidak. Itu sudah cukup," titah Gio.
Sri dan Rena saling berpandangan, tapi sejurus kemudian mereka mengangguk serentak.
Gio dan James terdiam beberapa saat. Mereka membuka jas juga kemeja yang dikenakan dan melemparnya ke sembarang arah.
Awalnya Sri dan Rena terpukau melihat tubuh atletis dua pemuda tampan di hadapannya.
__ADS_1
Namun, detik berikutnya berubah menjadi sangat mencekam. Sembari menutup mata, kulit yang putih menjadi lebih gelap. Mereka berteriak. Dari balik bibirnya mencuat taring yang tajam . Matanya menyala merah. Tubuh Gio dan James yang awalnya kecil berangsur membesar dengan otot yang mencuat keluar. Kuku tajam bak pisau menambah kesan menyeramkan. Di punggungnya mengepak sayap hitam yang lebar dengan tanduk yang menghiasi kepala mereka.
Sri dan Rena terdiam dengan tubuh yang gemetaran. Mereka ketakutan dan merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Sri... inilah wujud asliku, maukah kamu menerima diriku apa adanya? setidaknya aku tidak membohongimu," ucap makhluk jelmaan Gio lirih.
Tangan Sri gemetar, tapi ia tetap mendekat ke arah Gio yang sudah berubah menjadi monster. Dengan susah payah Sri menelan ludah, tapi keyakinan dalam hatinya menepis perasaan takut yang merajai pikirannya.
Perlahan jemarinya bermain di wajah Gio yang menghitam dengan mata merah seperti darah.
"I...inikah wujud aslimu, Pak Dosen? ternyata jelek sekali, ya!" Sri berusaha menyunggingkan senyum walau terasa berat. Ia mencoba melemparkan candaan pada Gio untuk mencairkan suasana.
"Ya, itu benar, Sayangku. Semua warga Uwentira itu aslinya ya begini, tapi soal hati, tetap mulus dan cantik," Gio melingkarkan tangannya di pinggang Sri dan menariknya pelan dalam pelukannya.
Perlahan Sri mulai tenang dan bisa menerima wujud Gio yang mengerikan. Ia malah nyaman dan menyandarkan kepalanya di dada Gio yang ototnya mencuat keluar.
"Pak Dosen, kamu tampak keren dengan wujud seperti ini. Ternyata kamu seram di balik wajah manis dan tampanmu itu,"
"Benarkah? ini sebuah pujian atau hinaan, Nona Sri yang cantik?" Jari telunjuk Gio bermain dihidung minimalis milik Sri.
"Terserah Pak Dosen saja," Sri membenamkan wajahnya di dada Gio, dan ia memeluk pacarnya itu dengan penuh cinta.
Bagaimana dengan Rena?
Gadis itu mundur perlahan saat James dalam wujud aslinya mendekat. Ia begitu shock dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Rena ...," lirih James. Mata merah James berembun. Benar dugaannya, Rena pasti takut dengan wujud aslinya. Ia sudah merasakan itu sedari awal.
"Ja... jangan mendekat! kau bukan James! pacarku tak mungkin mengerikan seperti ini!" Rena melangkah mundur dengan kaki yang gemetar.
"Aku James, Ren! ini hanya sementara. Aku akan kembali tampan seperti semula. Aku hanya tidak ingin berdusta, Rena!" James berusaha menyentuh Rena, tapi tangannya segera ditepis gadis itu kuat.
"Rena...,"
"Jangan sentuh aku! aku ingin pulang sekarang juga!" air mata Rena menganak sungai.
Hati James sakit melihat penolakan Rena, begitupun Sri dan juga Gio. Sri melepaskan pelukannya dan berlari mendekati Rena yang masih histeris.
"Rena ...,"
"Aku ingin pulang Sri, pulang!"
__ADS_1
"Rena ...,"
****